Enam Puluh Enam

281 13 0
                                        

Ibadah mereka di Madinah tak sepadat saat di Mekkah. Mereka berempat menikmati damainya Kota Rasulullah itu dengan sangat nyaman tak ada keluhan apapun, tak terkecuali Hawa.

Perempuan itu sudah memeriksakan kembali kehamilannya dan benar adanya, ia tengah berbadan dia. Beberapa kali Hawa merasakan mual tapi tak sampai parah. Cukup perempuan itu mengistirahatkan dirinya sejenak maka tenaganya akan kembali pulih.

Malam kedua perempuan itu ke Raudah pun tak mengalami hambatan. Arion dan Arjuna siap siaga mengantarkan para wanita mereka.

Ke posesifan Arjuna mulai terlihat. Beberapa kali Arion, Manda dan Hawa di buat tercengang dengan tingkah laku laki-laki itu yang jauh di luar nalar.

Pernah saat itu, setelah kembali dari Raudah Hawa terlihat sangat sembab. Mata dan hidungnya memerah dan bengkak. Tak ada yang istimewa dari rasa haru dan sedih saat masuk ke taman surga tersebut. Namun, Arjuna melihat itu dari sisi yang lain. Saat matanya menangkap sang istri yang masih terisak, tak peduli dimana tempatnya berada laki-laki itu bergegas berlari dan merengkuh tubuh Hawa untuk dipeluk sampai lama. Karena malu akan tingkah Arjuna yang sangat ajaib, Arion dan Manda meninggalkan sepasang suami-istri itu seolah mereka tak mengenal nya sama sekali.

Arjuna yang berubah ajaib tak berhenti sampai disitu. Saat ke-empat nya sudah mendarat dengan sempurna, tiba-tiba Hawa di buat terkejut dengan mobil yang menjemput mereka. Mobil dengan plat baru berhenti tepat di hadapan nya, di susul dengan mobil Arion.

"Mas beli mobil baru?" Tanya Hawa begitu ia melihat Pak Jaya supir Arjuna tengah menjinjing koper mereka untuk di masukkan ke dalam bagasi.

Tanpa rasa bersalah Arjuna mengangguk. Ia bahkan menuntun Hawa untuk masuk terlebih dulu, lalu berpamitan pada Arion dan Hawa. Setelahnya laki-laki itu menempatkan diri di samping sang istri. "Jalan Pak" Titahnya pada Pak Jaya.

"Kenapa beli mobil baru?" Hawa masih menanyakan hal yang belum suaminya itu jawab "mobil Mas kenapa? Gak papa kan?" Imbuh Hawa bertubi.

"Gak papa, dek. Hanya biar kamu nyaman aja, kan lagi hamil" Sebuah alasan yang membuat Hawa tercengang lebar.

"Nikah sama orang kaya memang beda ya, Pak..." Gurauan Hawa itu ditanggapi Pak Jaya seorang.

Pasalnya, mobil nya dan mobil Arjuna bukan minibus biasa. Mobil mereka adalah mobil sedang yang biasanya di gunakan oleh para pebisnis. Bagi Hawa kenyaman mobil nya sudah cukup untuk keadaannya saat ini, akan tetapi Arjuna berpikiran berbeda. Bagi laki-laki itu mobil yang nyaman untuk Hawa adalah mobil yang bisa mengistirahatkan seluruh anggota tubuh Hawa, termasuk kaki sekalipun. Dan mobil seperti itu lah yang akhirnya di pilih oleh Arjuna sebagai sarana transportasi untuk istrinya mulai detik itu.

"Saya harus pulang. Kamu di rumah Mami aja ya" Ucapan tiba-tiba Arjuna yang berbanding terbalik dengan kenyaman yang kendaraan mereka membuat suasana hati Hawa turun drastis.

"Ini bisa di turunkan pembatas kita dengan Pak Jaya?" Arjuna mengangguk, dan menurunkan sekat itu guna berbicara secara pribadi dengan sang istri tanpa diketahui Pak Jaya.

"Berapa lama?" Tanya Hawa pada Arjuna.

Arjuna hanya terdiam. Helaan nafas lirih terdengar sakit di telinga Hawa. Suaminya tidak baik-baik saja, itu lah yang Hawa tahu meskipun Arjuna tak menceritakan secara detail masalah keluarga nya.

