"Bagaimana pernikahan mu, dek?" Pertanyaan Arion membuat Hawa mengalihkan pandangannya pada sosok yang mendadak sudah menduduki kursi yang tadi Arjuna duduki.
Kepalanya menoleh ke kiri dan ke kanan, seolah mencari-cari sosok lain "Kak Manda kemana?" Tanya Hawa pelan.
"Manda istirahat di kamar. Juna kemana?" Hawa menghembuskan nafasnya pelan, sebelum akhirnya menjawab pertanyaan Arion "Mas Juna sakit perut jadi duluan balik ke kamar"
Hari itu, saat pesawat sudah mendarat di tanah haram. Rombongan berisi hanya enam orang itu, memilih Kota Mekkah dulu untuk tujuan pertama mereka. Menjalani umroh pertama mereka detik itu juga.
Dan setelah nya mereka baru punya waktu istirahat. Arjuna dan Hawa memilih untuk makan di restoran hotel tempat mereka menginap, sedang Arion dan Manda memilih untuk memesan layanan kamar.
Tadinya Arion ingin memberi sesuatu di minimarket terdekat, namun saat matanya menemukan Hawa tengah terduduk sendiri di salah satu kursi restoran, ia mengurungkan niat itu. Bagi Arion, Hawa tetap anak kecil yang perlu dijaga meskipun ia sudah berkeluarga sekalipun.
Kehadiran Arjuna beberapa bulan lalu di keluarga mereka, sedikit banyak membuat interaksi kakak beradik itu berkurang. Kesibukan Hawa yang memang mengharuskan nya mengurus keperluan Arjuna dan kesibukan Arion yang sudah mengambil alih penuh kerajaan bisnis keluarga mereka lah yang membuat keduanya tak punya waktu untuk duduk bersama.
"Bagaimana pernikahan mu, dek? Kamu baik-baik saja?" Kembali, Arion mempertanyakan yang tadi belum sempat Hawa jawab.
Hawa yang sejak tadi menunduk, akhirnya mengangkat kepala nya menatap Arion. Sejak tadi Hawa sengaja menghindari tatapan penuh selidik yang Arion punya. Sebagai anak bungsu, kebohongan yang Hawa lakukan bisa dengan mudah Arion terdeteksi hanya dengan menatap matanya saja.
"Adek lagi menjalani nya, Bang" Bisa dengan jelas Hawa lihat, kerutan di kening Arion. Ia tahu jawaban nya pasti tak memuaskan sang kakak tapi Hawa juga tak punya jawaban lebih dari itu.
Dirinya memang menikah, hidup, bahkan tidur bersama dengan Arjuna. Hawa menjalankan perannya sebagai istri dengan baik, begitu pula dengan Arjuna. Akan tetapi, di antara keduanya belum ada rasa yang membuat mereka berat satu sama lain. Ada tembok kasat mata yang dibangun masing-masing, yang sampai hampir tujuh bulan pernikahan mereka, belum bisa menerima pernikahan ini dengan hati yang lapang.
"Kamu tau kan, kalau Abang masih disini?" Hawa mengangguk samar, sambil mengalihkan pandangan nya pada pusat dunia yang sedang banyak orang kelilingi.
Hembusan nafas berat keluar dari bibir Arion. Ia bukan tidak tahu bagaimana hubungan Hawa dan Arjuna. Dengan sekali lihat saja, Arion tahu adiknya sedang menutupi sesuatu. Ingin rasanya membawa sang adik pergi menjauh dari salah satu keturunan Sutoyo itu. Tapi untuk bertindak lebih, Arion tetap memerlukan ijin Hawa di dalamnya.
Keluarga Sutoyo bukan keluarga sembarang. Itu lah yang selalu Arion tekankan sesaat ia mendengar kabar bahwa Hawa harus menikah dengan Arjuna. Dan akhir-akhir ini, anggapan itu semakin menguat setelah dirinya kembali mendengar kabar tentang keluarga adik iparnya itu.
Berita heboh yang mungkin belum Hawa tahu itu, sudah sempat Arion bahas dengan Adit. Namun, lagi-lagi mereka tak bisa berbuat apapun. Status Arjuna yang masih resmi menjadi keluarga mereka membuat ruang lingkup mereka tak banyak, kecuali Arjuna lah yang mengiba pada mereka untuk dibantu.
