Enam Puluh Tiga

167 10 0
                                        

"Jagain adek gue" Ucapan Arion itu hanya di balas anggukan kepala oleh Arjuna.

Manda yang tiba-tiba di tarik begitu saja oleh Arion, sedikit terpekik "ehhh...Mas, kenapa? Itu adek gimana?" Tunjuk Manda pada Hawa yang tengah menyapa anak kecil seusai sholat tadi.

"Biar sama suami nya. Kita jalan-jalan berdua aja"

"Kenapa?" Arion mengerutkan kening mendengar pertanyaan Manda yang semakin mempertanyakan, mengapa Hawa tak turut serta.

"Biarkan mereka dekat, Sayang. Adek sama Arjuna butuh waktu banyak untuk saling mendekatkan diri"

Manda memercingkan matanya menatap sang suami "sudah ngasih restu ini ceritanya?" Ledek nya pada Arion.

"Ya gimana gak ngasih restu, si adek hamil gitu" Mendengar jawaban Arion yang asal, Manda reflek mencubit pinggang laki-laki itu "ehh, ehh, sakit, Sayang..."

"Makanya jangan ngomong asal deh"

"Ya maaf..."

Perdebatan itu berakhir dengan genggaman yang saling menguat satu sama lain. Tak ada kata yang terucap dari bibir keduanya, namun tautan Manda dan Arion cukup untuk menjelaskan semua.

Tanpa dikte, hati keduanya sedang merayu Allah. Meminta hal yang sama dengan apa yang Allah beri pada Hawa, sebuah keturunan, yang nantinya akan menjadi penerus ke khalifah-an mereka di dunia.

"Mau es krim?" Tanya Arion begitu matanya melihat penjual es krim tak jauh dari tempat mereka berdiri.

Beberapa pembeli membuat nya harus menelan ludahnya sendiri karena penampakan es krim itu "tadi sudah banyak makan gula, Mas" Jawaban Manda hanya bisa di balas dengan helaan nafas pasrah Arion sebab laki-laki itu terlalu malu untuk makan es krim seorang diri.

"Ya sudah duduk disini aja ya?" Manda hanya mengangguk saat ia menyadari bahwa mereka sudah berjalan cukup lama.

"Sore itu pengingat bahwa hari akan berakhir" Ucapan Arion mengalihkan pandangan Manda yang sejak tadi menatap pantulan cahaya senja di jam dinding terbesar disana pada sang suami "tapi disini, sore bukan batas hari... Karena tak ada batasan untuk selalu sujud pada Allah" Imbuh Arion.

Manda menganggukkan kepalanya setuju dengan apa yang Arion katakan.

Di Kota magis ini, semua orang meletakkan dunia mereka di posisi paling akhir. Semua berlomba-lomba dalam kebaikan. Merayu Allah untuk senantiasa memberikan kebahagiaan akhirat yang nantinya menjadi akhir pejalanan manusia.

"Andai bisa tinggal disini seterusnya ya, Mas..." Sebuah keinginan itu muncul mendadak dalam pikiran Manda saat ia kembali di ijinkan untuk datang di tempat suci ini. Tempat yang selalu membuat nyaman tanpa tapi.

Rasa lega sekaligus bahagia selalu mendominasi saat ia menyadari bahwa dirinya punya Dzat Yang Maha Segala-galanya.

"Harusnya aku gak perlu mengkhawatirkan dunia kan ya, Mas?... Aku gak perlu nangis sampai sesegukkan kayak tadi hanya karena apa yang menjadi ingin ku belum Allah wujudkan..."

Ungkapan penyesalan Manda itu membuat Arion harus menengadahkan kepalanya guna menghalangi genangan air mata yang siap meluncur deras.

Tak ada yang salah dengan keinginan Manda. Ia hanya manusia biasa yang kadang khilaf dan iri akan pencapaian orang lain. Hal yang wajar, saat apa yang Hawa alami adalah mimpinya selama ini.

Akan tetapi, tindakan Manda juga tak dapat dibenarkan sebab perempuan itu lupa bahwa bunga selalu punya waktunya sendiri-sendiri untuk mekar.

"Semua itu wajar, Sayang. Kamu hanya terlalu ingin, sampai lupa kalau Allah sudah menyiapkan waktu yang tepat untuk semua keinginan mu itu" Jawaban Arion membuat Manda semakin menggenggam erat tangan suaminya itu.

Hatinya berkali-kali bersyukur bahwa Arion lah yang menikahinya, bukan orang lain. Entah apa jadinya, apabila ia menikah dengan orang tak sebijak Arion.

"Emm... Kalau, ini kalau ya, Mas... Kalau aku gak bisa ngasih keturunan gimana?" Ada sendu di tiap kata yang Manda ucapkan meskipun bibir perempuan itu melengkung sempurna.

Senja tak lagi jadi fokus pengelihatan Arion. Laki-laki itu menatap dalam wajah samping istrinya sebelum akhirnya menjawab pertanyaan sakral itu "anak itu bukan tujuan pernikahan, Sayang karena setelah anak beranjak dewasa, Mas akan kembali lagi sama kamu. Jadi gak masalah kalau seandainya kita hidup hanya berdua" Arion menarik nafasnya dalam sebelum menambahkan "tapi kepasrahan itu akan terjadi, setelah kita berupaya. Mas percaya, selama kamu masih punya rahim maka kamu masih punya kemungkinan untuk hamil"

Arion mengutip cerita sang nenek. Kalimat terakhir yang ia ucapkan itu adalah kalimat yang pernah neneknya ucapkan pada ibunya, Mata saat Maya membohongi ibu dari Adit, dengan alasan mandul.

"Terima kasih ya Mas sudah menerima aku dengan segala baik buruk ku"

Arion hanya mengangguk tipis. Di tariknya Manda untuk lebih mendekat padanya. Di rengkuh nya tubuh kecil itu sambil menatap senja yang indah.

"Adek gak papa ini ditinggal berdua sama Arjuna?"

"Gak papa. Arjuna gak akan berani macam-macam kok"

Manda mengangguk pelan, lalu merebahkan kepalanya pada dada bidang sang suami.

***

Di sisi lain, Arjuna dan Hawa pun tengah menikmati sore di Mekkah.
Mereka tak berkeliling, Ka'bah lagi lah yang kembali menjadi tujuan mereka.

"Mau coba mendekat kesana?" Ucapan Arjuna sukses memecahkan keheningan di antara mereka.

Hawa menoleh barang sebentar pada suaminya itu lalu kembali menatap bangunan Ka'bah yang terlihat megah "enggak, Mas"

Jawaban Hawa yang berbanding terbalik dengan jawaban banyak orang yang sudah berkunjung disana, membuat Arjuna mengerutkan kening "kenapa?"

Tak ada jawaban dari Hawa. Yang ada perempuan itu menghela nafasnya dalam dan sesekali terdengar lantunan istighfar keluar dari mulutnya.

"Ada apa?" Tanya Arjuna menuntut. Laki-laki itu jelas tahu ada yang mengganggu pikiran sang istri saat ini, tapi apa? Bukankah tempat suci ini adalah tempat yang tepat untuk meletakkan masalah dunia yang ada? Namun, mengapa Hawa terlihat berbeda "ada yang mengganggu pikiran mu? Beri tahu pada saya. Sebisa mungkin saya akan bantu mengatasinya"

Pernyataan Arjuna itu membuat Hawa menunduk dalam. Hatinya bimbang harus bagaimana. Rasanya ingin memberi tahu Arjuna tentang kemungkinan keberadaan anak mereka di dalam perutnya, tapi Hawa juga tak ingin membuat keberadaan janin itu akhirnya membuat Arjuna semakin terpaksa menjalani kehidupan rumah tangga dengannya, yang hatinya masih terpaut dengan mantan suaminya yang sudah terlelap.

"Pernikahan kita bagaimana, Mas?"

Arjuna seketika menghela nafas panjang. Ia pun sulit untuk mengambil keputusan yang baik dan buruknya jelas akan tetap menyakiti Hawa.

"Kamu ingin saya seperti apa?" Balik di tanya dengan pertanyaan yang jauh lebih sulit, Hawa hanya diam sejenak.

"Hati ku masih belum sepenuhnya menerima pernikahan ini, Mas karena hati ku masih milik Bang Alif. Maaf kalau jawaban ku tak sesuai, aku hanya ingin menjawab apa adanya..." Hawa sengaja menjeda ucapannya guna menunggu respon Arjuna. Akan tetapi, laki-laki tak memberikan respon yang berarti. Arjuna hanya mengangguk kecil sebelum Hawa kembali menyambung ucapannya "tapi... Aku juga ingin memberikan kehidupan yang utuh untuk anak kita"

Satu detik.

Dua detik.

Tiga detik.

Di detik ke tujuh, Arjuna baru bisa memproses makna akhir ucapan Hawa tersebut "an-anak kita? Maksud kamu?"

"Aku kemungkinan hamil, Mas"

09122025

Borahe 💜

KARUNATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang