"Bang... Sini duduk..." Teriak Hawa saat melihat Arion dan Manda mulai turun dari kamar nya di lantai 2.
Melihat Hawa ceria, Arion memberi kode pada Manda, seolah sedang mempertanyakan apa yang terjadi pada sang adik. Akan tetapi, Manda yang juga tak tahu apa penyebab Hawa segembira itu, hanya bisa menghentakkan bahunya sambil tersenyum.
"Ada apa?" Tanya Arion datar, saat matanya melihat Arjuna ada di sekitaran sang adik. Laki-laki itu masih setengah hati untuk memberi restu Arjuna menikahi adiknya.
"Issshhh... Kenapa sih Abang itu gak bisa damai aja sama Mas Juna? Heran adek, prasaan Mas Juna gak ngapa-ngapain Abang deh" Ocehan Hawa hanya di tanggapi Arion dengan mata malas.
"Udah biarin aja, adek kayak gak tau Abang aja deh" Pembelaan Maya akan sikap sang kakak membuat Hawa mencebik "iya deh, yang jadi anak kesayangan Mami" Jawab Hawa setengah mengejek.
Arion hanya menggelengkan kepalanya sambil menarik kursi, mempersilahkan Manda duduk terlebih dahulu, baru dirinya setelah nya "jadi ada apa?" Tanya Arion kembali mengulang pertanyaan nya yang belum di jawab juga oleh Hawa.
Hawa mengangsurkan map bergambar salah satu nama travel terkenal di kota mereka.
"Maksudnya?" Tanya Arion tak mengerti. Di dalamnya berisi nota pembayaran perjalanan ibadah dengan harga cukup mahal.
"Hadiah dari Papi sama Mami" Jawaban Maya membuat Arion semakin mengerutkan keningnya.
"Ini hadiah buat adek kan? Apa hubungannya sama Abang, Mi?"
Hampir saja Hawa menumpahkan emosinya pada Arion kalau saja tidak Arjuna tahan.
Pemandangan Arjuna yang menggenggam tangan sang adik terlihat dari ekor mata Arion. Hatinya yang memang belum sepenuhnya mendukung hubungan keduanya hanya bisa mendengus kesal melihat sok romantisnya adik iparnya tersebut.
"Bukan cuma buat adek, itu buat Abang sama Manda juga. Kalian berempat yang akan berangkat umroh"
Penjelasan Maya membuat Arion saling pandang dengan Manda "maksud Mami kita harus ngawal pengantin baru ini?" Ucap Arion.
"Yang pengantin baru siapa sih? Orang udah nikah enam bulan juga"
"Ya kan tetep aja masih baru, gak kayak Abang sama Manda yang sudah lebih dari satu tahun"
Perdebatan Arion dan Hawa membuat Adit yang sejak tadi diam, mulai angkat suara "ya udah sih ngapain diributin. Yang penting kalian berempat berangkat"
"Berempat?" Cicit Arion, yang tak mendapat tanggapan apapun dari orang-orang di meja makan itu.
Rasanya sudah terlalu lelah untuk Maya, Adit, Manda bahkan Hawa sendiri menasehati Arion agar bisa bersikap lebih lembut pad Arjuna. Laki-laki itu memang tak berniat untuk bersikap baik pada adik ipar nya. Dan seolah menutup mata akan kemajuan hubungan Hawa dan Arjuna.
"Tapi gak bisa mendadak loh Mi. Kerjaan Abang lagi banyak-banyaknya. Lagian Manda kan baru kerja di tempat baru, masak iya harus langsung ambil cuti lama, ya gak, Sayang?" Manda tersenyum sebelum akhirnya menjawab "nanti aku bisa ngajuin cuti Mas. Rencananya kapan Mi?" Tak mendapat jawaban yang di mau membuat Arion semakin mendengus kesal.
Penolakan nya akan umroh bukan tanpa alasan. Interaksinya dengan Arjuna yang masih tak luwes lah, yang menjadi alasan Arion enggan berpergian bersama suami adiknya tersebut.
"Ya sudah Abang bisa nya kapan?" Mendapat pertanyaan itu dari Maya, Arion hanya bisa menghela nafasnya berkali-kali. Ia rasa dirinya memang tak alasan untuk mengelak dari rencana yang sudah Adit dan Maya susun.
"Nanti Abang tanya Kevin dulu"
Maya mengangguk, lalu pandangannya beralih pada Arjuna dan anak bungsu nya "adek aman lah ya? Kalau Juna gimana?"