"Saya tidak tahu. Tapi saya usahakan secepatnya pulang. Kalaupun saya di haruskan tinggal disana, saya akan sering-sering mengunjungi kamu"

Air mata Hawa menetes tanpa diminta. Rasanya terlalu sama kisah cinta dirinya dengan sang ibu apabila ia merelakan Arjuna pergi saat ini. Tapi untuk ikut ke kampung halaman suaminya, Hawa juga memikirkan pekerjaannya.

"Kalau aku gak mau ditinggal gimana? Mas tetap akan pergi?"

Arjuna mengangguk "saya harus pergi" Ucapnya mutlak tanpa bisa diganggu gugat.

Di situasi seperti ini, tak ada solusi apapun apabila keduanya masih sama-sama keras kepala.

Untungnya, semua bisa selesai saat mereka tiba di rumah Adit dan menceritakan semuanya.

"Tugas istri itu ikut kemanapun suaminya pergi, dek" Kalimat sederhana yang keluar dari bibir Maya itulah yang akhrinya membuat Hawa ikhlas melepas pekerjaan nya dan memutuskannya untuk mendampingi Arjuna dimanapun laki-laki itu berada.

Bahkan di malam itu juga, Arjuna memboyong Hawa untuk pulang ke kotanya dan menetap sampai batas waktu yang tak bisa di tentukan. Tanggung jawab Arjuna di kursi pemimpin lah yang membuat laki-laki tak bisa lagi berpindah. Bahkan sampai anak pertama mereka, Giandra Putra Arjuna lahir mereka masih tinggal disana. Mereka hanya sesekali berkunjung ke rumah Adit dan Maya untuk menengok keadaan sepasang suami istri itu.

Kehidupan Hawa yang dar der dor, berbanding terbalik dengan kehidupan Manda dan Arion yang seakan berhenti di tempat.

Sampai Giandra berusia empat tahun, sepasang suami istri itu masih hidup berdua. Hadiah berupa keturunan yang selalu mereka pinta saat mengunjungi tanah suci belum juga Allah kabulkan.

Padahal segala jenis pemeriksaan sudah mereka jalani hampir empat tahun itu. Baik Manda atau Arion, keduanya dinyatakan sehat tanpa penyulit apapun. Hanya Allah yang berkehendak dan keduanya tak punya kuasa untuk memaksa takdir itu.

"Kalian hari ini check up lagi?" Tanya Adit yang sudah mulai menua itu ketika ia melihat Arion dan Manda sudah rapi.

"Bukan cuma kita yang check up tapi Papi sama Mami juga. Abang sudah bikin janji hari ini untuk kita berempat"

Pernyataan Arion itu membuat Adit langsung menolehkan kepalanya ke arah sang istri. Maya tak memberi tahu nya apapun tadi pagi. Adit hanya tahu dirinya dan Maya akan berkeliling kota hari ini dan apabila memungkinkan mereka akan mengunjungi Hawa dan Arjuna di Kota seberang.

"Bener, Sayang?" Tanya Adit pada Maya.

"Ya itu anaknya udah bikin janji, masak kita tolak Mas?"

Jawaban Maya tak membuat Adit merasa lega. Laki-laki yang mulai menua itu berkelit dan mencoba untuk menawar keinginan anak sulung nya tersebut. Akan tetapi, Arion tak ingin ditolak. Ia bersikuku untuk tetap pergi bersama dengan istri dan juga kedua orang tuanya.

Pemeriksaan dilakukan dengan lancar. Hasil mereka dijadwal akan keluar dalam beberapa hari. Namun sebagai pemilik Rumah Sakit, Arion beserta keluarga nya mendapatkan prioritas lebih. Hasil mereka bahkan bisa keluar beberapa jam setelah mereka menjalani pemeriksaan.

"Pak Adit, keadaan anda semakin..." Belum sampai Direktur Rumah Sakit menjelaskan, Adit lebih dulu mengganggukkan kepalanya seolah ia mengerti apa yang akan pemimpin rumah sakit itu jelaskan.

Maya, Arion dan Manda yang juga berada disana terlihat menggerutkan kening mereka bersamaan. Namun Arion lah yang akhirnya angkat bicara menanyakan maksud ucapan dokter di hadapannya ini "maksudnya gimana, Dok?"

Dokter itu tak langsung menjawab. Matanya melirik sesaat pada Adit sebelum akhirnya mendesah berat "kanker prostat stadium lanjut"

19122025

Borahe 💜

KARUNATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang