Rombongan umroh private yang disewa Adit akhirnya membimbing rombongan itu untuk berpindah tempat dari Mekkah ke Madinah setelah hampir empat hari mereka menikmati indahnya Ka'bah.
Perjalanan yang dilalui dengan menggunakan kereta cepat itu sungguh menjadi hal baru bagi semua orang. Tak butuh waktu lama untuk sampai di Madinah. Hanya kurang dari dua jam, kereta itu berhenti mulus di tempat tenang.
"Agenda kita disini gak banyak Mbak, Mas. Mungkin hanya mengunjungi beberapa tempat sebelum kembali ke Indonesia" Jelas Ustadz yang mendampingi mereka.
"Ya sudah Ustadz, monggo istirahat saja. Nanti kalau kita butuh apa-apa kita menghubungi Ustadz" Ujar Arion sopan.
Ustadz yang juga bertindak sebagai muthowif itu akhirnya meninggalkan ke-empat orang dewasa itu di depan pintu kamar hotel masing-masing.
"Ladies maunya gimana? Tidur sama suami atau mau perempuan sama perempuan?" Pertanyaan Arion membuat Hawa dan Manda saling lirik dan tersenyum penuh arti.
"Tidur sama suami-istri nya sendiri-sendiri aja, Bang" Bukan Hawa ataupun Manda yang menjawab pertanyaan Arion, melainkan Arjuna.
Keinginan Arjuna memang tak biasa. Ia biasanya menyerahkan semuanya pada Hawa, senyaman istrinya itu, namun kali ini pria itu malah lebih dulu bersuara.
Bahkan ada hal lain yang paling mencengangkan yang baru saja terjadi yaitu Arjuna memanggil Arion dengan sebutan 'abang'. Sungguh perubahan yang membuat semua orang disana tercengang.
Senyum yang tadinya merekah dari kedua perempuan yang bersahabat itu, meredup seketika saat Arjuna mengutarakan pendapat nya. Hal itu tak luput dari pengamatan Arion. Akan tetapi untuk mengambil keputusan yang bertentangan dengan Arjuna, sedikit banyak ia pun tak nyaman sebab dirinya memang belum terlalu akrab dengan Arjuna.
"Oke, istirahat. Kalau ada apa-apa saling berkabar. Nanti ke Raudah..." Belum sampai Arion menyelesaikan ucapannya, Arjuna kembali merespon nya dengan cepat "nanti saya yang antar" Putusnya sendiri. Setelahnya, laki-laki itu langsung menempelkan card access pada pintu kamar hotel tanpa memperdulikan wajah cengo anggota keluarga nya yang lain.
"Dek..." Panggil Arjuna dari dalam, saat ia menyadari Hawa hanya berdiri di depan pintu kamar mereka.
"Ehh, iya Mas..." Sebelum masuk ke dalam kamar, Hawa lebih dulu menolehkan kepalanya ke Arion dan Manda. Ia bahkan memberi kode berupa kedipan mata sebelah kanan sebagai bentuk ucapan 'semua akan baik-baik saja'.
Saat pintu di hadapannya tertutup, Manda seketika menghela nafasnya kasar. Ia dan Arion belum beranjak dari tempat mereka berdiri, mengamati pintu yang tertutup itu "Arjuna gak papa kan, Mas?" Tanya Manda lirih namun masih bisa didengar jelas oleh sang suami.
"Dia gak papa, Sayang. Mungkin benar apapun doa kita di tanah Allah ini tak butuh lama untuk terkabul" Jawab Arion masih menatap pintu yang tertutup itu.
"Maksudnya?"
"Mas sempat berdoa semoga ini pernikahan adek yang terakhir dan Juna menerima kehamilan adek, bisa jadi doa Mas itu di kabaulkan smaa Allah kan? Tapi Mas juga yakin, ini bukan karena doa Mas aja tapi adek juga pasti berdoa yang terbaik untuk rumah tangga nya. Allah pasti gak akan diam aja kalau hamba-Nya mengiba kan?"
Manda mengangguk pelan. Dielus nya pelan lengan Arion lalu ia mengajak sang suami untuk masuk ke kamar sebelah kamar Hawa.
"Mau istirahat atau gimana, Sayang?" Tanya Arion saat ia melihat Manda mulai melepas cadar nya dan membongkar koper mereka.
"Kayaknya istirahat aja Mas. Nanti turun kalau udah waktu sholat aja Mas karena malem nanti mau ke Raudah"
Arion tersenyum sambil mengacak-acak pucuk kepala sang istri. Setelahnya, ia memilih untuk menepi dan membuka sedikit jendela di kamar mereka. Berdiri, termenung melihat pemandangan di bawahnya.
