"Jadi kamu mau kalian hidup bersama atau terpisah?"
Secara tidak langsung Adit membuka jati dirinya lewat apa yang ia tanyakan. Beruntung, Arjuna tak menganggap jauh pertanyaan itu. Laki-laki muda lebih tua dua tahun daripada Arion itu malah menyoroti keterbukaan yang keluarga istrinya ini lakukan. Seakan Adit sudah menebak bahwa kehidupan pernikahan dengan status terpaksa itu akan selalu tidak baik-baik saja di awal.
"Mungkin nanti saya bicarakan dulu dengan Retha, Om" Adit hanya mengangguk.
Tak lama setelah itu, Maya datang dan bergabung dengan mereka di ruang tamu.
Dari pengamatan Arjuna, Maya sedang tidak terlihat baik-baik saja. Matanya memerah, lesu dan tak ramah.
Sejak awal Maya memang tak pernah ramah padanya. Ibu dari Hawa itu selalu menunjukkan ketidaksuakaan pada Arjuna. Namun hari ini Maya terlihat berbeda, ada aura dingin yang menguar tapi raut ketidaksukaan itu sudah menghilang. Mungkin sesuatu sedang terjadi sebelum Arjuna datang yang menyebabkan Maya bersikap seperti itu pada menantu barunya.
"Sehat Tante?" Sapa Arjuna begitu Adit sudah memastikan bahwa Maya duduk dengan nyaman . Akan tetapi, sapaan Arjuna tak mendapat jawaban apapun.
"Oke, Sayang?" Ujar Adit yang bisa di dengar dengan jelas oleh Arjuna.
"Aman, Mas" Jawab Maya tersenyum dengan tangan membalas genggaman sang suami.
Arjuna mengamati setiap interaksi Maya dan Adit lakukan. Aura yang tadinya dingin perlahan mulai menghangat. Semua tindakan sepasang suami istri itu terlihat alami, tanpa dibuat-buat dan tanpa niat sedikitpun untuk pamer atau menyindir nya. Seolah semua hal yang Arjuna lihat adalah sikap mereka setiap hari.
"Pi... Mi..."
Mata Arjuna yang awalnya tertuju pada mertua barunya, kini beralih pada suara yang cukup dikenalnya. Hawa berdiri tak jauh darinya, tanpa ada niat menatapnya sedikitpun. Perempuan itu bersikap berbeda dari pertama kali mereka bertemu dan berinteraksi.
Hari itu Hawa menggenakan gamis berwarna coklat dengan kerudung dengan warna senada pula. Melihat penampilan Hawa, membuat Arjuna menyadari bahwa hampir semua perempuan yang ia temui di rumah Hawa berbaju lebar dan menutup tubuh mereka secara menyeluruh.
"Sini, Dek" Nada suara yang Maya gunakan untuk meminta Hawa mendekat cukup membuat Arjuna terkejut. Pasalnya, ibu dari istrinya itu bernada riang dan jauh lebih lembut ketimbang berinteraksi dengan sang suami.
Arjuna semakin bertanya-tanya, apakah persepsinya salah akan Maya ataukah keluarga Adit sama saja seperti keluarganya, yang harus berpura-pura harmonis di depan orang lain ataukah sebaliknya.
Peraturan dalam keluarga kaya yang paling utama adalah tidak berulah yang bisa berpotensi membuat saham perusahaan turun dan jangan gunakan hati untuk pernikahan sebab biasanya pernikahan anak-anak orang yang memiliki bisnis, sudah di atur guna semakin memuluskan bisnis mereka.
Sejujurnya, Arjuna juga mempertanyakan alasan Adit dan Maya yang setuju anak mereka ia nikahi. Padahal, harusnya mereka sudah paham dengan banyaknya kejadian yang terjadi akibat pernikahan bisnis di luaran sana, terlebih pertanyaan Adit tadi cukup memberi Arjuna paham bahwa Adit paham kehidupan keluarga old money.
"Itu ada suamimu" Ucapan pertama Adit membuat Hawa dan Arjuna menegang seketika. Kedua orang yang menikah karena terpaksa itu seolah sedang diingatkan dengan status yang mereka punya.
"Assalamu'alaikum.." Hanya sapaan singkat yang keluar dari mulut Hawa tanpa ada proses yang layak sebagai pasangan suami istri.
Arjuna pun hanya bisa membalas salam itu seadanya. Ia tak tahu harus berbuat apa, terlebih ada Adit dan Maya yang berada disekitar mereka.
"Adek mau tinggal sama Arjuna?" Tanpa pemanasan terlebih dahulu, Adit langsung membicarakan inti dari kunjungan Arjuna pagi itu.
"Kalau gak mau, boleh?" Tanya Hawa memancing. Ia ingin mengetahui respon Arjuna bagaimana, akan penolakannya saat ini.
"Its oke" Jawaban Arjuna memang menjawab pertanyaan Hawa. Namun, pertanyaan itu juga cukup membuktikan bahwa pernikahan mereka tidak sehat.
Pembicaraan mereka setelah akad malam itu, ternyata hanya wacana sementara karena dua bulan setelahnya, hasil diskusi mereka hanya angin lalu.
"Kamu ya!! Kalau kamu gak bisa jadi suami yang benar, ceraikan anak saya saja!!" Emosi Maya meledak seketika mendengar jawaban Arjuna yang asal-asalan.
Sejak tadi Maya sudah menahan dirinya untuk tak menghajar menantu barunya itu tapi ia masih bisa menahan nya. Namun, apa yang Arjuna katakan barusan, seketika membuat Maya emosi karena laki-laki itu tak menunjukkan keseriusan nya pada sang anak.
Maya hanya takut Hawa akan menjalani kehidupan yang sama dengan apa yang dulu ia jalani.
Beruntung, Adit dan Hawa sigap menahan amarah Maya yang siap meledak dan mungkin bisa jadi membuat tanda biru di tubuh Arjuna "sudah, Sayang" Kata Adit selembut mungkin.
"Mi... Udah..."
"Gimana mami bisa diem aja pas anak ini bilang gak papa... Asal kamu tau ya, perempuan yang kamu nikahi ini putri di rumah saya! Bahagianya selalu kami usahakan, jangan seenakmu sendiri ya!!" Sudut mata Maya mulai berair.
Maya benar-benar tak ingin, Hawa menjalani pernikahan hanya sekedar nya. Kalau seandainya saja, boleh mengulang waktu, Maya masih tetap memilih Hawa menyandang status janda daripada harus menikah dengan laki-laki yang tidak punya tujuan berumah tangga.
"Saya tidak ada niat untuk mempermainkan Retha dari awal Tante. Saya bahkan pernah mengusulkan Retha untuk lari. Tapi keputusan menerima ide Papa saya lah yang Retha dan keluarga Tante ambil. Lalu saya harus bagaimana?"
"-- saya juga korban disini. Retha pun begitu. Tapi saya mau bertanggung jawab Tante, makanya saya datang. Saya ingin kita mencari jalan keluar yang terbaik atas situasi ini karena ini juga berkaitan dengan bisnis yang kita punya" Ucapan Arjuna bijak.
Jauh di lubuk hatinya yang paling, ia ingin tidak ada hubungan apapun dengan perempuan di hadapannya. Dunianya terlalu kejam, keluarganya bukan keluarga yang hangat dan hatinya masih milik orang lain walaupun tak lagi ada kesempatan untuknya.
Namun semua tak semudah itu. Berita pernikahannya dengan Hawa sudah tersebar. Portal bisnis mulai menyoroti kehidupan nya. Setiap tindakannya di awasi dan kesalahan nya akan dirundung habis-habisan.
Dua bulan ini, Arjuna sudah berusaha untuk menutupi identitas HawaHawa agar perempuan itu nyaman menjalani rutinitas nya. Akan tetapi, Arjuna jelas tak bisa terus-terusan menutupi itu. Hawa tetap harus ia kenalkan ke Dunia suatu saat nanti apabila perempuan itu masih ingin pernikahan nya dengan Arjuna berjalan.
"Kamu ingin bercerai?" Meski tak menyebutkan dengan siapa Arjuna berbicara tapi seluruh orang di ruangan itu tahu bahwa pertanyaan Arjuna itu ditujukan pada sang istri.
"Apa resikonya?"
"Kamu lepas dari saya"
Kepala Hawa yang tadinya menunduk, mulai terangkat. Ia menatap Arjuna yang kala itu juga tengah menatap nya. Arjuna bukan tak mengerti kemana arah pertanyaan Hawa, hanya saja laki-laki itu tak ingin menjawab apapun.
"Pernikahan itu tentang terbuka kan?"
Arjuna hanya bisa menghela nafas nya dalam "kalau kamu ingin bercerai, saham dua perusahaan akan turun. Wartawan akan mencari tahu siapa kamu. Dan mungkin untuk beberapa saat ruang gerak mu terbatas. Tapi semua bisa diatasi dengan membuat skandal baru"
"Skandal? Kenapa tidak membuat prestasi saja?"
"Orang-orang di luar sana lebih menyukai berita buruk dibandingkan berita baik" Penjelasan Arjuna hampir saja membuat bibir Adit melengkung. Untungnya, laki-laki berusia hampir kepala tujuh itu segera menyadarinya.
"Kalau tidak bercerai, apa yang akan kamu lakukan?"
Arjuna menatap Hawa sejenak sebelum akhirnya berkata "saya akan mengumumkan identitas kamu"
17112025
Borahe 💜
KAMU SEDANG MEMBACA
KARUNA
عاطفيةAwal nya tak pernah kenal sebelumnya, tak pula di jodohkan, keinginan menikah pun tak pernah terbesit, namun tiba-tiba hati Arion tergerak untuk menikahi sahabat adiknya itu.. Sayangnya, rencana untuk menikahnya tidak sesuai dengan kemauannya. Detik...
