Dua Puluh Dua

708 50 5
                                        

Mengambil selangkah mundur, Arion rasa tak ada salahnya, apabila setelahnya ia dapat mulus meloncat langsung dua langkah.

Tak ada strategi khusus untuk membuat Manda melihat ke arahnya, Arion hanya sedang memberi waktu perempuan itu untuk merenungi apa yang sudah terjadi dan apa yang harus mereka lakukan dalam ikatan yang tidak di buat main-main ini.

Dengan trauma nya akan pernikahan, tentu membuat Arion berharap ini merupakan pernikahan pertama dan terakhirnya. Tak peduli bagaimana nanti ombaknya dan prosesnya yang jelas komitmen nya harus tetap dijaga bersama.

Dan hal itu lah yang akhirnya membuat Arion mengambil keputusan besar saat seluruh rangkaian pernikahan nya selesai yaitu dengan  berpisah rumah sementara.

Ya, Arion pulang ke rumah orang tuanya dan membiarkan Manda tetap berada di rumahnya sendiri bersama Hawa.

Hal yang tak biasa itu mau tak mau Arion lakukan untuk memberi jeda dan menyusun strategi sebelum akhirnya ia akan berjuang secara ugal-ugalan mempertanggungjawabkan apa yang sudah ia putuskan. Sebagai pembisnis, tentu trik ini adalah trik yang biasa di gunakan untuk memenangkan tender proyek, coba ia terapkan pada rumah tatangganya

Tentu, keputusan nya tersebut mendapat penolakan dari berbagai pihak meskipun Manda sendiri tak keberatan akan hal itu. Ya, perempuan itu sepertinya hanya ingin di selamatkan nama baiknya saja tanpa memikirkan perasaan Arion sedikit pun yang menjadi pengantin pengganti untuk menyelamatkan nya.

"Menikah itu bukan hanya tentang malam pertama Mi. Abang baru aja sampai loh, sudah di suguhi acara yang gak ada habisnya. Kasian Manda kalau cuma nemenin Abang tidur aja, nanti dia yang ada dia gak nyaman jadi biarkan malam ini Abang tidur di kamar Abang sendiri ya" Arion tahu penjelasan sia-sia untuk Maya dan seluruh keluarganya, namun karena tak ingin semakin membuat Manda dan dirinya semakin tidak nyaman, Arion benar-benar harus pulang.

"Mami bener-bener gak habis pikir sama kamu Abang" Ujar Maya lemas. Tubuh dan pikirannya sudah banyak terkuras karena pernikahan. Oleh karenanya, karena tak ingin perdebatan mereka semakin melebar akhirnya Maya menyetujui hal itu dengan syarat Manda tak keberatan dengan keputusan yang Arion buat.

"Manda aman Tante" Jawab Manda ketika ia ditanya tentang Arion yang ingin pisah rumah untuk beberapa saat.

Maya melebarkan mata nya ketika telinganya masih mendengar Manda dengan sebutan tante. Dengan bengis perempuan dua anak itu memberikan perintah mutlak pada menantunya "No! Manda jangan pernah panggil Mami dengan sebutan Tante lagi, kamu sudah jadi anak saya, jadi kamu juga harus manggil saya Mami sama seperti Arion sama Hawa, paham?"

"Iya Tan.. Eh Mami maksudnya" Jawab Manda sedikit gugup.

Sebagai anak yatim piatu yang hanya di besarkan oleh sang nenek, Manda merasakan haru ketika ada orang lain yang akhirnya memperlakukan nya sama seperti caranya  memperlakukan anaknya sendiri. Ternyata pernikahan nya tak hanya membuatnya mempunyai sosok laki-laki yang bisa menggantikan posisi Alif saja tapi ia juga menemukan orang tua baru, lengkap dengan keluarga besar.

"Jangan bikin istri Arion tertekan Mi" Ucapan Arion tersebut membuat seluruh keluarga yang masih berada di dekat mereka diam sejenak.

Setelah 'ya zaujati' kini Arion hadir dengan panggilan 'istri Arion'. Membuat Manda harus menekuk kepalanya dalam-dalam dengan sebutan baru yang disematkan Arion padanya.
Dan parahnya, seakan tak mengerti kesalahannya, Arion dengan entengnya pamit dan mulai masuk ke dalam mobil yang sudah menunggunya sejak tadi tanpa berpamitan dengan Manda.

Lalu panggilannya tadi bagaimana?
Tak berarti apa-apa kah untuk laki-laki itu?
Atau hanya sekedar mengingatkan dimana posisi Manda saat ini?
Atau hanya memberikan shock terapi pada Manda agar tak protes dengan apapun yang Arion lakukan?
Tak ada yang tahu karena Arion meninggalkan banyak tanda tanya di kepala Manda.

