Lima Puluh Satu

157 10 1
                                        

"... Juna"

Mendengar nama suaminya disebut, tubuh Hawa seketika menegang. Dalam hatinya, ia mulai menghitung sudah berapa hari mereka dalam ikatan suami istri. Dan benar saja tebakan Hawa, dirinya sudah berstatus istri Mavin Arjuna Sutoyo selama dua bulan.

Ingatannya kembali pada hari dimana ia dipersunting Arjuna. Malam itu, meski terpaksa tapi keputusan yang Hawa ambil adalah keputusan nya sendiri.

Tiap bagian Hawa ingat dengan baik, termasuk waktu yang Arjuna ucapkan untuk menyusulnya di kota ini.

Dua bulan.

Ya. Saat itu Arjuna mengatakan dua bulan setelah mereka menikah, ia ingin di pindah tugaskan di anak perusahaan Sutoyo yang berada di kota tempat tinggal Hawa.

Buru-buru Hawa mengecek ponsel pintar nya dan membuka pesan laki-laki itu tadi pagi. Arjuna hanya mengirim bukti perpindahan uang ke dalam rekening yang Hawa punya. Tak ada disana, laki-laki itu mengatakan akan mendatangi nya. Hal itu cukup melegakan bagi Hawa, sebab hidupnya masih belum direpotkan dengan mengurus suami terpaksa nya.

"Kenapa kamu, dek? Berubah pikiran mau traktir Mami sama Kakak mu?" Arion mencoba mengalihkan topik, yang tadinya sempat menyenggol adik ipar barunya.

Hawa yang mendapat sindiran itu, menatap sang kakak bengis "mau Kakak beli tas dua pun, adek mampu tau" Ujarnya masih sok sombong.

Arion yang mendapat jawaban itu seketika terbahak "berapa sih, berapa tabungan Aretha Hawa Wardhana yang cantik ini? Bisikin dong"

"Ya, walau gak sebanyak Abang, setidaknya bisa lah buat beli mobil kayak punya Kak Manda"

Jawaban Hawa membuat Arion menatapnya tak percaya. Adit dan Maya pun juga melakukan hal yang sama. Sedang Manda yang memang tak tahu berapa harga mobil pemberian Azwin hanya bisa tersenyum di balik cadar nya. Bagi Manda, Hawa selalu punya cara untuk menunjukkan kedudukannya sebagai anak bungsu yang di manja.

"Yakin kamu punya tabungan segitu dek?" Kini ganti Adit yang tak percaya dengan ucapan sang putri.

Hawa hanya mengangguk lalu kembali meneruskan sarapan pagi nya.

"Duit dari mana kamu?" Tanya Arion penuh selidik "gaji Dokter umum, Abang tau lah jumlahnya. Uang saku dari Papi sama Abang juga gak sebanyak itu. Terus darimana duit mu? Kamu gak ikut pencucian uang kan dek?" Cecar Arion.

Hawa menghela nafas nya dalam sebelum akhirnya ia menjawab pertanyaan sang kakak "adek punya saham di perusahaan Sutoyo"

Mata Arion membola mendengar jawaban adiknya. Ia bahkan menatap bergantian Adit dan Maya guna membenarkan apa yang Hawa katakan. Namun saat kepala Adit mengangguk samar, Arion semakin di buat terdiam.

"Percaya kan, Bang?" Ujar Hawa dengan guyonan mengejek "tenang-tenang, hari ini hidup Kak Manda, adek yang jamin" Imbuh Hawa.

Setelah ucapan Hawa itu, suasana mendadak hening. Arion dan seluruh penghuni rumah itu terdiam. Tak ada satupun yang angkat bicara termasuk Nenek Iroh. Pagi itu mereka menghabiskan sisa sarapan dengan tenang.

"Ada apa sih Bang?" Tanya Manda begitu ia sudah di depan rumah guna mengantar Arion bekerja.

Arion menghela nafasnya sebelum menjawab pertanyaan sang istri "nanti korek informasi tentang pernikahan adek ya, Sayang. Mas penasaran gimana tuh bocah bisa dengan mudah dapet saham keluarga Sutoyo. Takutnya itu cara si Juna aja untuk menjadikan adek budaknya"

"Huss, gak boleh ngomong gitu Mas. Jangan punya pikiran jelek sama orang, apalagi adik ipar sendiri"

"Dunia bisnis itu gak sesuci itu, Sayang. Apalagi  perusahaan keluarga Sutoyo bukan perusahaan kaleng-kaleng"

Manda hanya bisa mengangguk pasrah mendengar itu. Namun jauh di dalam hatinya, ia mendoakan pernikahan Hawa dengan Arjuna baik-baik saja.