Pelataran Madinah begitu indah. Payung-payung raksasa yang biasanya banyak di abadikan oleh orang-orang kini terhampar luas, menjaga tiap-tiap orang-orang yang berlalu lalang di bawah terik matahari yang panas namun menyejukkan.
Masih menjadi misteri, panas di tanah suci tak pernah sampai membuat kulit kesakitan sebab ada angin yang selalu menjadi pendingin alami tanah yang sebagian besar wilayah nya gurun itu.
"Diminum, Mas" Ucap Manda meletakkan air putih dingin di meja tempat Arion berdiri. Harusnya Arion tak perlu berdiri untuk menikmati pemandangan di bawahnya karena pihak hotel seolah tahu kebiasaan banyak manusia, mereka meletakkan meja dan satu kursi di dekat jendela.
"Terima kasih, Sayang" Meski sudah menikah hampir lebih satu tahun, setiap Arion mengucapkan rasa terima kasihnya, pipi Manda secara otomatis memerah. Seperti saat ini, Arion bisa dengan jelas melihat rona kemerahan itu "masih aja salting kalau Mas gituin, heran deh" Ledek Arion, yang langsung mendapat cubitan dari sang istri.
"Ihhhh, nyebelin deh" Rajukan manja dari Mandah malah membuat Arion terkikik. Membuat Manda mengeluarkan sisi feminim nya menjadi hiburan tersendiri untuk Arion.
"Jangan pernah apa-apa sendiri ya, Sayang. Inget, ada Mas yang bisa kamu repotin, kapanpun, dimanapun dan saat apapun, oke?" Ucapan dalam Arion yang tiba-tiba membuat wajah cemberut Manda berubah datar "kenapa tiba-tiba ngomong gitu? Tanya Manda tak suka. Entah mengapa ia merasa tak nyaman saat Arion mengatakan hal itu.
Arion tersenyum. Di peluknya erat tubuh yang lebih kecil darinya itu. Laki-laki itu juga bahkan memberikan kecupan berkali-kali pada kepala sang istri, seolah membenarkan apa yang Manda tanyakan "Mas hanya mau kamu tahu..., kalau kamu gak sendiri. Apapun yang kamu rasa ceritakan sama Mas, tanpa pengecualian"
Kalau di luar sana banyak laki-laki yang menginginkan perempuan tak menye-menye, mandiri dan tahan banting, lain halnya dengan Arion. Pria itu malah meminta Manda untuk bersandar padanya. Suaminya itu tak mempermasalahkan rengekan manjanya, atau sikapnya yang kadang sulit di mengerti. Arion malah memintanya selalu melibatkan apapun meskipun dalam kekanakan sekalipun, mengherankan bukan?
"Harusnya Mas itu bilang 'yang mandiri ya, yang bisa apa-apa sendiri' jadi nanti saat Mas sibuk sama kerjaan, Mas, aku gak akan merengek minta di perhatikan, bukan malah sebaliknya Mas"
Arion tertawa lirih "la kalau semua bisa kamu lakukan sendiri, gunanya Mas apa dong?"
"Aneh banget deh Mas"
"Mas hanya ingin menikmati waktu berdua kita, Sayang, biar jadi kebiasaan kita. Biar nanti kalau seandainya tiba-tiba Allah kasih rejeki keturunan, kebiasaan itu tetap ada. Kita tetap merasa dekat, meskipun nanti ada sosok baru yang harus kita perhatikan"
Pelukan di pinggang Arion mengerat. Bahkan Manda sudah terisak. Topik yang Arion pilih memang tidak salah, tapi menyangkut pautkan dengan keturunan membuat Manda kembali menitikkan air matanya. Ia teringat akan anak yang sempat di kandungnya, yang akhirnya harus ia relakan karena kecerobohan nya yang tak bisa menjaga buah hati mereka.
"Gak usah nangis. Mas yakin nanti kita diberi keturunan di waktu yang pas. Saat Mas siap dan Saat kamu siap"
17122025
Borahe💜
KAMU SEDANG MEMBACA
KARUNA
RomanceAwal nya tak pernah kenal sebelumnya, tak pula di jodohkan, keinginan menikah pun tak pernah terbesit, namun tiba-tiba hati Arion tergerak untuk menikahi sahabat adiknya itu.. Sayangnya, rencana untuk menikahnya tidak sesuai dengan kemauannya. Detik...
