Enam Puluh Delapan

241 12 0
                                        

Arion hanya memandang tubuh Adit yang sudah terbujur kaku di ranjang pesakitan. Ini kali kelima nya melihat anggota keluarganya tutup usia. Tapi rasanya masih sama, selalu sesak.

Adit bagi Arion bukan hanya sekedar ayah biasa. Adit ada kalanya bisa menjadi teman atau bahkan patner diskusi tentang bisnis yang menyenangkan. Arion bahkan sudah lama melupakan kesalahan laki-laki itu karena Adit benar-benar menebusnya dengan baik. Lelaki yang tutup usia di usia tujuh puluhan itu panutan baginya dan Hawa.

Seorang laki-laki berawakan tinggi besar yang menggunakan jas putih menepuk bahu Arion pelan sambil bergumam "lakukan tugas terakhir seorang anak"

Arion mengangguk pelan. Ia menatap sekitar. Semua keluarga menangis tanpa suara. Kehilangan mereka kali ini lebih dalam sebab beberapa saat lalu Adit masih baik-baik saja, hanya selang beberapa jam akhirnya ayahnya menyerah setelah memastikan semua keluarga nya baik-baik saja.

Hawa dan Giandra menangis tersedu dalam pelukan Arjuna. Ada Zahra dan Zainal beserta anak-anak mereka juga saling berpelukan melepas kepergian Adit. Namun, mata Arion terhenti lama saat ia melihat Maya yang tetap menggenggam tangan ayahnya meski tak mendapatkan genggaman balik. Ada Manda yang setia memeluk tubuh rapuh mertuanya. Perempuan itu diam tapi Arion tahu betul di balik cadar nya pasti Manda mati-matian menggigit bibir bawahnya agar tak meraung seperti yang lain.

"Jun..." Panggilan pelan dari bibir Arion itu bisa di dengar semua orang di ruangan disana. Panggilan itu seolah menjadi lonceng penanda bahwa mereka harus memulai prosesi pemakaman Adit.

Arjuna melerai pelukannya dengan sang istri. Hawa, ia titipkan pada Zahra. Arion, Arjuna dan Zainal serta anak-anak Zahra langsung bagi tugas untuk mengebumikan Adit.

Mereka akan memandikan jenazah Adit dengan Maya ikut serta. Awalnya ide ini di tolak keras oleh Arion, tapi Maya bersikukuh bahwa ini merupakan kali terakhir melihat tubuh sang suami. Akhirnya dengan alasan itu Arion mengiyakan keinginan sang ibu.

"Terima kasih ya Mas sudah menggunakan mata ini untuk menatap ku dengan tatapan cinta. Terima kasih juga sudah menggunakan mulut ini untuk membuat ku bahagia"

"Dengan tangan ini Mas Adit juga memberiku nafkah halal. Kakinya juga dia gunakan untuk melangkah pada kebaikan. Tolong ampuni segala dosa nya Ya Allah"

"Aku bersaksi... Mas Adit suami yang baik. Aku ridho Ya Allah" Setelah mengatakan hal itu tangis Maya kembali pecah. Tangis yang membuat semua paham betapa Maya sangat kehilangan Adit.

Arion yang sejak tadi hanya bisa melihat tangis rintih sang ibu tak bisa berbuat apapun. Tangis yang di punyanya harus ia telan kembali sebab terhitung sejak Adit menghembuskan nafas terakhir nya, ia punya tugas baru yaitu menggantikan peran Adit di dalam keluarga mereka.

Takut Maya semakin tak terkendali, Arjuna membawa mertuanya keluar dari tempat dimandikan nya jasad Adit. Pemulasaraan jenazah dilanjutkan.

Adit dikebumikan dekat dengan makam kedua orang tuanya dan mertuanya. Hanya ada para laki-laki yang mengantarkan Adit ke tempat peristirahatan terakhir nya sebab Maya sudah menjalani masa iddah dan perempuan di makruh kan untuk ikut mengantar ke kuburan.

Proses di tahap akhir pun berjalan dengan lancar. Satu persatu orang yang turut mengantarkan Adit mulai membubarkan diri. Menyisakan Arion, Zainal, Anak-anak Zainal dan Zahra serta Azwin disana. Mereka mengelilingi makam Adit dengan diam.

Arion terlihat beberapa kali mengelus kayu yang bertuliskan nama sang ayah dalam diam. Pipi nya bahkan masih kering, tak basah seperti yang lain membuat Azwin mengkhawatirkan laki-laki yang sudah ia anggap bak anaknya sendiri.

"Ayo pulang" Ucapan Azwin itu hanya di respon anggukan oleh Arion.

