Dibesarkan di keluarga yang hanya mementingkan penilaian sosial membuat Arjuna terdiam dengan berita yang baru saja Hawa kabarkan.
Istrinya hamil dan harusnya Arjuna bersuka cita akan hal itu. Akan tetapi, perasaan laki-laki itu berbanding terbalik. Hatinya bingung dan takut bersamaan.
Mungkin.. Semua akan baik-baik saja apabila anak itu dibesarkan di keluarga sang istri, namun apabila sebaliknya, bagaimana?
Janji Arjuna akan pulang ke kota dimana tempatnya tumbuh setelah dari tanah suci itu lah yang membuat laki-laki itu takut. Banyak kemungkinan yang bisa terjadi disana, termasuk kemungkinan untuk menetap.
Lalu bagaimana dengan Hawa dan keinginan nya untuk memberikan keluarga yang utuh untuk anak mereka?
Tak mendapat respon apapun setelah mengumumkan kemungkinan ia tengah berbadan dua, mata perempuan bernama Aretha Hawa Wardhana itu kembali memanas.
Tatapan nya memang mengarah pada Ka'bah namun hatinya sedang memikirkan pria disamping nya yang berstatus suaminya tersebut.
Kemungkinan Arjuna tak menyukai kehamilannya, tentu menjadi dugaan Hawa saat ini. Tak peduli seberapa kuatnya perjanjian yang pernah ia minta saat mereka menikah dulu, Hawa tetap ingin anaknya punya keluarga yang utuh.
Hidup terpisah dan haus akan kasih sayang sosok ayah pernah terjadi padanya. Bahkan sodara kembar nya harus meregang nyawa akibat olokan teman-teman mereka saat keduanya masih duduk di bangku sekolah.
Memikirkan sang anak nantinya akan bernasib sama dengannya, tentu menjadi kesedihan tersendiri untuk Hawa.
"Tolong jangan beri nasib yang sama untuk anakku, Ya Allah"
Keinginan yang jalannya sudah jelas, dimana harus menjadikan Arjuna satu-satunya laki-laki untuk tempatnya pulang.
"Ya Allah... Engkau yang Maha membolak-balikan hati, buat hati kecil ini menerima keberadaan nya, nyaman ada di dekatnya, dan merasakan cinta yang harusnya ada"
"Kamu pasti mendengar pembicaraan saya dengan Papa tadi kan?" Lamunan Hawa pecah ketika Arjuna mulai buka suara "keluarga saya tidak se-cemara keluarga kamu" Imbuh Arjuna yang membuat kening Hawa berkerut mendengar itu "kami saat ini sedang bermasalah"
Akhirnya, Arjuna membuka diri pada sang istri. Retakan dan pecah yang selama ini ia telan sendiri, kini dengan sadar ia bagi pada Hawa.
"Abang saya sedang terlibat masalah besar, dan mau tak mau Papa menyuruh saya pegang kendali" Hawa mengangguk paham.
"-- sejujurnya saya tak ingin membawa kamu masuk dalam persoalan keluarga saya. Itu terlalu rumit dan pasti sangat melelahkan"
"Ma-maksud Mas apa? Kita selesai?" Rintihan kecil yang keluar dari mulut Hawa itu membuat Arjuna menarik pelan perempuan berstatus istrinya itu untuk masuk ke dalam pelukannya "Mas jahat!! Aku lagi hami tapi Mas malah kepikiran untuk mengakhiri pernikahan kita" Ujar Hawa menangis dan memukul-mukul pelan dada bidang sang suami.
"Retha..." Panggilan dalam yang Arjuna lakukan semakin membuat Hawa menangis tersedu-sedu.
"Lepas!! Aku gak mau dipeluk laki-laki yang gak mau bertanggung jawab!!"
"Saya gak akan ngelepasin kamu, sampai kamu tenang"
Ancaman yang Arjuna berikan sukses membuat Hawa berupaya mengendalikan dirinya. Perempuan itu lebih tenang, meskipun sesekali senggukan terdengar keluar dari mulutnya.
"Jangan lupa perjanjian pra-nikah kita" Ucap Hawa penuh intimidasi.
Arjuna mengangguk. Lengannya mulai merenggang, memberi ruang bebas untuk tubuh kecil sang istri "saya memang pernah berpikir untuk melepas mu, bahkan tadi pun saya berpikir hal itu, dek... Tapi setelah kamu memberitahu bahwa akan ada anak di antara kita, saya mengesampingkan pikiran itu"
"-- rasanya Allah sedang memberikan jawaban untuk pertanyaan saya sesaat setelah datang di tempat ini"
"-- tapi kalau boleh saya bicara... Saya takut"
"-- saya takut anak kita akan jadi boneka Papa saya di kemudian hari. Saya takut kamu tak lagi punya privasi, identitas kamu harus terekspos di mana-mana dan setiap tingkah laku mu akan dinilai banyak orang"
Hawa hanya bisa memandang suaminya dengan diam. Entah bagaimana cara kerjanya, rasanya Allah membuat matanya melihat sisi lain Arjuna yang selama ini tak ia ketahui.
"Sejak awal Mas sudah bilang, kalau resiko menikah dengan Mas adalah identitas ku terekspos. Tapi entah kenapa, sampai saat ini aku gak merasakan itu. Apa itu ulah Mas?"
Arjuna mengangguk "dua bulan sebelum bertemu dengan kamu, saya mencari tahu tentang kamu dan keluarga mu. Banyak artikel memuat berita tentang Papi dan Bang Rion saja tapi hanya segelintir berita tentang Mami dan kamu. Saya bahkan tak mengenal Kak Manda karena hampir tak ada berita tentangnya"
"Keluarga kalian tak banyak skandal. Bahkan bisa dibilang privasi kalian amat terjaga. Papi dan Bang Rion tahu cara menjaga perempuan-perempuan di keluarga mereka. Tapi semua itu tak berlaku di keluarga saya"
"Keluarga saya akan mengekspos apapun yang berpotensi menaikkan nilai jual perusahaan kami dimata dunia. Kami bahkan bisa menjadikan privasi kami sebagai tumbal untuk menjaga kestabilan saham. Dan itu termasuk pernikahan kita"
"Alasan Papa saya meminta kita menikah dan membuat pengumuman status saya, tak lain dan tak bukan untuk menjaga nama baik perusahaan kami. Bukan seperti alasan Papa ke kamu saat itu"
Tubuh Hawa menegang. Ia tak menyangka alasan Aris memintanya untuk menikah dengan Arjuna tak lain dan tak bukan untuk menjaga kestabilan perusahaan mereka akibat skandal yang terjadi, bukan untuk menjaga marwahnya sebagai perempuan.
"Memutuskan menikah dengan saya itu sama saja menerima resikonya, itu lah maksud dari tujuan saya memberitahu kamu sebelumnya bahwa identitas mu akan terancam jadi konsumsi publik. Saya sudah sebisa mungkin untuk menahan itu selama ini tapi sepertinya kali ini tak lagi bisa saya lakukan sebab bagi Papa saya, pernikahan kita dan identitas kamu akan jadi tambalan yang sempurna untuk masalah yang sedang kami hadapi"
"--- dan mungkin, ke depannya, anak kita..." Arjuna menghela nafas dalam sebelum akhirnya mengatakan "... Dan mungkin anak kita juga akan mengalami hal yang sama"
Membayangkan dirinya dan sang anak akan menjadi pusat kamera wartawan saja Hawa sudah berkeringat dingin. Harusnya di tempat yang indah ini dan di momen yang indah ini ia tak perlu mengkhawatirkan apapun. Namun nyatanya, ia malah ketakutan.
Keterdiaman Hawa membuat Arjuna hanya bisa menghela nafas berkali-kali. Hidupnya akan semakin rumit saat ada satu lagi tambahan orang yang harus ia lindungi dari sang ayah.
"Kamu bisa...." Belum sampai Arjuna menyelesaikan ucapannya, Hawa lebih dulu memotongnya "aku bisa percaya sama Mas kan?"
Pertanyaan itu membuat Arjuna menegang, hatinya bergemuruh saat mendengar kalimat pengharapan dari sang istri.
"Mas akan melindungi kita apapun yang terjadi kan?" Kembali, Hawa mengucapkan harapannya pada Arjuna, yang membuat laki-laki menarik kembali tubuh sang istri untuk masuk ke dalam dekapan nya "saya tak bisa menjanjikan apapun. Mungkin suatu saat saya lah yang akan menjadi alasan mengapa kamu menangis... Tapi diluar itu, saya akan berusaha. Saya akan berusaha memastikan kalian baik-baik saja"
"Adek dengar itu? Papa akan mengusahakan semuanya, jadi tugas adek hanya tumbuh dengan baik di dalam sana ya. Tunggu sampai saat kita bertemu nanti" Hawa mengelus pelan perut datanya sambil menenggelamkan kepalanya semakin dalam ke dada Arjuna.
"Ya Allah bantu saya untuk menjaga amanahMu ini. Tumbuhkan rasa kami, buat kami mampu menjadi orang tua untuk anak-anak kami kelak" Rintih Arjuna dalam hati.
13122025
Borahe 💜
KAMU SEDANG MEMBACA
KARUNA
RomanceAwal nya tak pernah kenal sebelumnya, tak pula di jodohkan, keinginan menikah pun tak pernah terbesit, namun tiba-tiba hati Arion tergerak untuk menikahi sahabat adiknya itu.. Sayangnya, rencana untuk menikahnya tidak sesuai dengan kemauannya. Detik...