Kejadian yang terjadi pada Arjuna sempat membuat hati Arion mengasihani laki-laki itu sesaat. Tapi, rasa simpati itu menghilang saat Arion melihat Arjuna tak melakukan gerakan apapun. Laki-laki hanya diam, tanpa mengusahakan apapun. Ia bahkan tak berniat pulang, untuk segera menyelesaikan masalah keluarga nya itu. Miris bukan?
"Mau jalan-jalan?" Tawaran Arion membuat Hawa kembali menatap laki-laki se ayahnya itu dalam, sebelum akhirnya ia mengangguk pelan.
Arion tersenyum lalu berdiri dan mengulurkan tangannya pada Hawa. Hawa turut tersenyum sebelum akhirnya keduanya berjalan ke arah Ka'bah.
Berjalan dengan keheningan di antara banyaknya manusia lalu lalang, membuat sudut mata Hawa basah. Rasanya sudah terlalu lama, ia tak merasakan kedamaian yang sesungguhnya. Berjalan dengan orang yang dipercayai nya membuat Hawa merasa tenang, terlebih ia berada di tempat yang selalu menjanjikan ketenangan yang utuh.
"Kenapa nangis?" Pertanyaan Arion yang dibarengi dengan genggaman tangan yang mengerat tak pantas membuat air mata Hawa surut. Yang ada, perempuan itu semakin tak bisa menahan laju air matanya.
Kakaknya masih sepeka dulu. Arion masih selalu tahu kapan Hawa menangis, bahkan saat tangis itu Hawa lakukan dalam diam.
Lantas, bagaimana cara Hawa menjawab pertanyaan Arion itu, saat air matanya lebih dulu menggambarkan semuanya?
"Kita berada di tempat yang tepat, Sayang. Keluhkan semuanya pada Sang Maha Pemilik hati. Minta petunjukNya. Minta juga penyelesaian yang baik"
Kalimat terakhir yang Arion ucapkan membuat Hawa menghentikan langkahnya. Tatapannya jatuh pada kubus hitam pekat yang tengah dikerumuni banyak orang. Hatinya berkali-kali berbisik "Ya Allah, Ya Allah..."
Hawa tak lagi memperhatikan sekelilingnya. Matanya yang sebelumnya juga sembab karena umroh pertama mereka beberapa saat setelah mereka sampai, kini kembali sembab. Kegundahan hati yang sejak tadi ia tahan guna fokusnya pada ibadah tak terpecah, kini Hawa perlihatkan secara utuh pada Pemiliknya.
"Aku harus bagaimana Ya Allah... Beri tahu jalannya, agar aku tak tersesat. Kalau memang dia orang nya, beri kami perasaan yang saling bertaut. Beri kami alasan agar tak saling hidup sendiri lagi. Tapi kalau memang, bukan dia..." Hawa menutup wajahnya, ia semakin tergugu. Pelukan yang Arion berikan tak memberi efek apapun, anak bungsu Adit itu malah semakin meraung.
Berdoa untuk di berikan jalan keluar bagi Hawa layaknya sedang mempersiapkan kesakitan yang entah berkali-kali.
"Kalau memang bukan dia... Cukupkan lah aku hidup sendiri, Ya Allah" Sebuah doa yang berani Hawa kemukakan dengan lantang kala itu.
Menjanda untuk kedua kalinya, tak pernah terbesit dalam benaknya. Ia sempat berpikir untuk menjalani hidup dengan Arjuna bak air yang mengalir meski perasaan mereka tak pernah tertaut. Ia dan Arjuna bukan orang yang sulit untuk bersandiwara guna memperlihatkan hubungan mereka agar terlihat baik-baik saja.
Namun, akhir-akhir ini, Hawa takut satu hal. Ia takut kalau suatu saat hubungannya dengan Arjuna menghasilkan anak di antara mereka, anak mereka lah yang menjadi korban atas hubungan kedua orang tuanya.
Oleh karena itu, sebelum hal itu terjadi, Hawa lebih dulu meminta agar diberi penyelesaian yang baik. Entah nantinya, ia akan menyandang status janda lagi atau tetap menjadi Nyonya Arjuna Sutoyo, yang jelas ia sudah berusaha.
"Jangan beri dia duka lagi, Ya Allah..." Ucap Arion dalam hati.
27112025
Borahe 💜
Masih mau lanjut gak guys?
KAMU SEDANG MEMBACA
KARUNA
RomanceAwal nya tak pernah kenal sebelumnya, tak pula di jodohkan, keinginan menikah pun tak pernah terbesit, namun tiba-tiba hati Arion tergerak untuk menikahi sahabat adiknya itu.. Sayangnya, rencana untuk menikahnya tidak sesuai dengan kemauannya. Detik...
