Semua terhenti, hanya ketika kita mati. Tak ada yang salah dengan pepatah itu, karena baik dan buruknya hidup di dunia menjadi tanda bahwa kita masih bernyawa. Termasuk cobaan demi cobaan yang terjadi di keluarga Wardhana.
Belum selesai dengan sakit akibat harus menikahkan anak bungsunya dengan laki-laki yang bahkan belum di kenalnya dalam, Adit dan Maya harus rela rasa sakitnya kembali di tambah dengan kabar luruhnya calon janin yang akan menjadikan mereka kakek dan nenek.
Ternyata, keadaan sulit Hawa beberapa hari yang lalu juga di alami oleh Manda di saat yang bersamaan. Seakan ada pertanda bahwa mereka saling bisa merasakan satu sama lain.
Suara isakan pilu langsung memenuhi seluruh ruangan privat yang disewa Adit begitu pelukan Maya menghangatkan tubuh menantunya. Manda menangis disana. Begitu pula Hawa.
"Gak papa, gak papa, Sayang. Its oke, yang penting Manda sehat" Ucap Maya sambil mengelus pelan punggung menantunya "sudah ya, Sayang. Kita habis ini pulang, Manda istirahat dan mulai besok Manda gak boleh lagi sedih ya"
Arion hanya bisa menatap kedua perempuan itu dengan tatapan nanar. Hatinya berdenyut saat Maya selalu memeluk lukanya dengan senyum, lagi, dan lagi.
"Yang penting kalian bahagia. Abang sama Manda bahagia. Adek sama Juna juga bahagia" Ucapan Adit membuat Arion mengangguk pelan, meski tak sepenuhnya ia setuju dengan perkataan Adit.
Arjuna yang disebut dalam doa Adit itu, belum Arion kenal dengan baik. Hal itu lah, yang membuat suami Manda itu hanya bisa terdiam.
Dengan Alif yang soleh saja, restu Arion sulit, apalagi dengan Arjuna yang sudah punya nama di dunia bisnis. Praduga akan sifat Arjuna yang tak jauh berbeda dengan sifat sang ayah di masa muda mulai memenuhi isi kepala Arion.
"Kapan Arjuna itu datang?" Pertanyaan Arion membuat Maya merenggankan pelukannya dengan Manda.
Radar waspadanya siaga satu, mendengar Arion mulai kembali mengorek informasi tentang adik ipar barunya.
"Dua bulan lagi" Jawab Hawa datar. Perempuan itu lebih sibuk mengunyah makanan di depan mereka ketimbang harus menjawab pertanyaan posesif yang Arion layangkan padanya.
"Bawa pulang"
Mendengar perintah Arion yang terdengar semena-mena itu membuat Hawa menyudahi makannya. Ditatap nya dalam manik-manik laki-laki hebat kedua setelah ayahnya tersebut "adek gak pernah ikut campur urusan Abang ya, kenapa sekarang malah Abang yang ikut campur urusan adek?! Adek cuma nikah Bang, gak lagi perang"
"Ya karena kamu menikah makanya Abang lebih waspada, laki-laki seperti apa yang akan jagain kamu, itu yang perlu Abang tahu"
Suara Arion yang mulai meninggi itu, membuat Maya dan Manda saling pandang. Arion belum sembuh dari trauma nya. Laki-laki itu hanya menutupinya dengan bersikap baik-baik saja.
Buktinya sampai Hawa menikah pun, Arion masih tetap bersikap seperti itu. Seakan tidak peduli, bahwa yang sedang ia curigai ada spesiesnya sendiri. Dan seakan, Arion tak pernah belajar dari kisah kelam keluarganya di masa lalu.
"Mas..." Rengekan manja Manda cukup berhasil membuat tegangan di tubuh Arion mereda. Ia berhasil membuat Arion menghentikan interogasi nya pada sang adik dan membuat Arion memfokuskan perhatiannya pada dirinya seorang.
"Kenapa, Sayang? Ada yang sakit?" Tanya Arion.
Manda menggeleng. Ia menatap sekilas semua orang disana sebelum akhirnya kembali merengek pada suaminya tersebut "mau pulang..." Kata Manda.
Arion mengangguk singkat lalu buru-buru menghabiskan teh agar segera meninggalkan tempat kumpul mereka. Adit, Maya, Hawa yang mendengar itu menghembuskan nafasnya lega.
Arion dengan keposisefannya bukan gabungan yang baik.
***
"Dia laki-laki baik?" Tanya Manda pada Hawa saat sahabatnya itu lebih memilih tidur di kamar sang ipar ketimbang tidur bersama sang suami.
Helaan nafas dalam terdengar nyaring di telinga Manda "dia ada di dalam kamar ku karena dia mabuk" Kata Hawa lirih. Air mata perempuan itu kembali menetes.
