Matahari yang hangat itu, tak mampu menghangatkan hati Hawa yang sudah terlanjur dingin karena kepergian Alif, suami pertama nya.
Kehilangan rumah yang bahkan belum sempat di bangun, mungkin bagi sebagian orang hal yang baik, sebab belum ada rasa yang tumbuh subur. Akan tetapi, bagi Hawa, meski rumah yang ia impikan belum berdiri, namun rasanya tetap ikut mati.
Manda, dan sekarang Nenek Iroh semua sudah Alif datangi walau dalam mimpi, tapi Hawa yang sudah menyandang status istri, sampai detik ini tak pernah sekalipun Alif kunjungi.
Hawa tau, saat kematian terjadi ruh akan di tempatkan di tempat tersendiri yang sudah Allah siapkan, tanpa bisa kembali. Bermimpi bertemu dengan orang yang sudah wafat adalah ilusi jin yang menyerupai saja, tidak lebih.
Tapi entah mengapa, meski sudah tahu kenyataan itu, Hawa tetap berharap ia bisa bertemu Alif dan menumpahkan rindu yang sudah terhalang alam ini.
"Hawa belum pernah sama sekali bermimpi Bang Alif, Nek" Ucap Hawa sendu.
Air mata nya mulai terlihat di sudut mata. Dada kembali sesak saat ingatannya terlempar di beberapa bulan belakang.
Malam itu, Alif tak sedikitpun menunjukkan tanda akan kepergian nya. Senyumnya merekah meski Hawa tahu betapa lelahnya duduk di pelaminan berjam-jam. Dari mulutnya berkali-kali meng-amin-kan doa-doa baik yang para tamu doakan.
Laki-laki itu memberikan kesan terakhir pada Hawa bahwa ia teramat bahagia. Terbukti sesaat setelah akad, tangan Hawa hampir tak lepas dari genggaman tangannya. Hanya sesekali saat Alif harus menyambut tangan para tamu yang memberinya selamat.
"Dari atas sana, Alif pasti mendoakan agar kamu bahagia, Nak" Cicit Nek Iroh.
Tangis Hawa akhirnya pecah. Ia tersedu-sedu mendengar harapan yang Nek Iroh berikan.
Andai waktu bisa diulang, Hawa ingin sampai nanti dirinya akan tetap hidup sebagai Nyonya Alif.
"Hawa rindu Bang Alif, Nek..." Ungkapan yang jarang Hawa bagi dengan orang lain, kini ia bagi dengan tubuh renta Nenek suami pertama nya.
Biasanya, perempuan janda Alif ini, akan menangis tergugu sendiri di dalam kamar nya saat malam. Menumpahkan rindu lewat air mata dan doa secara bersamaan. Lalu setelahnya, ia akan berpura-pura kembali bahagia karena tak ingin membuat banyak orang khawatir, terutama sang ayah.
Tangan yang tadinya mengelus tiap kelopak mawar di dekatnya, kini tangan itu mengelus pelan puncak kepala cucu menantunya. Mencoba menyamakan kelopak bunga dengan kelopak yang Hawa punya.
"Rindu itu wajar karena pernah terikat. Tapi ingat, rindu juga harus punya tempat"
Lagi, ucapan Nek Iroh membuat Hawa kembali berpikir buruk. Nenek Iroh seolah menggiring nya untuk tak lagi memikirkan Alif. Melupakan cucu tertuanya, dan menjalani hidup ke depannya.
"Nenek gak suka kalau Hawa masih memikirkan Bang Alif ya?"
"Nenek malah bersyukur kamu sayang sama Alif sebanyak ini, tapi..." Nek Iroh menghela nafasnya pelan. Sulit baginya untuk meminta Hawa melupakan sang cucu tapi keadaan sudah berbeda. Mau tak mau, ia harus menyadarkan Hawa bahwa statusnya sudah berbeda.
"Hampir satu tahun, Nak... Apa kamu tidak kasian sama dirimu sendiri? Jangan sampai rindu mu pada yang sudah meninggal membuat mu lupa status mu. Bayangkan kalau apa yang kamu rasakan saat ini, dirasakan oleh suami mu, kamu bisa terima?"
Pertanyaan Nek Iroh membuat Hawa diam seribu bahasa. Air matanya memang tak lagi menetes tapi dukanya bertambah karena lagi, ia teringat akan dirinya yang sudah tidak sendiri.
Dengan statusnya yang sudah bersuami, cepat atau lambat Hawa akan kembali di hadapkan dengan kenyataan yang ada. Terlebih Arjuna berhak atasnya. Belum lagi, berita heboh akan pernikahan mereka tersebar di seluruh antero Indonesia.
"Tapi pernikahan ini tidak seperti pernikahan ku sebelumnya, Nek..."
Nek Iroh menatap Hawa dalam "lalu kalau tidak sama dengan pernikahan mu sebelumnya, lantas kamu boleh bermain-main, Nak? Tidak kan? Semua tetap harus di jalani. Cintai apa yang sudah jadi pilihan mu walaupun sulit karena manusia tak ada yang tahu takdir di depan seperti apa. Cukup lakukan yang terbaik, untuk hasilnya serahkan pada Allah"
Kadang sisi buruk yang kita lihat dari takdir kita, adalah imbas dari tidak terimanya diri ini dalam menerima takdir. Masih mempertanyakan, mengapa aku atau kenapa aku, tak akan merubah apapun. Sehingga hati berat menerima segala takdir-Nya. Dan jelas hal itu malah menghambat rejeki lain yang akan masuk, termasuk rejeki diberi hati yang lapang.
"Laki-laki ini jauh berbeda dengan Bang Alif, Nek..." Cicit Hawa masih butuh dukungan untuk menolak.
Nek Iroh tersenyum. Tangan keriputnya menggenggam tangan Hawa yang sejak tadi di paha Nek Iroh "gak ada di dunia ini orang yang sama. Jangan membandingkan ya. Setiap orang punya sisi baik dan buruknya"
Hawa hanya mengangguk pasrah. Ia tak punya sanggahan apapun karena apa yang Nek Iroh katakan adalah benar, walaupun hatinya tak sedikitpun mengiyakan.
Menerima Arjuna dan menempatkan suaminya tersebut di tempat Alif bagi Hawa adalah hal yang paling sulit. Hingga diam-diam hatinya sejak tadi mendoakan pertemuan nya dengan Arjuna tidak dalam waktu dekat.
Ia ingat benar apa yang Arjuna katakan setelah mereka melangsungkan ijab qobul.
"Kamu yakin ingin menjalani pernikahan ini tanpa cinta?" Tanya Arjuna.
"Apa itu cinta?"
"Aku serius" Tegas Arjuna.
"Saya lebih serius. Harusnya saya yang bertanya pada anda. Anda sanggup hidup dengan saya yang sudah tidak punya hati ini?"
"Tak masalah. Kita bisa berumah tangga tanpa hati, termasuk urusan ranjang"
"Saya pun tak masalah untuk itu"
"Baiklah. Aku tunggu di kamar setelah ini"
Hawa tahu saat itu Arjuna hanya menggertak nya karena laki-laki itu juga tak punya pilihan. Semua aset yang Arjuna miliki menjadi taruhan apabila ia tak menikahi Hawa.
Aris Sutoyo, ayah Arjuna mengancam akan mencabut seluruh fasilitas, investasi serta mempersulit jalan Arjuna ke depannya, kalau sampai nama perusahaan nya menjadi buruk dan saham mereka merosot drastis.
Terdengar kejam memang, tapi itu lah yang selalu dipikirkan oleh orang-orang dengan kalangan sangat atas. Bagi mereka, perasaan dan cinta ada di nomor kesekian karena yang terpenting adalah nama dan kekayaan.
"Loh... Kenapa nangis?" Teriakan heboh Manda membuat lamunan Hawa buyar.
Perempuan yang dinikahi kakaknya dua bulan lalu itu terlihat tergopoh berjalan ke arah nya dan Nek Iroh "kenapa nangis, Wa? Nek?"
"Hawa rindu Alif" Jawab Nek Iroh tenang.
"Duhhh... Aku kira kenapa. Doakan saja Bang Alif, Oke?" Hawa hanya mengangguk pelan.
"Ehh, aku lupa ngasih tau, itu di depan ada tamu buat kamu"
"Siapa?"
"Suami mu"
"Si-siapa?"
"Mavin Arjuna Sutoyo. Betul gitu kan namanya?"
11112025
Borahe 💜
KAMU SEDANG MEMBACA
KARUNA
RomanceAwal nya tak pernah kenal sebelumnya, tak pula di jodohkan, keinginan menikah pun tak pernah terbesit, namun tiba-tiba hati Arion tergerak untuk menikahi sahabat adiknya itu.. Sayangnya, rencana untuk menikahnya tidak sesuai dengan kemauannya. Detik...