"Nanti pakai kartu yang Mas kasih untuk bayar semua belanjaan kalian ya, sekalipun kalian beli tas baru" Perintah Arion hanya diangguki oleh Manda. Ia cukup paham kekhawatiran yang suaminya itu rasakan pada sang adik.

"Mas tenang aja. Aku bakalan ngabisin duit di dalam kartu itu. Hahaha"

"Boleh, boleh banget. Ya udah kalau gitu, Mas berangkat ya, Sayang" Kecupan lembut berbatas cadar Manda berikan di punggung tangan Arion, yang dibalas dengan kecupan singkat di kening sang istri

"Semoga selalu sehat, selamat dan lancar dalam pekerjaan ya Mas. Pulang bawa rejeki yang halal. Aamiin" Doa sederhana yang selalu Manda ulang setiap hari untuk Arion, membuat kepercayaan diri Arion naik berkali-kali lipat.

"Terima kasih ya, Cantik. Mas berangkat dulu"

***

"Nenek mau Hawa belikan apa?" Tanya Hawa saat menemani Nek Iroh berjemur di halaman  belakang rumah Adit.

Rumah yang Adit tempati adalah rumah kedua orang tuanya dulu yaitu Bu Jihan dan Pak Andika.

Ada tiga bangunan di tanah yang cukup luas itu. Satu rumah utama, satu paviliun dan satu rumah untuk pekerja di bagian belakang.

Tepat di belakang rumah utama, ada halaman yang cukup luas, yang selalu menjadi tempat favorit Nenek Iroh di pagi hari. Nenek Iroh selalu mengambil tempat di samping tanaman mawar yang Maya rawat dengan baik.

"Nenek gak pingin apa-apa. Nenek mau kami atau Manda jadi kayak mawar ini"

"Mawar? Kenapa mawar, Nek?" Kening Hawa cukup berkerut mendengar ucapan Nenek Iroh yang tiba-tiba.

"Mawar itu sempurna karena durinya. Duri yang menjadi pelindungnya. Kalau wanita itu mawar, duri itu aturan Allah. Wanita dengan aturan Allah itu dua hal yang tidak bisa dipisahkan"

"-- tapi sayangnya, banyak orang yang mengira aturan itu mempersulit diri. Etika berbusana di atur, etika berbicara diatur, bahkan etika berinteraksi pun di atur. Semua-semua di atur, termasuk bagaimana posisi perempuan di rumah tangga pun di atur"

"-- manut, ngabdi sama suami itu bukan karena kita lemah. Tapi karena kita tahu aturan. Boleh mandiri tapi jangan sampai lupa diri"

Wejangan tiba-tiba dari Nenek Iroh membuat Hawa menatap dalam perempuan yang sudah renta itu. Tangan keriputnya yang sejak tadi membelai kelopak bunga mawar di sebelahnya tanpa henti.

Entah mengapa, Hawa merasakan Nenek Iroh tahu akan pernikahan dadakan nya.

"Nek..."

"Hmm..."

Kedua telapak tangan Hawa mulai berkeringat. Perasannya terlalu gugup untuk menceritakan hal yang sudah terjadi padanya. Namun, entah dorongan dari mana, hatinya mengatakan ini waktu yang tepat untuk memberitahu Nenek Iroh akan statusnya yang baru.

"Hawa sudah menikah lagi Nek"

Ucapan Hawa ini membuat elusan Nenek Iroh pada kelopak mawar terhenti sesaat. Ia menatap janda cucu pertamanya ini lalu tersenyum pelan "Nenek sudah tahu".

Pengakuan Nenek Iroh membuat Hawa menegang sempurna. Keringat mulai membanjiri kening Hawa "Nenek tau? Dari siapa?" Tanya Hawa tak sabar. Yang perempuan itu tahu, tak ada satupun dari anggota keluarga nya yang berniat memberitahu Nenek Iroh sebelum Arjuna benar-benar sudah tinggal dengan nya. Lalu siapa?

"Dari Alif"

09112025

Borahe 💜

KARUNATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang