Lima Puluh

179 10 2
                                        

"Mas nanti aku mau jalan sama adek, boleh?" Pertanyaan Manda menghentikan gerakan Arion yang tengah menyisir rambut nya.

"Kemana, Sayang?"

"Mall. Mau ngopi aja sih. Mumpung Hawa libur"

Arion tak menjawab. Ia hanya menghela nafas lalu melanjutkan kegiatannya.

Sudah dia bulan setelah kasus Manda dengan mantan calon suaminya itu berlalu, namun keposesifan Arion tak menurun. Ia malah semakin melarang Manda untuk melakukan aktivitas di luar rumah tanpa pengawasan meskipun pelaku sudah dijebloskan nya ke penjara.

"Gak bisa nunggu Mas pulang aja?" Tanya Arion selembut mungkin.

Ganti, kali ini Manda lah yang tak menjawab. Perempuan itu dengan keras mendudukkan dirinya di ranjang mereka lalu melipat kedua tangan di depan dada dengan wajah cemberut nya.

Melihat aksi penolakan yang tengah istrinya lakukan, Arion hanya tersenyum. Ia paham  pasti menjadi Manda tak mudah. Butuh penghiburan karena kehilangannya, tapi malah tak bisa liburan karena tak diijinkan pergi seorang diri.

"Ya udah boleh, tapi..." Belum sampai Arion menyelesaikan ucapannya, Manda sudah menubruk tubuh gagah suaminya tersebut. Ia bahkan memberikan bonus pada pipi Arion sebuah kecupan "makasih Mas" Ujarnya lirih.

"Padahal Mas belum selesai ngomong loh tapi udah di kiss aja"

"Hahaha... Biar cerewetnya gak keluar" Jawab Manda manja.

Arion yang melihat istrinya bersikap centil, hanya bisa menahan kegemasannya. Kalau tidak sedang bersiap untuk kerja, mungkin Arion lebih memilih untuk mengurung Manda di dalam kamar seharian.

Ohh, jangan lupakan fakta, bahwa Manda sudah menjadi pengangguran setelah kepergian anak pertama mereka. Arion tak lagi mengijinkan nya bekerja di lingkungan yang sempat menjadi trauma sang istri.

"Kalian bawa mobil kan? Gak pakai motor kan, Sayang?"

Manda yang mendengar pertanyaan Arion, memberikan lirikan pedas ke suaminya tersebut "enggak, tenang aja. Suami ku kaya ini masak naik motor" Ucap Manda tengah menyindir.

Tawa Arion seketika menggema memenuhi kamar mereka. Bukan tak paham akan sindiran itu tapi Arion cukup sadar diri bahwa ia memang terlalu over dalam menjaga Manda belakangan.

"Lagian kamu, punya mobil bagus di anggurin aja di garasi. Itu Daddy beli mahal-mahal loh"

"Tau, Mas, tau. Mahal. Tapi kalau gak dibolehin bawa sendiri ya percuma"

"Bukan gak boleh, tapi Mas khawatir nyawa Hawa terancam, Sayang"

Manda semakin menekuk wajahnya akibat ledekan sang suami.

Dirinya memang sudah bisa mengendarai mobil pemberian Azwin meski belum bisa dikatakan lancar.

"Tau ah" Manda keluar kamar begitu saja tanpa memperdulikan panggilan Arion di balik tubuhnya.

Perempuan itu berjalan ke arah dapur dan membantu mertua serta adik ipar nya yang sedang menyiapkan sarapan.

"Kok turun sendiri? Abang mana?" Tanya Hawa bingung.

Pasalnya, tadi sahabat sekaligus kakak ipar nya itu mengatakan akan memanggil Arion guna sarapan bersama sebelum laki-laki itu bekerja.

"Tau tuh, Abang mu. Pagi-pagi udah bikin emosi aja"

Maya hanya tersenyum mendengar curhatan Manda. Pemandangan ini lah yang ia impikan sejak lama. Arion nya hidup layaknya manusia pada umumnya, tanpa ketakutan.

"Kenapa lagi? Gak boleh pergi?"

"Boleh pergi, tapi katanya harus pakai mobil"

Kini ganti tawa Hawa yang menguarmenguar, membuat Manda kembali menekuk wajahnya.

KARUNATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang