Lima Puluh Enam

168 10 0
                                        

Langit siang itu cukup terik untuk dilihat. Silaunya sinar matahari membuat si pelihat reflek menutup mata nya. Tapi hal itu tak berlaku bagi Arion.

Laki-laki itu bahkan seolah menantang matahari untuk semakin membuat tubuhnya yang sudah panas agar semakin terbakar. Ia tak lagi peduli dengan terik matahari sebab saat ini yang ia butuhkan hanya angin yang menyejukkan.

"Mas..." Panggilan lembut dari Manda membuat Arion menghirup udara sebanyak mungkin. Ia mencoba menurunkan emosinya yang belum mereda sejak tadi "kenapa disini? Panas loh" Imbuh Manda yang sudah bergelanjut manja di lengan kekar sang suami.

"Mas butuh udara segar, Sayang"

Kini giliran Manda lah yang menghela nafasnya panjang. Ia bukan tak tahu alasan sang suami bersikap seperti itu, namun ia juga tak tahu harus berbuat apa karena apapun yang menjadi keberatan mereka saat ini tak ada yang bisa mengubah apapun yang sudah terjadi.

"Hawa ya, Mas?"

Arion mengangguk samar. Meski masih tetap berdiri di balkon kamar mereka, namun Manda bisa melihat jelas ketegangan yang Arion rasakan. Cengkraman laki-laki itu menguat di besi pelindung balkon kamar mereka.

"Aku boleh tanya sesuatu?" Tanya Manda hati-hati.

"Boleh, apa, Sayang?" Manda tersenyum. Suara Arion yang kembali melembut sudah ia dengar. Sebelum ia mempertanyakan apa yang menjadi kerisauan nya, Manda lebih dulu menarik mundur Arion dan mendudukkan laki-laki tinggi itu di kursi rotan yang ada disana. 

Setelah itu, tangannya yang kecil mulai mencari tangan besar Arion dan menggenggam erat "Mas gak percaya laki-laki itu bisa menjadi suami Hawa yang baik?"

Arion mengangguk "kenapa?" Tanya Manda penasaran. Kakaknya dulu juga cukup berjuang untuk mendapatkan restu Arion. Bahkan yang Manda tahu, Arion belum sepenuhnya rela sang adik bersuamikan Alif, meskipun mereka sudah duduk di pelaminan.

"kamu gak akan paham bagaimana dunia Arjuna, Sayang. Kehidupan Arjuna dan Hawa itu berbanding terbalik"

"-- keluarga Sutoyo itu bukan keluarga biasa. Mereka penuh perhitungan, penuh aturan, dan keras"

"Tapi itu yang membuat bisnis mereka sebesar ini kan, Mas?"

Arion menatap sebentar Manda, sebelum akhirnya kepalanya mengangguk dan mengiyakan. Memang bukan rahasia umum bahwa berkat aturan dan disiplin yang mereka terapkan, bisnis mereka berkembang sangat besar "iya berkat 'KERJA KERAS' ayah Arjuna dan Yudistira" Arion menekan kata kerja keras agar istrinya itu paham.

"Yudistira? Bukan Arjuna?"

"Itu kakak Arjuna. Orang tua mereka punya 3 anak dan semua anaknya laki-laki. Yudistira yang menikah di hari yang sama, dimana Arjuna dan Hawa terjebak di dalam kamar hotel dan dia yang sekarang memegang kendali penuh atas semua bisnis keluarga Sutoyo"

Manda mengangguk paham.

"-- Arjuna itu anak kedua, yang jarang menampakkan diri di depan publik. Hidupnya membantu Yudistira di balik layar. Dia lebih mirip pekerja kantoran biasa, ketimbang anak pemilik perusahaan"

"Berarti bagus dong, Mas, Hawa berada di tangan yang tepat? Suaminya bukan laki-laki yang haus akan penilaian publik" Opini Manda membuat Arion terdiam.

Hati kecilnya mengiyakan apa yang Manda katakan, namun otaknya tetap mendikte nya untuk menolak pernikahan sang adik kecil.

"Kalau boleh milih dari ketiga anak keluarga Sutoyo, Mas lebih memilih Sadewa kok"

"Siapa itu?"

"Adik Arjuna. Dia punya segudang prestasi di dunia pendidikan. Laki-laki itu pasti lebih cocok dibanding dengan Arjuna. Lagi pula mereka sepantaran. Arjuna terlalu pendiam dan orang yang diam selalu punya banyak rahasia"

"Berarti hanya karena siapa yang menikahi Hawa? Atau karena Hawa memang belum pantas menikah lagi?"

Arion melepaskan pautan tangan mereka, lalu melipat nya di depan dada. Kepalanya penuh penolakan akan pernikahan Hawa namun satu alasan pun belum bisa ia dapatkan disana.

Trauma takut akan kembali kehilangan sang adik?
Itu kah yang Arion rasakan, entah lah.
Ia hanya membenarkan penolakan nya sebab sang ibu pun masih berat menerima pernikahan anak bungsu nya tersebut.

Tak mendapat jawaban apapun membuat Manda akhirnya kembali bersuara "Mas... Untuk tahu arti bahagia itu seperti apa, kita harus sedih dulu loh. Kalau Hawa gak pernah melewati fase itu, dari mana kita bisa memastikan dia bahagia?"

"Dia sudah sedih kehilangan Alif dan itu cukup, Sayang. Kamu bahkan ada disana saat dia penuh dengan trauma itu kan?"

Manda mengangguk "berarti Hawa sudah melewati fase sedih nya kan? Sekarang tinggal bahagianya kan? Dan bisa jadi Arjuna lah yang akan membuat Hawa bahagia"

Arion menolak statment yang Manda berikan. Baginya, kebahagiaan Hawa berada dekat dalam keluarga nya. Hanya itu "Hawa cukup dengan kita, Sayang"

Manda hanya bisa tersenyum nanar. Tangannya menggapai lengan Arion yang paling dekat dan mengelus nya pelan "seperti kata Nenek, Mas... 'Kita gak bisa selamanya menjadi rumah untuk Hawa'. Dia harus membangun rumahnya sendiri dengan orang lain karena suatu saat, dia yang paling tidak ingin merepotkan kita"

Percakapan mereka terhenti saat suara koper terseret terdengar jelas di bawah mereka. Arion segera bangkit dan melihat siapa gerangan yang membuat kegaduhan.

"Saya sampai kapan harus disini?" Tanya Arjuna pada Hawa yang tengah membuka pintu paviliun di samping rumah utama.

Ya. Si pembuat kegaduhan dengan menyeret kopernya di jalanan bebatuan di area paviliun adalah Arjuna. Adik ipar baru Arion yang masih belum tahu harus disikapi seperti apa.

"Aku gak mau keluar dari rumah" Jawab Hawa penuh penekanan.

Arion tersenyum bahagia mendengar jawaban sang adik. Ia yakin Arjuna pasti tidak akan bisa bertahan lama di rumah mereka. Laki-laki itu pasti akan memilih untuk pergi kurang dari sebulan.

Prediksi Arion ini, jelas penuh perhitungan. Dilihat dari sikap Maya yang belum bisa menerima menantu baru, di tambah dirinya, sang ayah, serta keluarga mereka, pasti membuat Arjuna tak nyaman dan memilih untuk mengakhiri semuanya, ketimbang bertahan di antara orang-orang yang membencinya.

"Kita bisa hidup terpisah" Kata Arjuna lagi.

"Aku bukan cucu durhaka"

Arjuna tak membalas apapun ucapan Hawa. Ia lebih memilih untuk kembali menggeret koper nya dan masuk ke dalam paviliun. Sedang Hawa masih terdiam di tempatnya, menatap sang suami yang tak memberinya jawaban.

Mulut Arion yang hampir memanggil nama sang adik terhenti begitu ia melihat Bi Narti datang dengan koper yang tak kalah besar. Arion menyempitkan matanya, memastikan bahwa ia tak salah mengenali koper yang di bawa oleh asisten rumah tangga mereka. Koper itu jelas milik Hawa, tapi untuk apa? Itu lah yang saat ini ada di benak Arion.

"Makasih ya Bi" Ujar Hawa pada Bi Narti. Bi Narti hanya mengangguk sebelum akhirnya menghilang dan masuk kembali ke dalam rumah utama.

Arion masih mengamati Hawa yang tetap berdiri di depan paviliun dengan koper tepat di sebelahnya "mereka gak mungkin sekamar kan, Sayang?" Cicit Arion lirih.

Manda hanya bisa mengelus punggung tegang Arion. Suami nya itu tak butuh jawaban apapun darinya karena apa yang terjadi pada Hawa saat ini, pernah juga terjadi pada mereka di waktu lampau.

"Mas harus turun tangan sih, ini" Dengan emosi yang hampir meledak Arion berhasil Manda tahan disana. Sepasang suami istri itu dengan jelas melihat Hawa masuk dengan membawa koper, tanpa ada paksaan atau suruhan Arjuna.

"Mas mau apa? Liat Hawa sendiri yang masuk. Dia enggak di paksa ataupun diperintah. Dia masuk dengan sendirinya, Mas"

"Tapi..."

"Biarkan mereka sendiri yang memutuskan untuk menyatu atau memasang tembok setinggi-tingginya, Mas. Kita hanya perlu mengawasi tanpa ikut campur sedikitpun"

19112025

Borahe 💜

KARUNATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang