Lima Puluh Tiga

295 8 2
                                        

"Mbak Manda..."

Keinginan Manda langsung masuk ke dalam rumah harus terhenti karena panggilan Pak Amir, penjaga rumah Adit pagi itu.

"Iya Pak, ada apa?" Tanya Manda.

Bukannya menjawab pertanyaan Manda, yang ada Pak Amir kembali membuka pintu pagar lebih lebar.

Disana bisa Manda lihat ada laki-laki berpakaian formal sedang memakai kacamata, disebelah laki-laki itu terdapat satu buah koper ukuran 20 inci.

"Sales ya Pak?" Tanya Manda lirih.

Pak Amir menggeleng "bukan Mbak, tamu"

"Ohhh... Tamu siapa? Mas Arion ya? Bapak gak bilang Mas Arion baru aja berangkat?" Tebakan Manda sekali lagi mendapat gelengan dari Pak Amir. Padahal jelas sekali, laki-laki yang berdiri tak jauh dari Manda dan Pak Amir ini terlihat sepantaran dengan Arion.

"Bukan tamu Mas Rion juga Mbak, tapi..." Belum sampai Pak Amir menjawabnya, Manda lebih dulu berbicara "tamunya Papi ya?"

"Duhh, Mbak Manda ini. Dengerin saya dulu kenapa" Manda hanya bisa mengusap tengkuknya canggung mendengar ucapan Pak Amir "orang itu nyari perempuan namanya Aretha Hawa Wardhana, itu bener nama Mbak Hawa gak sih Mbak? Ada Hawa nya terus ada nama Pak Adit nya"

Pertanyaan Pak Amir membuat Manda reflek menajamkan pengelihatan nya. Ia mencoba mengingat wajah laki-laki itu karena hatinya mengatakan ia pernah bertemu dengan laki-laki yang tengah menunggu untuk di persilahkan masuk.

"Mbak..."

"Ehhh, iya Pak. Gimana?"

"Lahhh... Malah ngelamun. Bener gak nama itu, namanya Mbak Hawa?"

Manda mengangguk lirih sambil berkata "bener Pak" Walaupun belum sepenuhnya ingat siapa laki-laki itu tapi Manda tetap menjawab pertanyaan Pak Amir.

"Jadi boleh di suruh masuk ya Mbak?"

"Emm, boleh Pak.. Ehh tunggu, Bapak sudah tanya nama laki-laki itu siapa? Saya kayaknya pernah tau tapi lupa siapa"

Pak Amir menatap laki-laki di depan pagar itu "namanya susah, tapi ada Arjuna nya, Mbak"

Jawaban Pak Amir seketika membuat bola mata Manda hampir terlepas dari tempatnya. Pantas saja ia seperti pernah mengenal laki-laki itu karena laki-laki itu lah yang sempat Manda cari tahu setelah peristiwa pernikahan dadakan Hawa di kota seberang.

"Saya panggil Papi, Mami sama Hawa dulu Pak" Kata Manda bergegas masuk.

Pak Amir hanya bisa mengerutkan keningnya mendengar ucapan yang Manda berikan. Harusnya perempuan itu hanya memanggilkan Hawa saja, untuk apa Adit dan Maya juga turut serta. Namun karena tak ingin terlalu membuat sang tamu menunggu, Pak Amir menganggapnya angin lalu.

"Mas, monggo masuk. Saya antar ke ruang tamu"

Arjuna hanya mengangguk. Ia mengikuti Pak Amir dari belakang dengan salah satu tangan sibuk menarik koper.

Jangan bayangan sambutan yang mewah atau mungkin barang bawaan nya akan dibantu oleh pekerja rumah Adit. Statusnya siapa saja, tak ada yang tahu kecuali Adit dan Mata serta Manda dan Arion yang diberi tahu setelah nya. Selain keempat orang itu, tak ada yang tahu bahwa status Hawa sudah kembali bergelar istri.

"Monggo, duduk dulu. Mbak Manda masih manggil Mbak Hawa" Kata Pak Amir.

"Mbak Hawa?" Cicit Arjuna bingung.

"Aduh maaf, salah Mas. Maksud saya, Mbak Aretha ya, soalnya kalau di rumah biasanya di panggil Mbak Hawa"

Arjuna hanya mengangguk. Kacamata hitam yang ia gunakan kini ia lepas.

Ditinggalkan duduk sendiri di ruang tamu yang lebih kecil daripada rumahnya membuat Arjuna mengamati satu persatu potret di dinding berwarna coklat muda itu.

Tak ada yang istimewa, hanya potret keluarga biasa. Namun, ada satu lukisan yang terlihat lebih mencolok dari yang lain.

Sebuah lukisan bergambar dua orang berbeda jenis kelamin sedang duduk di singgasana layaknya raja dan ratu sehari, bukan pula perempuan bercadar yang ia lihat tadi. Entah siapa itu, tapi gambar itu cukup menyita perhatian Arjuna.

"Sudah sampai?" Sapaan Adit membuat Arjuna terkejut dan mengalihkan pandangannya pada sosok laki-laki berumur yang terlihat gagah.

Berdiri, menyapa dan menyalami orang yang lebih tua, Arjuna lakukan tanpa paksaan. Meski di besarkan di tengah keluarga yang dingin, dengan perlakuan selalu dihormati dan dilayani, namun Arjuna tahu etika saat bertemu dengan orang yang di tua kan.

"Sudah Om. Maaf saya terlambat"

"Gak papa. Duduk dulu. Gimana perjalanan lancar?"

Arjuna menatap Adit sebelum akhirnya menjawab singkat "lancar Om"

Adit mengangguk "jadi kamu mau bawa pernikahan kalian ini kemana?"

"Saya gak bisa menjanjikan apapun Om. Om tahu betul saya dan Retha menikah karena terpaksa" Ungkapan jujur Arjuna cukup membuat Adit tersenyum tipis, bahkan sangat tipis sampai-sampai Arjuna tak menyadari bahwa mertuanya sedang tersenyum.

"Jadi kamu mau kalian hidup bersama atau terpisah?"

Arjuna cukup terkejut dengan pertanyaan yang Adit berikan. Ia baru kali ini melihat orang tua dari pihak perempuan bersikap se gamblang ini.

***

Loh... Kenapa nangis?" Teriakan heboh Manda membuat lamunan Hawa buyar.

Perempuan yang dinikahi kakaknya dua bulan lalu itu terlihat tergopoh berjalan ke arah nya dan Nek Iroh "kenapa nangis, Wa? Nek?"

"Hawa rindu Alif" Jawab Nek Iroh tenang.

"Duhhh... Aku kira kenapa. Doakan saja Bang Alif, Oke?" Hawa hanya mengangguk pelan.

"Ehh, aku lupa ngasih tau, itu di depan ada tamu buat kamu"

"Siapa?"

"Suami mu"

Mavin Arjuna Sutoyo.

Nama yang membuat tubuh Hawa menegang dengan mata membola sempurna. Sosok yang tadi sempat ia bicarakan dengan Nek Iroh dan yang sudah mengikatnya secara tidak langsung 2 bulan ini.

Bibir dan hati Hawa bahkan belum selesai untuk berdoa tentang laki-laki itu. Hawa ingin Arjuna masih butuh waktu lama untuk mendatangi nya. Ia masih butuh waktu untuk menerima semuanya. Tapi sepertinya, Allah ingin Hawa segera sadar akan statusnya.

Hawa harus berbuat apa? Itu lah yang saat ini ada di pikirannya. Ia tak tahu harus berbuat apa. Bagaimana caranya menyambut pun, Hawa tak paham. Harus menerima atau menolaknya juga tak terpikir olehnya. Hatinya ingin menolak tapi ia semua tak mungkin saat mereka berada di rumah kedua orang tua nya. Ingin menerima pun, Hawa masih belum sanggup.

Baginya, keberadaan Arjuna saat ini menjadi momok sendiri bagi Hawa.

"Eh, kok malah ngelamun, udah di tungguin juga. Udah sana temui suami mu" Ucapan Manda terdengar seperti ejekan di telinga Hawa.

Sedang Nek Iroh hanya tersenyum sambil mengelus pelan tangan Hawa yang sedikit mencengkram tangan tua itu lebih keras "ehhh, maaf Nek, maaf" Ujar Hawa tak enak hati.

Manda hanya mengulum senyum melihat tingkah sahabat sekaligus adik ipar nya yang mendadak bingung.

"Udah Nenek sama aku. Sana temuin" Usir Manda sambil tertawa.

Hawa memberikan tatapan tajam pada Manda, sebelum merengek untuk tetap dirinya sajalah yang menjaga Nek Iroh berjemur "nanti dulu, Nenek kan kurang dikit berjemur nya, nanti aku masuk sama Nenek aja"  Tolak Hawa.

"Sana gak!! Panggil Mami nih"

"Ihhh..." Rengek Hawa sambil menghentakkan kakinya. Ia mulai berjalan ke arah ruang tamu dimana orang baru menunggu.

15112025

Borahe 💜

KARUNACerita yang bikin terobses. Temukan sekarang