Enam Puluh Dua

181 12 0
                                        

Sepeninggal Hawa, Manda dan Arion hanya bisa duduk bersebelahan dengan sunyi. Tak ada kata yang terucap, namun kedua tangan mereka saling tertaut, seolah lewat genggaman tangan itu keduanya saling berbicara dan menyalurkan rasa sesak yang ada.

Hawa melihat Alif di antara banyak kerumunan orang yang sedang tawaf saja sudah membuat Manda sesak. Di tambah kabar gembira akan kemungkinan Hawa sedang berbadan dua, semakin menambah sesak dada Manda.

Bukan tak turut bahagia atas kabar baik itu, hanya saja hatinya akhirnya mempertanyakan kapan dirinya akan mendapatkan kesempatan yang sama dengan sang adik ipar.

"Mas...." Tanya Manda tanpa mengalihkan pandangannya pada Ka'bah yang terlihat dari jendela kamar mereka.

"Hmmm"

"Aku juga ingin hamil..." Keinginan Manda itu di barengi dengan air mata yang kembali membasahi pipi nya, serta adanya rengkuhan hangat dari Arion.

Akhirnya, perempuan itu jujur pada Arion bahwa ia juga ingin merasakan mengandung. Meski pernikahan mereka baru seumur jagung, namun tetap saja, hati Manda ingin segera ada nyawa lain yang tumbuh di dalam perut nya.

"Hawa dengan pernikahan yang begitu saja sama Allah diberi langsung keturunan, kenapa kita enggak, Mas?"

"Astaghfirullah Sayang, gak boleh ngomong gitu. Kita lagi di tanah suci. Kenapa gak kita minta sama Allah aja sekarang? Jangan ngomong kayak gitu" Ucap Arion panik.

"Aku pingin hamil, Mas... Pingin" Manda semakin tergugu begitu Arion dengan gencar membisikkan istighfar di telinga kanannya.

Tak jauh berbeda dengan keadaan Manda, Arion pun sudah menangis. Keinginan Manda itu adalah apa yang ia ingin juga, namun untuk berburuk sangka pada Allah di tempat suci ini, jelas bukan opsi baik. Sebab disini, apa yang kita ucap dan pikirkan, hampir semua diijabah oleh Allah.

"Besok kita ke Multazam ya. Kita berdoa disana. Kita pasrahkan semuanya pada Allah. Kita gak perlu takut apapun, Sayang. Ingat kita punya Penulis skenario Terbaik" Arion terpaksa mengesampingkan hatinya yang juga turut sedih.

Kali ini, tugasnya menjadi pelindung dan pemberi nyaman untuk Manda sedang ia jalankan.

"Semua ada porsinya masing-masing, Sayang. Kita yang sudah sedekat ini, di uji dengan belum ada keturunan. Sedang adek, diberi hadiah keturunan karena pernikahannya belum sedekat kita. Mungkin Allah ingin anak yang dikandung adek itu nantinya yang akan mendekatkan Mama Papa nya kelak jadi pengerat mereka"

Itu bukan hanya kalimat penghiburan dari Arion untuk Manda, tapi juga doa yang sedang diam-diam ucapkan sejak tadi ia tahu kemungkinan sang adik hamil.

Arion bahkan turut mendoakan agar Allah segera membolak-balikan hati Arjuna untuk lebih condong pada Hawa. Memperlakukan Hawa dengan baik, layaknya seorang suami yang sayang dan cinta pada istrinya sebab membayangkan Hawa harus kembali menjanda dengan kondisi hamil, pasti Arion tak akan tega. Ia lebih memilih untuk memberikan restu pada pernikahan sang adik daripada harus kembali menyaksikan adiknya sendiri saat berbadan dua.

Tak hanya itu saja. Arion bahkan sudah menyusun rencana untuk mengirim kata-kata untuk mengamati tiap gerak-gerik Arjuna sepulangnya dari tanah suci. Bukan tak percaya pada Arjuna, hanya saja Arion merasa perlu tahu alasan apa yang membuat Arjuna tak memperjuangkan rumah tangga nya dengan Hawa. Laki-laki itu tergolong pasif dan tak mengusahakan pernikahan mereka.

Arion akan mengerti apabila ia melihat dari sisi Hawa. Kehilangan orang yang tersayang, pasti akan selalu menjadi luka sendiri. Saat luka yang Hawa terima belum sembuh, Allah malah mentakdirkan dirinya menikah mendadak dengan Arjuna. Walaupun Hawa mempunyai alasan yang jelas akan ketidakdekatan mereka tapi Arion juga tidak ingin sang adik mempermainkan pernikahan nya sendiri.

"Nanti kalau Arjuna gak ingin anaknya, kita yang rawat ya Mas"

Keinginan Manda hanya di tanggapi Arion dengan desahan berat "kami juga ingin porsi bahagia kami, Ya Allah"

Porsi yang diminta Arion jelas bukan porsi yang sedang Hawa dan Arjuna maksud. Karena keduanya sedang sibuk dengan hati masing-masing.

Hawa yang sejak tadi sudah masuk ke dalam kamar hotel mereka, memilih duduk di ruang tamu kamar nya, ketimbang mendatangi Arjuna yang belum beranjak dari jendela besar yang memperlihatkan pemandangan Ka'bah di siang hari. Mereka saling tak menyadari bahwa mereka berdua berada dalam satu tempat yang sama.

Arjuna sedang berkomunikasi dengan seseorang, yang belakangan Hawa tahu itu ada Aris Sutoyo, saat Hawa masuk ke dalam kamar mereka.

Kala itu, Hawa bisa dengan jelas mendengar ucapan Arjuna pada Aris yang akhirnya menjadi penyebab dirinya tak mendekat pada Arjuna atau memberitahu kemungkinan apa kata dokter di Rumah Sakit tadi.

"Sejak kapan Juna dibutuhkan disana, Pa?! Selama ini Papa gak pernah melihat Juna sedikitpun tapi kenapa saat Bang Yudis berulah selalu Juna yang harus dijadikan tameng. Setidak berharga itu kah Juna di depan Papa dan Mama?!" Ucapan lirih dan penuh penekanan Arjuna itulah yang akhirnya membuat Hawa memutuskan untuk mengurungkan langkahnya mendekat pada sang suami.

Entah apa yang terjadi pada keluarga suaminya, yang jelas Hawa bisa merasakan emosi ditiap kata yang Arjuna utarakan.

"Kamu berani membantah Papa!! Sadar Juna, semua yang kamu dapatkan sekarang itu karena fasilitas dari Papa!! Tunjukkan rasa terima kasih mu!!"

"Fine!! Juna akan bantu tapi kita cari jalan keluar yang lain!!" Ucap Arjuna dengan emosi tertahan.

"Kamu mau, Papa membongkar identitas istri mu ke publik?! Papa sudah berbaik hati mengikuti kemauan mu dengan mengulur waktu sampai Retha siap, tapi apa, ini yang Papa dapatkan?! Kamu semakin seenaknya sendiri!!"

Entah apa yang saat itu Aris ucapkan pada Arjuna, yang jelas Hawa bisa melihat Arjuna memukulkan tangannya pada kaca tebal jendela di depannya.

Dengan sedikit mengeram Arjuna berkata "jangan pernah bawa Retha dalam masalah kita ya Pa!! Kalau Papa masih main-main dengan membawa istri Juna, Juna bisa nekat ngehancurin perusahaan yang Papa bangun itu"

Klik. Sambungan di putus sepihak oleh Arjuna.

Setelahnya Hawa bisa mendengar laki-laki itu beristighfar berkali-kali.

Punggung lebar yang biasanya terlihat dingin itu, kini terlihat luruh. Seakan beban yang sedang Arjuna pikul terlalu berat untuk tubuh manusia nya.

Apa yang terjadi?
Kenapa namanya di sebut dalam pembicaraan sang suami dan mertuanya?

Semua yang didengarnya siang itu, mengingatkan Hawa akan pembicaraan mereka sesaat setelah Arjuna datang ke rumah Adit kala itu.

Arjuna memang pernah mengatakan akan membuka identitas nya ke publik, namun sampai saat ini tak ada satupun berita yang mencantumkan namanya. Ia bahkan masih bisa hidup tenang, tanpa namanya di kaitkan dengan keluarga sang suami.

Apa ini semua berhubungan dengan pembicaraan Arjuna dengan Aris beberapa saat lalu? Ataukah ia memang sengaja di sembunyikan karena sang suami sedang menjaga hati perempuan lain?

Tak ada jawaban yang pasti, kecuali Arjuna sendiri yang membuka dirinya. Sedang untuk di tahap itu Hawa sedikit ragu. Tembok masing-masing dari mereka belum roboh. Lalu bagaimana cara mereka masuk ke dalam hati masing-masing? Sedang kemungkinan ada manusia lain yang tumbuh di dalam perut Hawa saat ini.

"Kalau kamu memang sedang tumbuh di rahim Mama, semoga hadir mu bukan jadi duka Papa mu, ya Nak..."

03122025

Borahe 💜

KARUNATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang