Enam Puluh Sembilan

181 10 0
                                        

Nyatanya, sembuh itu tak mudah. Tak peduli sebanyak apapun usaha kita kalau hati belum rela sepenuhnya, sakitnya tetap sama dan sembuh nya akan lebih lama.

Tak hanya Maya yang masih berduka, Arion dan Manda pun juga merasakan duka yang tak jauh beda. Hidup mereka berubah drastis. Rumah besar itu terasa lebih sunyi, sepi dan dingin semenjak Adit dikebumikan. Hawa pun sudah kembali ke kota dimana ia dan Arjuna tinggal. 

Keputusan besar di ambil Manda. Demi menemani ibu mertuanya, perempuan  yang berstatus istri Arion itu kembali menjadi pengangguran. Hari-harinya hanya diisi dengan bercengkrama bersama Maya, mencoba berbagai resep masakan dan menunggu Arion pulang.  Hanya itu.

"Mas berencana ngajak Mami umroh, Sayang, gimana menurut kamu?" Kata Arion petang itu. Laki-laki itu bahkan belum melepas baju kerjanya saat ia mengutarakan keinginannya pada Manda dengan wajah lebih ceria daripada sebelumnya.

"Mami tapi baru selesai masa iddah nya seminggu lagi Mas"

"Ya sudah, setelah  itu bagaimana? Kamu gak keberatan kan? Kita terakhir umroh setelah Nenek meninggal loh, Sayang" ucap Arion masih dengan semangat yang sama.

Manda tersenyum lalu mengangguk. Siapapun pasti tidak akan pernah menyia-nyiakan kesempatan untuk datang ke tanah haram apalagi saat sedang berduka sebab disana lah tempat terbaik untuk menjadi manusia paling lemah.

"Alhamdulillah... Nanti cek kesehatan nya bareng sama Mami dulu ya. Mas selesaikan kerjaan bulan ini biar kita bisa lama disana" Manda kembali hanya mengangguk. 

Arion dihadapan Manda saat ini adalah Arion baru. Arion yang lebih lembut namun juga paling bekerja keras. Bukan hanya untuk pekerjaannya saja tapi ia juga bekerja keras untuk menutupi rasa sakitnya akibat kehilangan Adit. Ia tak meraung tapi matanya meredup. Hal itu kadang membuat Manda khawatir dan bahkan menangisi suaminya saat Arion sudah terlelap. Tapi hari ini seolah àda sesuatu yang membuat Arion kembali bersemangat.

"Kita hanya berangkat bertiga, Mas?" Manda tahu selain Maya yang jadi alasan Arion untuk kuat, ada Hawa yang jauh disana juga yang menjadi alasan laki-laki itu tak boleh tumbang. Arion tetap harus menjadi rumah untuk kepulangan Hawa dari segala lelah, menggantikan Adit yang sudah terbujur kaku di dalam tanah meski adiknya itu sudah punya Arjuna yang bisa dijadikan sandaran hidup.

"Adek ya? Nanti coba Mas hubungi Juna, barang kali dia bisa ikut" Manda tersenyum. Setelahnya ia meminta Arion untuk segera membersihkan tubuhnya dan berkumpul bersama Maya.

***

"Adek gak bisa ikut, Sayang. Juna lagi banyak kerjaan. Lagi pula kondisi Hawa lagi gak memungkinkan"

Kening Manda berkerut "Hawa sakit, Mas?" Tanyanya khawatir.  Sebagai seseorang yang lebih dulu mengenal Hawa daripada suaminya, Manda ikut cemas apabila kesehatan perempuan  itu menurun. Hawa bukan orang yang gampang sakit, akan tetapi saat ia sakit selalu saja dehidrasi menjadi penyebab utamanya.

Sebelum menjawab pertanyaan Manda, Arion lebih dulu memejamkan mata sejenak lalu menghembuskan nafas panjang. Rasanya terlalu sulit bagi Arion menceritakan keadaan Hawa pada sang istri "kenapa, Mas? Manda kenapa?" Tanya Manda semakin khawatir.

"Adek... hamil" sejenak jawaban Arion membuat Manda terdiam. Perempuan itu turut bahagia mendengar adik iparnya kembali dipercaya akan bab keturunan, namun Manda juga tak menampik bahwa di sudut hatinya paling dalam ia juga menginginkan hal yang sama.

