Lima Puluh Lima

154 12 0
                                        

Suara deru mobil berhenti di depan rumah membuat empat orang yang berdiskusi di ruang tamu diam dan menanti siapa gerangan yang bertamu selain Arjuna saat matahari bahkan belum berada di tengah.

Arshaka Arion Wardhana.

Suami Manda ini lah, yang tiba-tiba kembali lagi ke rumah setelah mendapatkan kabar dari sang istri kalau tak adik bungsunya mendapat tamu dadakan.

Dengan baju masih sama dengan yang dipakainya beberapa jam lalu, Arion memasuki rumah dengan wajah datar.

Ia memeluk singkat Maya, Hawa dan juga Adit. Lalu tanpa sepatah kata pun, Arion masuk semakin ke dalam, menarik Manda keluar dan mendorong Nek Iroh untuk duduk bersama di ruang tamu.

"Om sama tante Zara lagi OTW, Pi. Daddy sama bunda mungkin sampai nanti sore" Pemberitahuan dari Arion cukup membuat Adit memijat pelipisnya.

Adit tak pernah meragukan Arion akan kepemimpinannya. Anak sulung nya itu tahu apa yang harus ia lakukan, sekalipun dalam kondisi terdesak. Namun menghadirkan keluarga mereka saat keputusan belum di dapatkan, rasanya memberi tekanan tersendiri pada Adit.

"Sudah kenal saya?" Tanya Arion pada Arjuna.

Arjuna mengangguk sebelum akhirnya menjawab "sudah. Kita sempat bertemu beberapa kali"

Kening Arion berkerut. Ia bertemu dengan Arjuna, dimana?

"Beberapa tahun lalu, di peresmian perusahaan Pak Toni"

Arion mengangguk. Ia ingat, ia sempat di undangan oleh pengusaha properti itu saat sang pemilik meluncurkan anak perusahaan baru. Namun, seingat Arion ia hanya bertemu dengan kakak dari Arjuna yaitu Elang Yudistira Sutoyo.

Tak ingin membahas terlalu dalam tentang bagaimana Arjuna tahu dirinya. Arion lebih memilih mengamati sang adik sejenak.

Pernikahan dadakan yang sempat Arion tolak itu tak lagi ada artinya. Penolakan nya tak akan mengubah apapun. Dua bulan ini, Arion di bantu Manda mencoba melihat sisi lain dari pernikahan Hawa yang syarat akan tiba-tiba.

Hawa di mata Arion saat ini, terlihat lebih tegar meski Arion juga bisa melihat keengganan disana. Keengganan yang tak bisa di lepas begitu saja karena terhubung dengan situasi yang lain.

"Gimana, dek?" Aura sangar yang tadinya ingin Arion bangun di depan Arjuna, kini hilang saat Arion berinteraksi dengan Hawa.

Tutur kata lembut, perlakuan Arion dan Adit pada Hawa serta tatapan sayang yang terpancar di masing-masing keluarga membuat Arjuna menarik kesimpulan bahwa ia telah salah masuk ke dalam keluarga Adit.

Didikan sang ayah, Aris Sutoyo padanya jelas jauh berbeda dengan didikan Adit dan Maya pada anak-anak mereka. Aris yang selalu menggunakan aturan keras tanpa boleh ada tentangan, berbanding terbalik dengan Adit yang selalu mengajak anak-anaknya berdiskusi. Sifat itu lah yang mungkin turun pada Arion.

"Assalamu'alaikum..." Suara Zainal memecahkan kesunyian yang terjadi disana.

Zara, adik Adit beserta sang suami datang. Dan seperti sebelumnya, Arjuna kembali melihat pemandangan yang sudah jarang ia lihat. Pelukan dan jabat tangan yang sudah jarang terjadi di keluarganya, ternyata menjadi kebiasaan di keluarga Adit.

"Kamu...?" Pertanyaan Zainal yang menggantung di udara, cukup Arjuna mengerti bahwa ia diminta untuk memperkenalkan diri secara langsung "perkenalkan saya, Mavin Arjuna Sutoyo" Kata Arjuna.

Zainal mengangguk singkat. Tatapannya tak lepas dari anak tengah Aris Sutoyo itu. Dua bulan lalu ia mencari tahu siapa laki-laki yang menikahi sang keponakan sebab di keluarga Sutoyo hanya Aris, Yudistira dan Sadewa saja lah yang di kenalnya. Arjuna bukan lah yang mendapat perhatian publik meski dunia tahu Aris punya 3 anak laki-laki.