"Astaghfirullah... Lalu kenapa dilanjutkan, Wa?"
"Aku punya pilihan apa selain itu, Kak? Bisnis Papi dan Abang jadi taruhannya... Hiks... Hiks"
Tangis Hawa semakin menjadi kala ia direngkuh dalam pelukan sahabat sekaligus kakak iparnya.
"Nangis aja. Gak papa kalau kamu sedih" Bisikan Manda semakin membuat mata Hawa membengkak. Ia bahkan baru diam setengah jam setelahnya.
"Lalu sekarang gimana? Kamu bisa menjalani semuanya? Emm... Maksud ku dengan orang seperti itu"
Hawa terdiam.
Sejujurnya, ia meragukan dirinya sendiri.
Hidup dengan laki-laki tanpa ada perasaan apapun, jelas tidak mudah. Mengesampingkan hati dan bersikap acuh, juga akan sulit. Terlebih saat ia sebagai perempuan, yang kadang lebih dulu luluh terhadap pesona laki-laki, pasti akan teramat menyiksa.
Tak peduli laki-laki itu laki-laki yang halal baginya atau tidak, namun saat hanya salah satu yang bertindak menggunakan hati, sudah bisa dipastikan hidupnya akan berat. Ia akan kalah bahkan sebelum berperang.
"Aku gak punya pilihan, Kak. Ada banyak orang yang bergantung dengan bisnis Papi dan Abang. Dan aku sama sekali gak ada niat untuk menghancurkan itu"
"Tapi hati mu? Kebahagiaan mu?" Tanya Manda sendu.
"Hati ku sudah mati bersama dengan terkubur nya Bang Alif"
Manda kembali memeluk sahabatnya itu. Nasibnya dengan nasib Hawa tak jauh berbeda. Mereka menikah tanpa adanya cinta lebih dulu. Akan tetapi, Manda beruntung sebab Arion tak pernah menyentuh dunia malam, sedang Arjuna, laki-laki itu akrab dengan dunia itu.
"Ada aku. Ayo kita bersama-sama menghibur diri"
Hawa mengangguk.
"Ehh, tunggu, aku penasaran dengan laki-laki itu. Siapa namanya? Kita bisa cari dia di google kan?"
Hawa hanya menghentakkan bahunya. Dirinya sendiri pun tak mengetahui laki-laki seperti apa yang ia nikahi kemarin malam.
"Namanya Mavis Arjuna Sutoyo" Ujar Hawa menyebutkan nama lengkap suami barunya.
Manda tercengang begitu layar ponsel nya menunjukkan berita teratas yang berkaitan suami adik ipar nya itu "wow... Luar biasa"
Komentar Manda itu, membuat Hawa penasaran. Dengan cekatan ia merebut ponsel kakak ipar nya tersebut dan membaca informasi yang ada di layar tipis itu.
Hot news: pengusaha muda, Mavis Arjuna Sutoyo, terciduk bertengkar dengan perempuan, yang diduga istrinya, di pesta pernikahan sang kakak.
News topics: Mavis Arjuna Sutoyo sudah menikah?.
Dan masih banyak lagi berita-berita yang tercetak disana.
"Lelaki macam apa yang aku nikahi, Kak?" Tanya Hawa sendu.
Manda menatap Hawa nanar. Ia tak punya jawaban atas pertanyaan Hawa itu. Arion memang tak salah menolak pernikahan sangat adik dengan putra kedua di keluarga Sutoyo itu. Laki-laki itu pasti sudah menduga semua ini akan terjadi. Hawa akan menjadi sasaran empuk wartawan setelah ini. Kehidupannya akan menjadi konsumsi publik dan tindak tanduknya akan di awasi dan dinilai banyak mata.
"Apa aku bisa?"
"Kamu punya kita, Wa. Jangan pernah takut sendiri. Hubungi aku kapanpun kamu butuh. InsyaAllah, aku akan selalu ada"
08102025
Haii guys...
Gimana kabar kalian?
Hampir 2 tahun ya, cerita ini vacum tanpa kejelasan.
Ada banyak hal yang menjadi penyebab nya. Maaf ya..
Aku harap kalian masih menyimpan cerita ini di perpustakaan kalian dan mau kembali membacanya...
Terima kasih ya untuk yang masih menunggu, dan selamat datang untuk yang baru bergabung.
Enjoy ya...
KAMU SEDANG MEMBACA
KARUNA
RomanceAwal nya tak pernah kenal sebelumnya, tak pula di jodohkan, keinginan menikah pun tak pernah terbesit, namun tiba-tiba hati Arion tergerak untuk menikahi sahabat adiknya itu.. Sayangnya, rencana untuk menikahnya tidak sesuai dengan kemauannya. Detik...
