Arion hanya bisa menatap tubuh Manda di ranjang Rumah Sakit milik sang ibu. Istrinya pingsan. Selang infus dan oksigen terlihat menempel pada tubuh Manda. Raut khawatir Arion sejak tadi tak kunjung sirna. Laki-laki itu bahkan masih duduk tegap seolah sedang dalam proses pengadilan.
"Manda pasti baik-baik saja" kata penghiburan yang Maya berikan pada anak sulung nya, tak mendapat respon apapun. Arion teramat takut dan itu bisa Maya maklumi.
Kematian Alif, lalu di susul dengan kematian Nenek Iroh dan yang terakhir kematian Adit, tentu akan menjadi luka tersendiri bagi Arion.
Tak peduli sebanyak apa angin segar yang diberikan dokter padanya saat memberitahu keadaan Manda , selama ia belum melihat Manda membuka matanya, bagi Arion kekhawatiran nya valid.
"Mi... Apa kita tunda umroh nya?" Ucap Arion tiba-tiba.
Padahal sejak beberapa saat lalu, Arion lah yang paling semangat untuk menyusun rencana ibadah besar mereka. Tapi karena kejadian hari ini, Arion lebih memilih untuk mengesampingkan keinginannya itu sebab keadaan Manda yang belum pasti.
"Iya, kita batalkan saja" Maya hanya bisa mengelus pelan pundak Arion yang kaku. Ia yang teramat tahu bagaimana sifat anak sulung nya, dengan rela menuruti keinginan tersebut. Bukan karena tak ingin menjejakkan kaki di Mekkah namun karena perasaan dukanya yang belum hilang.
Kehilangan Adit membuat separuh dunia Maya kembali sunyi. Ia tak lagi punya teman bercerita dan berdebat. Kamarnya bahkan berubah menjadi temaram meski disana masih banyak jejak Adit tertinggal. Sisi tempat tidurnya bahkan sudah terasa dingin padahal Adit baru empat bulan pergi.
"Abang berharap semuanya benar, Mi" ada harapan yang coba Arion gantungkan pada tubuh lelap sang istri.
"Aamiin, semoga ya Bang"
Tak selang lama dari obrolan ibu dan anak itu, Arion melihat kelopak mata Manda mulai bergerak. Mata bening Manda yang sepenuhnya sudah terbuka, membuat Arion seketika mendekat pada tubuh lemas istrinya "ada yang sakit, Sayang?" Tanya Arion masih tetap khawatir.
Manda menggeleng. Ia tersenyum sebelum akhirnya berbicara terbata "Aku tadi pusing Mas.."
"Sekarang masih, Nak?" Tanya Maya.
"Sudah enggak kok Mami. Maaf ya, bikin Mami khawatir"Maya hanya tersenyum sambil mengelus pelan lengan Manda yang paling dekat dengannya.
"Sayang... Mas mau tanya boleh?" Nada serius yang Arion gunakan membuat Manda menganggukkan kepalanya "kamu terakhir haid kapan?"
Pertanyaan Arion membuat Manda menatap dalam mata suaminya. Hati kecilnya sendu saat ia tahu maksud pertanyaan sang suami. Pingsannya pasti akan Arion hubungkan dengan kehamilan yang selama ini sedang mereka tunggu.
"Sepertinya haid ku kali ini mundur lagi, Mas. Aku terlalu stres karena meninggalnya Papi" cicit Manda tak enak.
Ini bukan kali pertamanya siklus kewanitaan nya mundur dan Arion tahu akan hal itu. Kalau di masa lalu harapan akan datangnya keturunan menjadi doa utama nya, kali ini Manda tak ingin memberi harapan palsu pada Arion dan Maya. Sebab, kecewa karena apa yang teramat sangat diimpikan itu lebih sakit ketimbang kecewa karena kenyataan yang ada.
Arion mengangguk. Ia tak lagi berkomentar akan hal itu. Maya pun hanya bisa diam. Ia tahu bukan ranah manusia untuk memprediksi kapan kehamilan pada diri wanita akan terjadi.
"Maaf ya, Mas, Mi..." sudut mata Manda mulai mengembun.
Kehidupan pernikahannya dengan Arion berjalan hampir tujuh tahun dan sampai saat ini mereka masih diberi waktu untuk saling mengenal satu sama lain. Allah masih menyiapkan waktu yang tepat untuk keduanya agar siap menjadi orang tua dengan versi terbaik mereka.
KAMU SEDANG MEMBACA
KARUNA
RomanceAwal nya tak pernah kenal sebelumnya, tak pula di jodohkan, keinginan menikah pun tak pernah terbesit, namun tiba-tiba hati Arion tergerak untuk menikahi sahabat adiknya itu.. Sayangnya, rencana untuk menikahnya tidak sesuai dengan kemauannya. Detik...
