Tiga Puluh

715 58 5
                                        

"Siap-siap pulang ya, saya telepon supir dulu" Ucap Arion mulai mengotak-atik ponsel pintarnya di tengah-tengah kesunyian antara dirinya dan Manda.

"Maksud Mas? Mas udah boleh pulang?" Tanya Manda tak mengerti.

Pasalnya sampai malam ini tidak ada tanda-tanda apapun yang di berikan perawat atau dokter mengenai pernyataan Arion barusan. Harusnya sesuai prosedut rumah sakit, Arion akan dinyatakan boleh meninggalkan rumah sakit setelah dokter memastikan keadaan suaminya tersebut. Tapi sampai jam tujuh malam, tak ada dokter yang memeriksa Arion, hanya perawat jagalah yang memastikan tubuh Arion mulai berangsur membaik.

"Belum Sayang, saya masih harus menginap. Yang pulang itu kamu, bersihkan badan mu lalu istirahat. Jaga Nenek di rumah. Saya nanti minta tolong Kevin kesini" Jelas Arion.

Manda seketika salah tingkah saat tadi Arion kembali memanggilnya 'sayang' lengkap dengan perhatiannya yang sungguh sweet, membuat Manda mau tak mau salah tingkah dan harus menunduk untuk menyembunyikan wajah merahnya. Suaminya itu benar-benar membuktikan ucapannya beberapa saat lalu.

Benar bukan? Panggilan 'sayang' yang Arion gunakan saat ini bentuk pembuktian usahanya yang ugal-ugalan kan?

Mencoba menutupi rasa gugupnya, Manda langsung mendebat keinginan Arion tersebut "enggak, aku mau disini. Kan Nenek udah di jagain Bibi dari rumah Mami, Mas" Bantah Manda.

"Ya udah istirahat aja di rumah. Dari pagi kamu belum pulang sama sekali loh. Kamu bahkan masih pakek seragam ngajar itu"

"Terus Mas sendirian gitu?"

"Saya nanti sama Kevin, Sayang. Gak usah bingung, saya sudah beberapa kali begini"

Dengan perasaan campur aduk, Manda mendekati Arion. Auranya menggelap melihat suaminya tak bereaksi apapun. Lelaki itu bahkan bersikap datar-datar saja padahal baru saja mencoba romatisme dengan panggilan sayang nya.

Rasanya kata 'ugal-ugalan' yang Arion pilih untuk mendekatkan mereka perlu di ragukan. Suaminya itu hanya bisa bersikap 'ugal-ugalan' dalam konteks bahasa saja, Arion belum memakai hati untuk mengekspresikan kata sayangnya tersebut. Karena terbukti setelah Arion mengucapkan itu, lelaki itu tak mengetahui maksud dari ketidakmauannya untuk pulang.

Manda tentu tak bisa hanya menerima tanpa ikut andil bukan? Padahal seluruh yang berhubungan dengan Arion pasti akan berhubungan dengannya pula. Bukan kah rumah tanggal itu di bentuk oleh dia orang yang kuat agar rumah itu tak rubuh walau badai sekalipun menghantam nya.

"Kenapa?" Tanya Arion masih belum mengerti apa yang membuat Manda kesal. Padahal dirinya sudah menganggap bahwa titahnya itu lah, hal yang terbaik yang bisa ia berikan pada sangat istri karena Arion sangat tahu bagaimana lelahnya Manda seharian harus mengurus anak-anak kecil dan tanpa istirahat perempuan itu harus juga menjaganya sampai esok.

"Kayaknya ucapan Mas beberapa waktu lalu harus diragukan deh"

"Kenapa? Hanya karena saya nyuruh kamu ulang? Iya?" Manda mengangguk pelan sambil menundukkan kepalanya. Rasa kesalnya lenyap begitu saja, tak bisa ia lanjutkan karena tebakan Arion yang benar akan kondisinya saat ini "Sayang... Saya punya alasan kenapa kamu harus pulang dan istirahat dengan benar. Kamu gak boleh ikut-ikutan sakit, istri" Jelas Arion pelan.

Blush.

Wajah Manda kembali memanas setelah menjelaskan alasan mengapa Arion ngotot menyuruh Manda pulang. Perempuan itu sudah salah paham sebelumnya, tapi dalam benak Manda, kali ini sepertinya ia tak bisa nurut pada Arion.

"Mas..." Manda duduk di kursi samping ranjang Arion.

"Ya Zaujati" Wajah Manda semakin memerah mendengar Arion menggunakan panggilan itu.

"Aku tetep gak mau pulang" Ucap Manda kekeh.

Arion yang mendengar itu hanya mendesah pasrah. Sepertinya sifat Manda dan Hawa tak jauh berbeda, cukup keras kepala untuk sesuatu yang mereka inginkan, termasuk saat ini. Akan tetapi bukan Arion namanya kalau langsung menyetujui begitu saja, sebagai pembisnis ulung, Arion tentu punya trik untuk membuat lawan bicaranya setuju dalam sadar untuk mengiyakan usulannya.

Dan trik yang Arion pakai saat ini adalah dengan memperbanyak sentuhan fisik. Tak hanya panggilan sayang yang beberapa sudah Arion gunakan, kini tangan nya yang terbebas dari infus meraih tangan Manda untuk ia genggam. Arion percaya perempuan selalu menyukai sesuatu yang lembut dan romantis.

"Mau tidur dimana disini? Di sofa itu? Gak akan nyaman Sayang. Tidur di rumah aja ya, biar badannya gak sakit semua" Ucap Arion lembut sambil memainkan tangan Manda dalam genggamannya.

"Kan bisa tidur sama Mas disini" Tunjuk Manda pada ranjang pesakitan Arion. Perempuan itu sengaja mencari-cari alasan karena tak tega harus meninggalkan Arion sendiri. Hawa sudah di usir nya pulang siang tadi karena sahabat sekaligus adik iparnya itu harus beristirahat setelah sift malamnya, lagipula dengan Hawa di rumah sang nenek tidak akan hanya berdua dengan bibi saja. Sedangkan untuk Maya, Manda beralasan, memakai situasi ini untuk berdekatan dengan Arion, akan tetapi pada kenyataannya Manda hanya tak ingin Maya terlalu lelah.

Mata Arion berkedip beberapa kali. Istrinya memang sungguh kejutan. Ia tak menyangka setelah pernyataan tadi, istrinya malah mencuri start untuk mendekatkan mereka. Padahal selama ini Arion mengira Manda tipe perempuan yang pendiam.

"Tapi..." Belum sampai Arion menyelesaikan ucapannya, Manda lebih dulu memotong nya "enggak ada tapi-tapian Mas. Pokoknya aku tidur disini" Kata Manda.

Arion tergelak mendengar apa yang Manda simpulkan "kamu itu ya, terlalu cepat menyimpulkan Sayang, dengerin dulu saya ngomong dong" Ucap Arion sambil mengeratkan kaitan tangan mereka.

"Maaf" Cicit Manda sambil menunduk, membuat Arion sedikit kelabakan "Heii... Ngapain minta maaf, kamu gak salah kok. Oke, oke kamu boleh tidur disini nemenin saya tapi harus tidur di ranjang ya" Umpan yang Manda berikan, dikembalikan dengan epik oleh Arion.

Dengan tingakat percaya diri yang tinggi, Arion yakin ini cara halus untuk mengusir istrinya tersebut, yaitu membuat Manda benar-benar tidur satu ranjang. Pasti istrinya itu akan berpikir seribu kali untuk ini, sehingga dengan terpaksa akan memilih untuk pulang ke rumah.

Benar saja, pikiran Manda saat ini kalut akibat mulutnya yang tak terfilter dengan baik. Gertakan yang ia gunakan untuk mengancam Arion, nenyerang balik dirinya sendiri. Bayangkan saja bagaimana ia dan Arion tidur dalam satu ranjang sempit begitu. Baru membayangkan saja, membuat bulu kuduk nya merinding.

Tubuh mereka akan saling menempel karena ukuran ranjang yang harusnya hanya di gunakan untuk satu orang saja. Manda sempat memikirkan itu untuk dijadikan alasannya lari dari tidur bersama Arion dan mendapat ijin tidur di sofa, namun itu sama saja membuat nya terlihat tak konsisten dengan ucapannya sendiri. Dan kali ini Manda tak ingin kalah dengan Arion.

"Sayang... Kenapa tangannya jadi dingin begini? Kamu gugup?" Tanya Arion mencoba memainkan hati Manda.

"Ya jelas lah Mas. Kita kan belum pernah tidur seranjang jadi ya aku takut"

"Takut? Pikiran kamu terlalu jauh. Mana mungkin saya unboxing kamu disini, tapi kalau badan kita nempel sih udah pasti"

"Mas!!"

"Iya, apa istri?"

"Sebel!"

.
.
.

10022024

Borahe 💙

KARUNATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang