Enam Puluh Tujuh

180 12 0
                                        

Maya kini tahu alasan mengapa sang suami selalu menolak untuk pemeriksaan kesehatan bersama. Laki-laki yang sudah membuat Maya jatuh cinta itu bahkan bisa dengan rapi membungkus semua kesedihan nya sendiri. Adit benar-benar jago untuk menutupi semua penyakitnya.

Bahkan sampai semua orang tahu, Adit masih bersikukuh dirinya baik-baik. Pantas saja, Maya sering melihat obat yang Adit minum bertambah banyak. Suaminya itu juga pernah memintanya untuk merekomendasikan sampo pencegah rontok yang ampuh agar keluarganya tak melihat perbedaan di kepala nya.

"Mas..." Bisikan lirih Maya yang tengah menggenggam tangan Adit yang terbebas dari selang infus, tak bisa menutupi kesedihannya "aku gimana..." Imbuhnya tersedu.

Detik itu juga saat mengetahui Adit tak baik-baik saja, Arion meminta laki-laki itu untuk langsung di rawat inap. Ia ingin dokter mencari cara agar ayahnya sembuh tak peduli seberapa banyak biaya yang harus ia keluarkan, Arion akan bayar.

"Mas itu gak papa, Sayang" Ucap Adit mencoba meyakinkan Maya "Kenapa harus di rawat sih Bang? Papi sehat gini loh. Abang tega liat Mami jadi kepikiran gini?" Kini laki-laki itu bertanya pada anak sulung nya, yang sedang berdiri di balik tubuh sang istri.

Arion tak menjawab apapun. Ia hanya menguatkan genggaman tangannya pada tangan sang istri. Ia butuh banyak suplay tenaga dari Manda karena berita yang mendadak ini.

"Jangan nangis, Sayang" Lagi, Adit menghibur Maya yang sejak tadi tidak bisa menghalau air mata nya.

Tak hanya Maya yang menitikkan air mata nya, sejak tadi mata Manda juga sudah basah  sedang Arion beberapa kali menengadah untuk mencegah air mata nya menetes. Ia tak ingin terlihat lemah di depan Maya juga Adit.

Tak sanggup menahan sesaknya, Arion akhirnya memilih untuk keluar dari ruang rawat inap Adit. Ia mendudukkan dirinya di kursi panjang tepat di depan pintu ruangan Adit.

Air yang sejak tadi ia tahan, mengucur deras tanpa bisa di cegah. Arion menggunakan kedua tangannya untuk menutupi seluruh permukaan wajahnya. Rasanya ia ingin berteriak kencang, mempertanyakan mengapa harus ayahnya lah yang menderita sakit ini.

"Mas jangan putus asa... Kita coba sampai Luar Negeri" Mungkin ucapan Manda itu terasa seperti angin segar bagi orang-orang yang masih berada di awal penyakit nya, tapi untuk kasus Adit, mereka sudah terlambat banyak. Dokter mengatakan penyakit yang menggerogoti Adit mulai menyebar ke organ-organ dalam tubuh laki-laki itu.

"Kenapa Mas gak pernah memperhatikan kalau Papi sudah sekurus itu, Sayang" Lagi, lagi penyesalan lah yang mengikis semangat Arion.

"Gak cuma, Mas. Semua orang, termasuk Mami pun terkecoh, Mas" Manda bisa merasakan kesedihan yang terpampang jelas di wajah sang suami. Namun, ia tak bisa berbuat banyak selain kembali menuangkan bahan bakar agar Arion tak terlalu menyalahkan dirinya sendiri.

Memikirkan banyaknya kemungkinan yang bisa terjadi pada tubuh tua sang ayah, Arion hanya bisa menghela nafas dalam. Adit bukan orang yang akan menyerah begitu saja, tapi Arion juga tahu bahwa Adit orang yang bisa menahan sakitnya sendiri.

"Adek gimana?" Arion benar-benar tak bisa merasakan kesedihan nya secara utuh. Ia harus memikirkan banyak cara agar Adit sembuh, ia juga harus memikirkan Maya dan Hawa secara bersamaan. Hawa memang sudah punya Arjuna sebagai sandaran tapi Arion tahu Hawa jelas akan merasakan sakit berkali-kali lipat sebab perempuan itu lebih dekat dengan ayah mereka.

"Aku gak menghubungi adek, Mas.. Tapi aku menghubungi Arjuna" Arion mengangguk mantap. Istrinya pintar membaca situasi.

Dan seolah seperti kata pepatah tentang kehadiran seseorang setelah dibicarakan, Hawa tiba-tiba muncul di hadapan Arion dan Manda bersama Arjuna dan Giandra.

"Bang... Kak... Siapa yang sakit?" Tanya Hawa tergesa. Arion hanya tersenyum lalu memeluk erat tubuh adiknya itu. Sampai pelukan mereka terlepas pun, Arion tak mengatakan apapun. Mata sang kakak yang merah cukup untuk Hawa mengambil kesimpulan ada yang tidak beres yang coba kakaknya itu sembunyikan.