Sebelum benar-benar meninggalkan Adit disana, Arion kembali mengelus kayu penanda itu dan menepuk tanah yang tertutup bunga itu beberapa kali seolah sedang berpamitan dengan Adit lalu tanpa semangat ia masuk ke dalam mobil.

"Manda..." Panggil Azwin saat mereka sudah sampai di rumah.

"Iya, Dad?"

"Bantu Arion membersihkan diri" Manda tersenyum sekilas lalu mengangguk. Perempuan itu tahu maksud Azwin yang menyuruhnya untuk menemani Arion.

Suaminya itu sejak tadi tak mengeluarkan emosi apapun. Arion bahkan tak melakukan apapun saat bunyi nyaring penanda Adit telah tiada terdengar. Laki-laki itu hanya berdiri kaku. Tak ada isak seperti yang lain, Arion terlihat tegar dan kuat saat itu. Tapi lebih dari itu, semua keluarga yang lain tahu betul Arion pasti kehilangan sosok Adit teramat dalam. Hanya laki-laki itu belum mengekspresikan apapun saja.

Mengikuti Arion yang berjalan pelan ke arah kamar mereka, Manda sekuat tenaga menahan isak nya. Ini kali pertama Manda melihat Arion teramat terpukul. Dulu saat mereka kehilangan anak pertama, Arion menyembunyikan sedihnya sendiri dan berpura-pura kuat di depan Manda. Akan tetapi kali ini, laki-laki itu hanya diam tanpa mengekspresikan apapun. Hal itu lah yang membuat Manda sedih.

Sesampainya di dalam kamar, Manda langsung berlari memeluk Arion dari belakang. Mengelus pelan dada suaminya yang pasti terasa sesak "menangis, Mas... Menangislah" Kalimat permohonan itu sukses membuat bendungan kesedihan Arion jebol.

Laki-laki bertubuh tinggi itu merosot seketika. Tubuhnya terlalu lama berpura-pura kuat, sampai saat ia bisa mengekspresikan dukanya, tenaganya sudah habis. Manda akhirnya berpindah dan memeluk Arion dari depan. Mereka terisak lirih, saling membagi duka yang mereka punya, satu sama lain.

"Papi ninggalin Mas, Sayang..." Ucapan Arion itu hanya bisa membuat Manda memejamkan matanya. Ia tak punya jawaban apapun untuk itu sebab semua orang di rumah itu juga merasa ditinggalkan Adit secara mendadak.

Manda menarik Arion untuk tidur di pangkuannya. Ia tak berniat untuk memberi penghiburan pada sang suami. Manda hanya ingin mendengar Arion menumpahkan kesedihan yang dirasa.

"Mas belum bisa membahagiakan Papi, Sayang..."

Ucapan Arion itu membuat Manda terdiam. Ia tahu betul maksud dari ucapan sang suami. Ini tentang keturunan yang belum bisa mereka hadiahkan pada Adit dan Maya sampai saat ini.

"Tolong berikan kesempatan itu, Ya Allah. Berikan penghiburan untuk suami hamba yang tengah kehilangan. Hidupkan sosok mungil di dalam rahim hamba agar bisa menjadi pelipur lara Mas Rion..."

"Gimana Mas bisa hidup kalau panutan Mas sudah pergi... Mas gak tahu arahnya kemana, Sayang"

Manda masih diam. Tangannya hanya mengelus pelan rambut hitam Arion. Ia masih tak punya jawaban atas semua pertanyaan Arion. Sedih mereka setara tapi rasa kehilangan itu tentu paling Arion rasakan.

"Apa yang harus Mas lakukan agar Mami gak sedih lagi? Apa yang Mas harus lakukan kalau Hawa rindu Papi? Dia anak kesayangan Papi, Sayang. Gimana cara Mas menyayangi Hawa agar dia gak merasa kasih sayang yang di punyanya berkurang? Mas harus gimana? Apa Mas bisa menggantikan sosok orang tua yang dulu kamu dapatkan dari Papi? " Ucapan pilu Arion semakin membuat Manda menggigit bibir bawahnya.

Di saat hatinya juga merasakan kehilangan, Arion malah memikirkan orang-orang di sekitarnya. Kembali mengabaikan dirinya yang juga babak belur. Membayangkan Arion harus kembali menelan sedihnya sendiri, Manda akhirnya menjawab "Mas... Yang kehilangan gak hanya semua orang di rumah ini. Mas jangan lupa kalau Mas juga ditinggalkan Papi. Pikirkan diri sendiri dulu ya, setelah ini mari sembuh sama-sama"

28122025

Borahe 💜

KARUNATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang