Andai kata 'seandainya' bisa membuat semua membaik dan kembali seperti semula, mungkin sudah seribu kali Hawa mengucapkan nya.
Hidup bahagia dengan orang yang dicintai dan berada di tempat ternyaman di Dunia merupakan salah satu keinginan Hawa yang dulu selalu ia lantuntan dalam doa nya, sebelum kenyataan membawa nya menjadi janda Alif dan kembali menikah untuk kedua kalinya.
Sepotong ingatan kecil itu, semakin membuat air matanya mengalir deras.
Setelah berdoa untuk hidupnya saat ini. Kenyataan membawanya mengingat kisah singkatnya dengan Alif.
Mungkin doa Hawa akan berbeda cerita apabila Alif lah yang menjadi suami nya saat ini.
"Bang... Semua yang kita mau disini selalu di kabulkan, kan?" Tanya Hawa masih dengan air mata di pipi.
Arion yang saat itu fokus pada Ka'bah, hanya menjawab pertanyaan Hawa dengan anggukan. Laki-laki sedang tak ingin memandang mata penuh harap sang adik, sebab pertanyaan Hawa sudah membuatnya paham bahwa perempuan itu tengah mengharapkan sesuatu, yang entah baik atau buruk untuk hidupnya.
"Adek pingin ketemu sama Bang Alif..." Tubuh Arion membeku seketika mendengar keinginan tak masuk akal yang keluar dari bibir Hawa.
Bukan tak pernah mendengar cerita apa yang menjadi ingin di tanah suci ini semua akan terkabul. Bagi Arion, keinginan Hawa ini adalah keinginan paling putus asa yang adiknya ucapkan. Pernikahan dadakan yang terjadi, tak lantas bisa menjadi alasan sang adik untuk membandingkan dua suaminya bukan?
"Mereka dua orang yang berbeda dek"
"Sangat berbeda, sampai-sampai aku tak mengenali diri ku sendiri, Bang..."
Arion terdiam. Rasanya percuma memberi tahu bahwa apa yang Hawa lakukan adalah hal sia-sia. Tapi untuk tetap melihat adiknya tak menemukan jalan, Arion juga tak ingin. Laki-laki tak punya pilihan lain selain merestui pernikahan Hawa kali ini, apabila Hawa tengah membandingkan kehidupan nya bersama masa lalu nya.
Arjuna mungkin tak sebaik Alif dalam memperlakukan Hawa, namun Arion juga tak tahu, bagaimana jadinya kehidupan sang adik apabila Alif masih hidup.
Akankah Hawa bahagia?
Akankah Hawa tak mengkhawatirkan apapun?
Dan akankah mereka jujur satu sama lain?
Entah, semua pertanyaan itu tak pernah punya jawaban yang pasti.
Semua hanya bisa diduga-duga, termasuk kehidupan Hawa dan Arjuna saat ini.
Namun, membiarkan Hawa tetap dengan keinginannya itu, sama saja membuka kembali trauma Hawa yang mulai sembuh.
Arion ingat betul bagaimana parahnya luka yang terjadi karena Alif meninggalkan adiknya beberapa jam setelah mereka dah menjadi suami istri, serta seberapa terpukul nya Hawa. Belum lagi luka itu hampir saja membuat Hawa tenggelam dan larut, sampai-sampai Hawa tak lagi menjadi adiknya yang menggemaskan.
"Semua akan berubah saat sudah menikah, dek..."
Ya. Semua akan berubah setelah status berubah.
Pernikahan yang melibatkan dua orang tak hanya untuk mencari kenyamanan salah satu pihak saja, namun kenyamanan kedua pemain nya.
Suami istri akan saling menyesuaikan diri tanpa dekte. Semuanya terjadi alami, sebagai bentuk kerja alam bawah sadar. Walaupun, arah perubahannya masih menjadi misteri. Entah ke arah baik ataupun buruk.
Hawa mengusap air matanya sebelum menjawab perkataan Arion. Perempuan itu tengah menyusun kata untuk membalas sang kakak karena apa yang ia rasakan berbeda dengan apa yang Arion jabarkan.
"Harusnya, menikah akan membuat kita semakin menjadi diri sendiri" Ucap Hawa datar "...tapi kalau dengan orang yang tepat" Perempuan itu menekankan kalimat tambahan nya, ketimbang opininya di awal.
Dengan orang yang tepat.
Mendefinisikan orang yang tepat bagi seseorang itu semudah mendefinisikan siapa yang kita mau. Bukan siapa yang menjadi takdir karena kadang takdir perlu waktu untuk menerima nya.