Tak ingin semakin penasaran, Hawa berbalik dan membuka pintu ruang kamar rawat inap yang berada tepat di depan tempat duduk Arion. Dan betapa terkejut nya, saat kedua mata nya melihat Adit lah yang terbaring di ranjang pesakitan itu.

Tangis histeris seketika menggema di lorong rumah sakit kelas naratama tersebut. Hawa meraung sambil mencengkram erat gagang pintu kamar perawatan Adit. Saat Arjuna akan menenangkan sang istri, Arion lebih dulu mencekal lengan ipar nya tersebut. Ia menggeleng, tidak memperbolehkan Arjuna untuk mendekat pada Hawa. Arion ingin Hawa menumpahkan tangisnya lebih dulu sebelum perempuan itu mengetahui keadaan Adit sesungguhnya.

Tak jauh berbeda dengan Hawa, Maya dan Manda pun juga ikut menangis. Bahkan Adit yang sejak tadi bersikap baik-baik akhirnya menyerah dan memperlihatkan kesakitan nya pada anak bungsu nya itu. Laki-laki itu sedih melihat Hawa menangisi dirinya seolah itu menjadi cermin bahwa ia telah gagal menjaga anak perempuan nya.

Setelah Hawa dirasa lebih tenang, Arion mendekat. Ia peluk erat tubuh sang adik dan membisikkan kata "kanker prostat stadium lanjut"

Hawa terdiam. Ia sudah kehabisan tenaga untuk mengekspresikan sedih nya. Tak ada raungan sedih atau apapun itu. Hanya ada air mata yang sejak tadi terus mengalir tanpa bisa ia cegah. Seolah ia hanya melewatkan ucapan Arion dari telinga kiri ke telinga kanan nya.

Melihat tak ada pergerakan apapun dari Arion maupun Hawa, Arjuna berinisiatif untuk mendekatkan Hawa dengan Adit. Ia menggandeng tangan sang istri untuk lebih maju, masuk dan mendekat pada mertuanya.

"Terima kasih sudah membuat anak saya lebih berisi daripada sebelumnya ya Jun" Kalimat guyonan itu mengucur dengan pelan dari bibir pucat Adit. Arjuna hanya mengangguk pelan, ia tahu maksud Adit bukan hanya sekedar tentang tanggung jawabnya memberi Hawa makan, tapi untuk segalanya yang sudah Arjuna lakukan sampai-sampai Hawa terlihat lebih berisi daripada sebelumnya.

"Adek gak mau peluk Papi?" Lirih dan penuh kesakitan.

Hawa hanya bisa menggeleng pelan. Dadanya sesak melihat pahlawan nya terbaring sakit dengan selang oksigen dan infus yang menghiasi tubuh pucat Adit.

"Tapi Papi kangen adek... Sekali aja peluk Papi, Papi janji setelah ini Papi gak akan minta peluk-peluk lagi"

"Mas!!" Teriakan Maya hanya di balas dengan cengiran paksa yang Adit punya.

"Kenapa, Sayang? Mau dipeluk juga, sini..."

Maya menggeleng. Sama seperti Hawa, Maya memilih hanya menggenggam erat tangan Adit "Jun... Kamu juga gak mau meluk saya?" Kali ini Arjuna menyerah. Ia yang lebih dulu menurunkan kekhawatiran nya pada kata-kata Adit yang seakan sedang memberikan salam perpisahan itu "Jaga anak saya dengan baik ya Jun. Dia pasti akan sering nangis" Bisikan itu teramat lirih, namun masih bisa Arjuna dengar.

Selepas pelukannya dengan Arjuna lepas, Adit memandang satu persatu anggota keluarga. Pandangan nya kali ini jatuh pada Manda yang tengah menggendong Giandra di lengannya "sini, Sayang, deket Kakek"

Maya menyingkir, memberi ruang bagi Manda yang tengah menggendong Giandra untuk mendekat pada sang suami "cucu kakek yang ganteng, nanti bantu Papa untuk jagain Mama ya" Ujar Adit sambil mengelus pelan pipi Giandra yang gembul "jangan sedih ya Manda, nanti kamu akan punya yang seperti Giandra" Imbuhnya menatap sang menantu.

Setelah itu, Adit memaksa Hawa dan Maya untuk memeluknya. Namun tak seperti yang lain, Adit lebih memilih untuk diam dan meresapi pelukan nya. Tangannya bergerak pelan pada hijab yang dipakai keduanya.

Sedang Arion hanya bisa mengamati semuanya dalam diam. Hanya ia satu-satunya anggota keluarga yang tersisa yang belum memeluk tubuh renta itu. Dan saat gilirannya tiba, layar di monitor pendeteksi denyut jantung terdengar nyaring tanpa jeda.

Hari itu Adit pergi ditemani seluruh keluarganya.

26122025

Borahe 💜

KARUNACerita yang bikin terobses. Temukan sekarang