Elang Yudistira Sutoyo, sebagai anak pertama mendapat perhatian publik karena kerja kerasnya dengan sang ayah memperbesar bisnis mereka di berbagai sektor. Yudistira dikenal di mana-mana dengan banyaknya proyek yang berhasil ia kerjakan dengan mudah.

Anak ketiga Sutoyo bernama Revan Sadewa Sutoyo. Laki-laki dengan usia enam tahun di bawah Arjuna itu, lebih terkenal dengan prestasi di dunia pendidikan ketimbang ikut andil di perusahaan. Bahkan Sadewa kini sedang mengenyam pendidikan lanjutan sarjananya di salah satu negara tetangga.

Sedang, Arjuna. Ia tak banyak tersorot. Beberapa kali wajahnya memang terlihat karena mengikuti pertemuan-pertemuan besar yang juga Yudistira datangi, namun karena perusahaan Sutoyo lebih mengenal Yudistira, Arjuna tak pernah mendapat perhatian publik sebesar nama sang kakak, sampai akhirnya peristiwa malam dimana Yudistira menikah terjadi dan publik mulai mengulik kehidupannya.

Jejak digital yang Arjuna miliki mungkin baru besar akhir-akhir ini tapi efek yang laki-laki itu beri pada Hawa tentu bukan efek yang biasa. Saat publik tahu identitas sang istri, Hawa akan tersorot lebih banyak daripada saat ia menjadi putri Aditya Wisnu Wardhana.

"Kamu sudah makan?" Pertanyaan Nek Iroh yang tiba-tiba membuat Arion yang sudah membuka mulutnya, lebih memilih diam.

Arjuna tersenyum "sudah, Nek"

"Hawa... Siapkan tempat untuk suami mu istirahat. Setelah semua beres, kalian bisa jalan-jalan" Perintah Nek Iroh membuat ketegangan yang sempat terjadi menguap begitu saja.

Atmosfer dingin yang tadi Arion bawa mendadak lenyap berganti dengan rasa hangat, yang mendadak menyusup masuk di dada Arjuna. Perlakuan keluarga Adit benar-benar berbeda dengan kebanyakan keluarga kaya lainnya.

"Ehh, Nek, gak perlu. Saya bisa buka room saja" Tolak Arjuna sopan.

"Buka room?"

"Nyewa hotel, Nek" Ujar Manda menjelaskan.

Nek Iroh mengangguk "ikut dengan suami mu, Nak. Batalkan jalan-jalan kalian"

Seluruh orang disana terkejut dengan ucapan Nek Iroh yang berkebalikan dengan keinginan semua orang.

Seolah tahu mendapat banyak penolakan, Nek Iroh melanjutkan ucapannya "jangan menghalangi baktinya seorang istri terhadap suaminya. Tak peduli apa yang membuat mereka menikah, yang jelas biarkan cucu ku tetap menjalankan kewajiban nya untuk melayani suami nya"

"Tapi Nek, kalau..."

"Gak perlu Nek. Saya bisa sendiri" Sekali lagi, Arjuna menolak.

"Kamu gak ingin cucu saya ikut?"

Pertanyaan Nek Iroh membuat Arjuna panik. Ia tahu sekalipun ia membuka mulut untuk menjawab pertanyaan Nek Iroh, tetap saja jawaban nya bak dua sisi mata uang.

"Bukan gak ingin Retha ikut saya, cuma Retha kan ada rencana lain Nek"

Dorongan Nek Iroh sudah pernah beliau katakan sebelumnya saat Hawa menemaninya berjemur tadi. Tapi entah mengapa kali ini, rasanya berbeda. Hawa merasakan penolakan dan dorongan yang berimbang.

"Nek... Hawa hanya libur hari ini..." Pembelaan Adit mendapat tatapan tajam dari Nek Iroh.

"Kamu mau anak mu jadi janda lagi, Dit?" Pertanyaan Nek Iroh membuat seluruh orang menegang. Maya bahkan sudah mulai kembali menangis. Keadaan Manda pun tak jauh berbeda, cadar nya mulai basah tepat di bawah matanya "Nenek gak peduli omongan orang apapun tentang janda. Tapi kamu... Kamu gak selamanya hidup, Dit. Rion akan punya keluarga sendiri. Begitupun Azwin dan Zainal. Kalian gak bisa terus-terusan menganggap Hawa anak kecil yang harus kalian lindungi"

"-- Allah pasti punya rencana besar, mengapa sampai membuat mereka menikah. Biarkan mereka mencoba. Kalaupun nanti di depan sana mereka saling melepaskan, setidaknya mereka pernah berusaha"

18112025

Borahe 💜

KARUNATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang