Tiga pasang suami istri itu terdiam tanpa ada satu pun dari mereka berniat membuka obrolan. Semua nya sibuk dengan pikiran masing-masing, sampai-sampai mereka tak sadar kalau mobil mereka telah berhenti di terminal bandara.
"Saling menjaga ya..." Itu pesan yang bisa Adit sampaikan saat ia harus melepas empat anaknya pergi umroh.
Ya. Umroh itu akhirnya terlaksana, dua minggu setelah perbincangan mereka kala itu.
"Semoga perjalanan kali ini, bisa saling menguatkan hubungan kalian" Doa kecil yang Maya sisipakan itulah yang menjadikan alasannya dengan sang suami memberi anak-anak mereka hadiah umroh.
Mungkin bagi Arion dan Manda hubungan mereka sudah kuat. Perasaan mereka pun tumbuh tanpa ada lagi paksaan. Namun di usia pernikahan lebih dari satu tahun ini, ada harap yang sedang mereka usahakan. Kehadiran buah hati yang keduanya nanti, jelas sedikit banyak memperngaruhi hubungan mereka.
Ada rasa lelah, ingin menyerah bahkan rasa ingin yang kadang harus ditelan sendiri karena tak ingin saling menyakiti. Berpura-pura baik-baik saja, padahal hati masih dipenuhi penyesalan karena kejadian lampau, saat keduanya kehilangan buah cinta pertama mereka.
Sedang, di hubungan Arjuna dan Hawa, kedua manusia itu terlihat baik-baik saja di luar tapi baik Maya maupun Adit tahu, enam bulan tinggal bersama tak lantas membuat hubungan mereka ada kemajuan. Mereka hanya menjalankan peran tanpa ada rasa di dalamnya.
Tentu, ini juga menjadi ketakutan orang tua itu. Riwayat yang pernah Hawa punya, cukuplah menjadi luka perempuan itu dulu. Adit berharap, meski pernikahan Hawa bukanlah pernikahan impian anaknya, tapi ia berharap melalui pernikahan ini anaknya bisa kembali bahagia walaupun Adit sendiri tahu jalan mereka untuk sampai di tempat kebahagiaan itu berada tak mudah.
"Mereka akan baik-baik aja kan, Mas?" Tanya Maya yang mulai kehilangan bayangan empat anak-anak nya.
Adit tak menjawab, ia hanya menggenggam erat tangan sang istri dan mulai menuntun Maya untuk kembali ke tempat dimana mobil mereka berada.
"Kita sedang berusaha, Sayang. Masalah hasilnya serahkan sama Allah" Ujar Adit tiba-tiba saat kemacetan menjebak mereka.
Usianya boleh hampir kepala tujuh, tapi untuk tenaga dan pikiran Adit tetaplah Adit dengan kemampuannya layaknya usia dua puluh tahun di bawahnya.
"Mereka pasti tidak akan menyia-nyiakan perjalanan ini begitu saja, terutama Juna yang memang baru pertama kali menginjakkan kaki di tanah haram" Imbuh Adit.
"Mas tau sesuatu tentang anak itu?" Kini Maya benar-benar memfokuskan pengelihatan nya pada Adit yang tengah menyetir.
Adit menoleh sebentar ke Maya "siapa? Arjuna?" Tanya Adit tak mengerti.
Maya mengangguk "iya". Jawaban Maya membuat Adit menghela nafas panjang. Rasanya ada beban yang tengah menindih bahu nya yang sudah tak sekokoh dulu "kali ini sepertinya Juna lagi yang harus pasang badan" Ucap Adit suram.
***
Perjalanan ibadah Arion kali ini berbeda dengan perjalanan ibadah nya tempo hari sebelum menikahi Manda.
Hadiah yang Adit berikan tak tanggung-tanggung. Perjalanan khusus hanya untuk mereka atau bisa disebut perjalanan private.
Keempat anak Adit itu, duduk bersisihan di kursi bisnis salah satu maskapai terkenal. Meski bersebelahan antara suami istri tapi tak ada satupun pembicaraan yang terjadi di antara mereka. Semua sibuk dengan pikiran masing-masing.
Ternyata perjalanan ibadah bersama pasangan tak seindah apa yang orang-orang tulis di media sosial.
Dengan di temani suami atau istri semakin membuat diri instropeksi bagaimana kehidupan mereka saat bersama. Saling mengingat perlakuan satu sama lain saat di rumah, membuat diri merasa hidup di dalam kubangan dosa.