Eh, tak hanya Manda ternyata, ada Hawa yang juga tak mengerti dengan sikap sang kakak, yang bisa di bilang acuh terhadap pernikahan ini. Padahal semua dilakukan dengan persetujuan kakaknya itu, lalu apa pantas saat ini kalau kakaknya malah bersikap semena-mena terhadap istrinya?

Sebagai perempuan yang hanya beberapa jam merasakan bagaimana nikmatnya mempunyai suami, jelas membuat Hawa memandang marah Arion. Kalau dulu ia masih ingin merasakan kasih sayang suami tapi suaminya meninggal, bukankah Arion harus bersyukur bahwa mereka masih di berikan nikmat untuk merasakan indahnya rumah tangga?

Semua spekulasi itu membuat Hawa menatap Manda dengan tatapan kasian. Tak hanya harus di khianati, sahabat nya itu harus berakhir dengan menikah dengan orang sama sekali tak pernah ia pikirkan sebelumnya meskipun ibunya pernah meminta nya untuk menjadi salah satu anaknya.

"Are you oke?" Tanya Hawa begitu ia masuk ke dalam kamar Manda yang penuh dengan hiasan bunga-bunga. Melihat itu Hawa hanya bisa mendesah pelan. Sudah di pastikan nanti malam Manda akan melalui malam yang panjang dengan pikiran yang penuh.

"Aku oke kok" Jawab Manda pelan.

"Dengan pernikahan seperti ini?"

"Memangnya kenapa pernikahan ku? Sah kan?" Tanya Manda balik.

Hawa langsung membanting tubuhnya pada kasur yang tengah Manda duduki itu "ganti sono baju mu. Gak berat apa pakek baju kek begitu" Pinta Hawa.

Manda hanya mengangguk lalu duduk di kursi meja rias nya. Ia mengamati setiap inci wajahnya yang terlihat berbeda dari biasanya karena tertutup make up tebal. Di lepasnya perlahan kain putih kecil yang sejak tadi menutup wajahnya dari hidung ke bawah.

Wajah yang berbeda yang Manda tatap saat ini, harus kah menjadi wajah yang ia tampakkan pada Arion setiap harinya?
Atau wajah ini lah yang harus Manda singkirkan apabila sedang bersama Arion?
Lagi-lagi tak ada jawaban apapun untuk semua pertanyaan itu. Hanya bisa mengikuti semua alur seperti air yang mengalir, meski tak pernah tahu alur seperti apa yang akan membawanya sampai muara.

"Kenapa? Ada yang salah? Atau yang perlu di komplain dengan make up mu kali ini?" Tanya Hawa yang sejak tadi mengamati Manda yang tampak bingung di depan kaca.

"Enggak, bagus kok. Cuma aku gak tau kalau aku bakalan se berubah ini" Sebuah pernyataan yang seperti nya lebih mengarah pada diri Manda sendiri. Ini bukan lagi tentang make up yang ia gunakan tapi lebih pada ke dirinya sendiri.

"Bukannya memang semua pasti berubah? Manusia akan berubah karena dua hal. Satu karena kesadaranny meningkat dan satu lagi jika karena hatinya hancur. Dan kamu punya dua alasan itu sekaligus Manda"

"Lalu aku harus bagaimana?"

"Apa alasan mu mau menikah dengan Abang?"

"Karena hanya Abang mu yang bisa nolong aku kan?"

"Ya sudah gantungkan hidup mu sama Abang"

"Mana bisa begitu, manusia gak boleh bergantung pada manusia lainnya"

"Aku gak nyuruh kamu untuk bergantung sepenuhnya sama Abang, cukup kamu nganggap Abang ada dan menempatkan diri pada posisi yang semestinya"

"Maksud mu menjalani pernikahan seperti pasangan lainnya?"

"Memang pasangan lainnya seperti apa?"

"Kenapa dari tadi kamu membalikkan pertanyaan ku terus sih" Omel Manda kesal.

"Kan aku bertanya"

"Ya pasangan normal itu, seperti tinggal bersama dan lain-lain"

"Nah lakukan itu lebih dulu"

"Harus aku? Bukan Abang mu?"

"Bukannya tadi Abang sudah memulai? Ya zaujati? Istri Arion?"

"Terus aku harus bagaimana membalasnya? Memanggilnya 'sayang' begitu?"

"Senyaman kamu aja mau manggil saya apa" Jawab suara lelaki tiba-tiba dari ponsel pintar Hawa, membuat bulu kuduk Manda meremang seketik, terlebih ia sangat tahu suara siapa itu. Suara lelaki yang beberapa jam lalu resmi menjadi suaminya, Arshaka Arion Wardhana.

.
.
.

28012024

Borahe 💙

KARUNATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang