Enam Puluh Satu

150 10 0
                                        

"Kita harus ke Rumah Sakit, dek" Ucapan Arion itu membuyarkan lamunan Hawa yang tengah menatap Ka'bah.

Setelah beberapa saat lalu pandangan nya menghitam, kini perempuan itu bisa kembali menatap Ka'bah seperti sedia kala.

Arion tak langsung membawanya ke Rumah Sakit, laki-laki itu memilih untuk menunggu Hawa siuman lebih dulu di pinggiran plataran tempat ibadah itu karena Arion yakin Hawa hanya kelelahan sebab sejak tadi adiknya itu tak berhenti menangis.

Namun, setelah siuman Hawa tak membuka mulutnya sama sekali. Perempuan itu hanya menyandarkan kepalanya di lengan Arion sambil memandang orang berkeliling Ka'bah.

"Abang sudah menghubungi Arjuna dan Man..." Belum sampai Arion menyelesaikan ucapannya, Hawa lebih dulu menegakkan diri dan menatap dingin sang kakak "kenapa?" Tanya Arion tak mengerti.

Lagi, bukannya menjawab pertanyaan Arion, Hawa malah menghembuskan nafasnya berat lalu setelah nya ia kembali memandang pusat dunia itu.

"Adek tadi ngeliat Bang Alif, Bang..." Lirih tapi Arion masih bisa mendengar dengan jelas apa yang Hawa ucapkan. Bahkan dua orang di belakang mereka, turut mendengarkan ucapan Hawa itu.

Sama seperti Arion yang terkejut, Manda dan Arjuna yang ada di balik tubuh mereka pun merasakan hal yang sama.

Tentang Alif, meski Hawa tak pernah menceritakan nya, Arjuna tahu betul siapa laki-laki itu. Harun sudah lebih dulu memberinya informasi di sela-sela persiapan pernikahan dadakan mereka.

Mendengar nama itu di sebut oleh bibir sang istri Arjuna hanya bisa diam. Rasa khawatir nya menguap begitu saja. Bukan karena ia sudah memiliki rasa dengan Hawa, hanya saat ini ia semakin paham dimana posisinya. Dan mungkin Arjuna juga paham, apa yang harus ia lakukan setelah kembali nya mereka ke tanah air.

"Siapa dek?" Arion mencoba kembali mengkonfirmasi apa yang ia dengar.

"Bang Alif, Bang..." Kali ini tak lagi lirih. Hawa memakai nada yang paling meyakinkan yang ia punya.

Di balik tubuh kakak adik itu, Arjuna mengangguk pelan lalu ia mengambil langkah mundur dan meninggalkan Manda yang sama terkejut nya dengan Arjuna tadi.

Manda hanya menatap sekilas punggung Arjuna yang menjauh lalu kembali menatap suaminya dan juga sahabatnya dari belakang. Kemudian ia meraup banyak-banyak udara di sekitarnya, juga mendongakkan kepala nya guna menghalau air matanya yang hendak turun.

Tak bisa di pungkiri, Manda juga merindukan sosok Alif. Akan tetapi, Manda tak berharap bertemu sang kakak disini walaupun itu mungkin bagi Allah.

"Kita memang harus ke Rumah Sakit, dek" Ucap Arion sambil beranjak. Namun saat tangan nya terulur untuk membantu Hawa berdiri, matanya malah menemukan Manda yang berdiri tak jauh dari mereka "Sayang, kamu disini? Sendiri?" Pertanyaan Arion membuat Hawa ikut menolehkan kepala nya ke belakang.

"Sini..." Lambaian tangan Hawa membuat Manda tersenyum dan mendekat "kamu kenapa?" Tanya Manda menggenggam tangan Hawa.

"Pingsan. Kelelahan kayaknya"

"Ya udah ke Rumah Sakit ya? Aku hubungi yang lain" Gerakan tangan Manda yang akan mengambil gawai dicegah oleh Hawa "apa? Kamu gak usah khawatir, aku gak punya suami mu kok" Setelah mendengar Manda mengatakan itu, tangan nya tak lagi menghalangi Manda.

Ternyata orang yang akan Manda hubungi adalah pendamping umroh mereka. Manda mengabarkan Hawa baik-baik saja dan akan mereka bawa ke Rumah Sakit dekat WC 3.

Hawa melakukan serangkaian pemeriksaan dan tak lama, hasil pun keluar.

"Ini dugaan, untuk lebih pastinya, tolong melakukan pemeriksaan satu minggu lagi" Ucapan Dokter dengan bahasa Arab yang fasih.

Tiga orang yang mengerti itu hanya bisa mengerutkan keningnya. Beruntung, pendamping umroh mereka mengerti dan menjelaskan maksud sang dokter.

"Tolong tanyakan Ustadz, kenapa harus satu minggu lagi?" Pertanyaan Arion itu pendamping ulang untuk di tanyakan pada dokter perempuan itu.

Setelah mendengar jawaban sang dokter, ustadz itu tersenyum lalu mengulang jawaban dokter dengan bahasa Indonesia "kemungkinan Mbak Hawa hamil"

Reflek ketiga orang itu menegang. Manda bahkan terlihat menutup mulut nya yang ada di balik cadar itu, sebelum pekikan bahagia dan terharunya menggema di lorong IGD.

"Ha-hamil?" Keterkejutan membuat Hawa gagap dan bingung dalam waktu bersamaan.

"Iya Mbak hamil. Karena kita gak bisa periksa disini, mungkin sebelum pulang kita periksa di Madinah ya, Mbak. Sekalian cari ijin untuk penerbangan pulang"

Arion yang lebih dulu bisa menguasai keadaan, hanya anggukkan kepalanya.

Sesi periksaan selesai. Mereka melanjutkan perjalanan kembali ke hotel tempat mereka menginap untuk membersihkan diri sebelum mereka kembali beribadah di tanah haram itu.

"Ngomong-ngomong Mas Juna kemana ya, Mas?" Tanya ustadz saat ia berjalan bersisihan dengan Arion.

"Arjuna?"

"Iya Mas. Tadi Mas Juna kelihatan khawatir banget sewaktu saya kabari kondisi Mbak Hawa, terus kita berpencarberpencar nyarik Mas Rion dan Mbak Hawa. Ehh tapi bukannya tadi Mas Juna bareng sama Mbak Manda ya? Kemana Mas Juna nya, Mbak Manda?"

Pertanyaan Ustadz itu membuat Manda menegang. Ia belum sedikitpun buka suara tentang Arjuna pada Arion ataupun Hawa. Tadinya Manda berniat menceritakan akan ada  yang ia lihat pada Arion setelah mereka sampai di kamar. Namun, manusia hanya berencana dan tentu rencana mereka belum tentu yang terbaik. Bisa jadi Allah sengaja membuat ustadz itu bertanya seperti itu untuk membuat hubungan Arjuna dan Hawa membaik.

"Arjuna sepertinya ada urusan" Jawaban Manda itu membuat sang ustadz mengerti dan tidak memperpanjang masalah itu. Akan tetapi, itu tak berlaku untuk Arion dan Hawa. Kedua kakak beradik itu menuntuk penjelasan Manda melalui tatapan.

"Terima kasih Ustadz, maaf kalau kami merepotkan. Kami ijin bersih-bersih dulu ya"

"Iya Mas monggo. Nanti saya tunggu di loby satu jam lagi ya"

Mereka berjalan berlawanan arah. Entah kemana pendamping umroh itu akan pergi, yang jelas ketiga manusia yang lain sedang berjalan ke arah kamar mereka masing-masing.

"Adek ikut ke kamar kalian" Permintaan mutlak dari mulut Hawa hanya bisa Manda tanggapi dengan desahan berat.

Memasuki kamar inap Arion dan Manda, Hawa hanya bisa mendudukkan diri dan mendesah pasrah "Mas Juna ikut Kakak nyarik kita?" Tanyanya pada Manda.

"Iya"

"Lalu dia kemana?" Kini Arion lah yang bertanya.

"Pergi beberapa saat setelah kami menemukan kalian"

Penjelasan Manda membuat Hawa menatap Arion frustasi. Ia sudah menebak, Arjuna pasti mendengar perbincangan nya dengan Arion.

"Kalian mendengar semua nya?"

Manda mengangguk.

"Termasuk yang adek bilang adek ketemu Bang Alif?"

Kembali, Manda mengangguk. Sudut matanya kembali basah. Arion hanya bisa mendekat dan merengkuh tubuh sang istri untuk masuk ke dalam pelukannya "sudah, Sayang..." Hanya itu kalimat penghiburan yang bisa Arion keluarkan.

Pemandangan di depannya membuat Hawa terdiam beberapa saat, sebelum akhirnya ia memutuskan untuk kembali ke kamarnya "adek balik ke kamar dulu ya"

"Dek..." Panggilan Arion membuat Hawa terhenti "bisa jadi anak yang kamu kandung itu jawaban dari doa mu tadi"

30112025

Borahe 💜

KARUNACerita yang bikin terobses. Temukan sekarang