"Siapa orang yang tepat bagi kamu? Alif? Arjuna? Atau orang lain?" Tanya Arion dingin.
"Apa menurut Abang, Kak Manda orang yang tepat?" Tanya Hawa balik.
Mata Arion berbinar "Ya. Manda orang yang tepat"
"Abang bisa mengatakan itu hanya karena sudah menikah satu tahun lebih? Semudah itu?"
Kening Arion mengkerut. Ia mencoba menebak kemana arah ucapan sang adik. Hawa di hadapannya saat ini, bak Hawa yang tak dikenal nya. Hawa yang Arion kenal akan selalu memuji Manda sebanyak yang ia bisa, bukan malah meragukan sahabatnya sekaligus kakak iparnya sendiri begini.
"Kamu hanya belum melihat Manda dari kacamata Abang aja, dek..." Arion sengaja menjeda ucapannya guna melihat respon Hawa. Namun, tak ada pergerakan apapun dari sang adik "Perempuan yang Abang nikahi itu pernah diam-diam menangis, menyesal, karena belum bisa membahagiakan Abang. Hanya karena anak yang Abang mau harus pergi lebih dulu, meskipun itu bukan salahnya."
"-- padahal... Saat itu, Abang tahu, dia juga sama sakitnya kayak Abang atau bisa jadi dia malah yang paling sakit di antara kami. Tapi dia gak memikirkan hatinya, dia malah memikirkan perasaan Abang" Imbuh Arion lagi "Abang harus mencari perempuan yang bagaimana lagi, saat perempuan yang Abang nikahi hanya untuk menjagamu dulu itu, kini malah sebesar itu sayang nya sama Abang"
"Bang..." Nada penyesalan Hawa terdengar jelas di telinga Arion, akan tetapi laki-laki malah tersenyum sambil mengelus pelan kepala Hawa "gak papa. Kamu harus tahu bahwa pernikahan itu gak hanya berisi bahagia saja, ada duka yang mungkin akan turut menjadi bayangan di setiap bagian"
"-- jadi kalau memang hari ini kalian belum sedekat layaknya suami istri gak papa, asal jangan mengharap yang sudah pergi untuk kembali lagi"
"-- dan kalaupun, Arjuna bukan takdir terbaikmu. Kamu gak perlu takut, masih ada Abang dan Manda yang akan merawat kamu"
Semua kata yang Arion ucapkan pada Hawa saat itu, secara telak menggambarkan restu nya tak kasat mata untuk hubungan adiknya dengan Arjuna. Walau izin yang Arion berikan pada Hawa kala itu, hanya untuk membuat Hawa kembali sadar bahwa sudah tidak ada Alif di hidup adiknya.
"Ayo pulang, Abang khawatir Manda bangun dan nyariin Abang"
"Adek masih mau disini" Jawab Hawa masih betah menatap Ka'bah. Kepalanya penuh sesak dengan pikiran yang ia buat sendiri.
"Pulang gak, atau mau Abang geret?!" Ucap Arion penuh ancaman, dengan tangan laki-laki itu sudah mulai memaksa Hawa untuk bangun dari duduknya. Arion kenal betul adiknya tersebut. Karena Hawa pernah nekat duduk plataran Ka'bah sehari penuh dan hanya akan beranjak saat waktu sholat tiba.
"Gak mau!! Sana pulang duluan"
"Abang gendong nih"
"Gak mau!!" Kali ini Hawa memakai tenaga ekstra untuk mendorong kakaknya. Tapi karena perbedaan tenaga antara laki-laki dan perempuan, bisa dipastikan bahwa Hawa lah yang terpelanting mundur. Ia tak sampai jatuh sebab tubuh kecilnya menubruk orang yang berada di belakangnya.
"Dek..." Teriakan Arion menggema saat ia melihat tubuh Hawa tersungkur terpejam. Padahal tadi Arion melihat sendiri, tubuh sang adik aman sampai adiknya bertegur sapa dengan orang yang di tubruk nya.
28112025
Borahe 💜
KAMU SEDANG MEMBACA
KARUNA
RomanceAwal nya tak pernah kenal sebelumnya, tak pula di jodohkan, keinginan menikah pun tak pernah terbesit, namun tiba-tiba hati Arion tergerak untuk menikahi sahabat adiknya itu.. Sayangnya, rencana untuk menikahnya tidak sesuai dengan kemauannya. Detik...