Arjuna diam sesaat sebelum akhirnya menjawab "Saya bisa kapan aja, Tante, kebetulan kerjaan saya selesai deket-deket ini"
Maya tersenyum. Senyuman ibu mertua nya itu tak luput dari pengelihatan Arjuna. Rasanya ada ribuan kupu-kupu berterbangan di perutnya. Ini mimpinya, diterima dengan baik oleh Maya, sejak ia dan Hawa memutuskan untuk mencoba hubungan mereka meskipun belum ada cinta di antara mereka.
"Panggil saya, Mami sama seperti adek" Permintaan Maya itu, membuat Adit turut tersenyum.
Sejujurnya, sebagai kepala keluarga Adit pun meragukan Arjuna, bahkan dipertemuan pertama mereka. Ia bahkan membenci dirinya sendiri, saat Adit tahu Arjuna berada di dalam kamar hotel anak perempuan nya dalam keadaan mabuk. Sifat yang sama Adit punya di awal pernikahannya dengan Maya. Adit sempat berpikir, Hawa lah yang mendapat karma atas apa yang telah ia lakukan di masa lalu.
Beruntung nya, menantu laki-laki itu membuktikan bahwa ia tak seperti yang Adit pikirkan. Arjuna datang sesuai janjinya pada si bungsu. Laki-laki itu rela meninggalkan jabatan strategis nya di kantor pusat perusahaan keluarga Sutoyo, demi berkumpul dengan Hawa.
Belum lagi, laki-laki itu mau hidup bersama dengan keluarga nya. Arjuna bahkan membeli rumah tepat di samping rumah Adit sebagai wujud keseriusannya walaupun Adit masih melihat kekakuan di hubungan nya dengan Hawa. Baginya, semua butuh proses dan Adit menghargai proses itu.
"Iya Tan... Eh Mami" Tepat si sebelahnya Hawa tersenyum lebar. Seolah merayakan penerimaan yang Maya berikan.
Hal itu jelas berbanding terbalik dengan keadaan Arion. Laki-laki itu mengerutkan keningnya saat sikap Maya berubah drastis pada Arjuna.
"Ehmmm... Abang harus ke kantor" Ujar Arion mulai beranjak.
Seluruh orang di meja makan itu, bukan tidak mengerti alasan Arion ingin pergi lebih dulu. Mereka hanya diam, mencoba mengerti dan memberi waktu agar Arion melihat dengan sendirinya bagaimana Arjuna memperlakukan Hawa meskipun perasaan keduanya belum tumbuh sebesar perasaan Arion dan Manda.
Setelah kepergian Arion dan Manda, suasana meja makan berbeda "jangan dimasukkan hati" Meski tak menyebut untuk siapa, semua orang di meja makan tahu bahwa kata-kata itu tertuju untuk Arjuna.
"Adek masih belum ngerti alasan Abang selalu begitu sama Mas Juna apa Pi" Mendengar nada yang Hawa gunakan, Arjuna tahu bahwa istrinya itu mulai emosi, yang Arjuna lakukan hanya bisa mengusap pelan lengan Hawa. Ia tak ingin buka suara sedikitpun, yang berpotensi membuat sang istri semakin meradang.
"Adek kayak gak ngerti Abang aja. Kan setiap ada laki-laki yang deketin adek, Abang bakalan kayak gitu" Jawab Maya menenangkan.
"Tapi kan Mi..."
"Sudah biarkan, saya gak papa dek" Adit yang mendengar Arjuna berbicara baku dengan anak bungsunya menahan mati-matian tawanya agar tak pecah.
"Astaga Juna... Ini serius kamu kalau ngobrol sama istri mu se formal ini?" Tanya Maya tanpa sungkan.
"Emang kenapa Tan, eh Mi..."
"Ajarin deh Mas, ne bocah biar bisa santai. Masak iya dia ngobrol sama adek pakek 'saya'. Kaku banget loh"
Tawa Adit akhirnya pecah, ia tak bisa menahan nya "Mas harus gimana coba kalau setelan dari sono nya udah kaku gitu"
"Ihhh malah gosipin suami adek. Gak jelas banget Papi sama Mami ini"
"Ciee... Suami konon"
23112025
Borahe 💜
KAMU SEDANG MEMBACA
KARUNA
RomanceAwal nya tak pernah kenal sebelumnya, tak pula di jodohkan, keinginan menikah pun tak pernah terbesit, namun tiba-tiba hati Arion tergerak untuk menikahi sahabat adiknya itu.. Sayangnya, rencana untuk menikahnya tidak sesuai dengan kemauannya. Detik...