Manda yang sejak tadi menyalahkan diri karena tak bisa menjaga amanah Allah dulu, berbeda dengan Arion yang masih merasa gagal belum menjadi suami yang baik. Keinginan memiliki momongan jelas membuat Arion akhirnya selalu berharap pada Manda setiap bulannya.
Lain cerita bagi Arjuna dan Hawa. Meski sudah menyatu sebagai suami istri, mereka tak bisa menutup mata bahwa mereka melakukan itu hanya karena kewajiban saja.
Ucapan Arjuna dan Hawa di awal pernikahan mereka itu benar-benar terwujud. Mereka bisa saling berbagi ranjang tanpa menyatukan hati. Hanya sebatas pengugur kewajiban saja tanpa niat menumbuhkan rasa satu sama lain.
Namun di perjalanan ini, Hawa mulai memikirkan masa depan mereka. Hidup dengan orang yang bahkan rasa pun tak kita miliki pasti akan jauh lebih susah ketimbang kehilangan. Bukan menganggap bahwa kehilangan lebih baik, hanya saja berpura-pura seumur hidup pasti akan sangat melelahkan.
Terlebih, Arjuna dan Hawa tak saling membatasi diri. Besar kemungkinan, adanya kehadiran anggota baru di antara mereka akan mempengaruhi hidup mereka, meski hal itu bukan jaminan rasa mereka akan tumbuh.
Adanya anggota keluarga baru, mungkin bagi Manda dan Arion adalah hal yang paling mereka harapkan. Namun bagi Arjuna dan Hawa, kehadiran anggota baru menjadi pekerjaan rumah tersendiri apabila keduanya belum bisa saling menerima.
"Kita harus banyak diskusi disana Mas..." Ajakan Hawa pada Arjuna ini akhirnya membuka obrolan perjalanan mereka.
"Kita disana untuk ibadah bukan diskusi" Penolakan Arjuna membuat Hawa menatap suami nya itu. Tak ada yang salah apa yang Arjuna katakan tapi entah mengapa Hawa seakan mendapat penolakan.
Tak ingin mendapat penolakan lagi, Hawa memilih untuk diam dan mengalihkan pandangannya ke arah lain, dimana sang kakak sedang duduk bergandengan tangan dengan sahabatnya.
Dengan gerakan lambat, Hawa menatap sendiri kedua telapak tangannya. Ia bukan tak pernah digenggam oleh sang suami tapi Hawa lebih menyoroti, Arjuna yang tak pernah menggenggam tangannya sehangat Arion menggenggam tangan Manda.
Dari cara Arion menggenggam Manda saja, tanpa penjelasan apapun sepertinya semua orang tahu mereka sudah saling menumbuhkan rasa masing-masing meskipun di awal pernikahan kisah mereka tak jauh berbeda dengan pernikahan Hawa dengan Arjuna.
Segala pergerakan Hawa tak luput dari pengamatan Arjuna. Arjuna bukan tak tahu maksud ucapan sang istri. Hatinya yang belum terlalu condong pada Hawa lah yang menjadi penyebab nya. Arjuna merasa bahwa hubungan yang ia jalani dengan Hawa hanya sebatas formalitas, belum sampai di titik balik nya. Oleh karena itu, Arjuna berniat untuk meminta petunjuk nanti di tanah haram.
Melabuhkan hati pada tempat yang tepat adalah doa Arjuna yang utama.
Allah itu sutradara terbaik, yang tak mungkin memberi jalan yang berliku tanpa maksud. Allah pula yang Maha pembolak-balikkan hati, yang bisa dengan mudah membuat hati manusia merasakan hal yang sebelumnya tak pernah ia rasakan.
"... Entah kamu atau bukan, setidaknya saya sudah mengusahakan yang terbaik yang saya bisa untuk hubungan kita, Retha..."
25112025
Borahe 💜
Ramein ya guys
KAMU SEDANG MEMBACA
KARUNA
RomanceAwal nya tak pernah kenal sebelumnya, tak pula di jodohkan, keinginan menikah pun tak pernah terbesit, namun tiba-tiba hati Arion tergerak untuk menikahi sahabat adiknya itu.. Sayangnya, rencana untuk menikahnya tidak sesuai dengan kemauannya. Detik...