Untungnya, rasa iri itu tak berlangsung lama. Saat Manda sudah mulai bisa menguasai diri, perempuan itu tersenyum lebar sambil mengucapkan hamdalah "Alhamdulillah ya Mas... Cucu Mami bakalan nambah. Nanti Mas jadi Pakde dua bocah" tanpa sadar sudut mata Manda mulai basah. Melihat sang istri bersedih dan terharu secara bersamaan, Arion tak punya cara lain selain membawa tubuh Manda masuk ke dalam pelukannya.

"Nanti, Sayang... Kita pasti punya waktu sendiri" kalimat yang Arion ucapkan tak hanya untuk menghibur istrinya saja. Ia juga turut menghibur dirinya sendiri. Menanamkan pikiran optimis yang kadang naik turun di usia pernikahan mereka yang hampir enam tahun ini.

"Aku gak papa, Mas. Mungkin memang belum waktuNya aja. Kita masih di suruh pacaran halal" lagi, lagi mereka hanya bisa menghibur diri dengan kalimat sederhana itu. Pacaran halal apa yang sampai enam tahun hanya untuk saling mengenal? Tentu mereka ingin ada anggota baru yang semakin mempererat hubungan mereka.

"Mau bulan madu?" Harusnya ini merupakan tawaran mengiurkan bagi Manda. Waktu Arion yang semakin banyak di sita karena pekerjaan yang kian menumpuk. 

"Kan kita mau umroh, Mas" jawaban bijak itu sajalah yang bisa Manda berikan. Ia tak ingin egois pada Arion. Lelaki di hadapan nya Saat ini sudah memikul banyak beban. Arion sibuk tapi masih bisa memperhatikan nya dan bagi Manda itu sudah cukup.

"Mau mampir ke Turki?" Manda menggeleng "jangan terlalu berusaha, Mas. Aku sudah cukup bahagia" Manda kembali terjebak dalam pelukan Arion karena jawabannya sendiri.

Keduanya sadar, bahwa masalah keturunan bukan wewenang manusia untuk mengatur. Segala proses yang ada pun sudah pernah mereka coba, akan tetapi Allah memang masih menundanya.
Tapi sebagai manusia, baik Arion maupun Manda selalu punya keinginan itu. Ingin seperti manusia yang lain, yang bisa dengan mudah Allah berikan kepercayaan. Terlebih saat Manda mendengar kabar bahwa banyak perempuan di luar sana yang hamil lebih dulu sebelum menikah.

Tok...
Tok...
Tok...

Ketukan di pintu kamar Arion membuat pasangan suami istri itu menyudahi kesedihan mereka. Menutùp rapat-rapat luka keduanya dan keluar dengan senyum yang berkembang seolah tak pernah terjadi apapun.

"Mas Rion, maaf, ibu sudah nunggu" asisten rumah tangga mereka memberitahu bahwa Maya sudah siap untuk pergi dengan Manda guna melakukan pengecekan kesehatan sebelum keberangkatan mereka ke tanah suci.

"Iya, Mbak"

Arion tersenyum saat melihat Maya yang tengah duduk di teras rumah mereka sambil memandang bunga-bunga yang tengah bermekaran.

"Mami..." Maya menoleh dan tersenyum. Tangan tuanya terulur. Arion balas tersenyum. Ibu sambungnya ini tak pernah berubah. Bahasa cinta Maya selalu diiringi dengan sentuhan fisik yang syarat akan kasih sayang "sudah siap?" Tanya Arion menyambut tangan Maya.

"Sudah, Manda mana?"

"Masih dandan. Padahal gak perlu dandan kan ya Mi? Orang ke tutup cadar"

Maya tertawa mendengar guyonan anak sulung nya "malah karena ke tutup dadar itu perawatannya harus ekstra"

"Dih, ganjen. Jangan mentang-mentang udah Manda ya, terus ngajakin istri Abang buat cuci mata"

Kembali tawa Maya berderai "Ya kalau ada yang potensial masak iya gak diterima, Bang? Kan sayang..." jawaban Maya membuat Arion melotot sempurna, namun setelah laki-laki itu turut tertawa.

"Abang hari ini meeting dimana?"

Belum sampai menjawab pertanyaan Arion, asisten rumah tangga mereka berlari dari dalam rumah "Mas.. Bu.. Mbak Manda..."

08012026

KARUNATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang