Warning 🔞🔞🔞🔞
Di atas bangku kebesarannya, tepat di dalam studio yang selama ini menjadi saksi atas setiap usaha dan kreasi yang tertuang, pria berkulit putih pucat itu pun membaca setiap komentar yang masuk dan muncul secara jelas di layar komputernya. Lalu mengangguk, menjawab salah satu penggemar yang bertanya.
“Hm. Aku juga menyukainya. Karena untuk membuat lagu ini, benar-benar dibutuhkan konsentrasi dan effort yang tinggi. Terima kasih kalian telah bersedia mendengarkan dan mengapresiasi lagu tersebut.”
Hening pun kembali menyelimuti di tengah musik yang sengaja Yoongi putar sebagai teman di dalam ruang studionya yang sepi. Kembali membaca komentar yang ditujukan padanya yang masih terus bergerak dan menjawab apa yang perlu ditanggapi.
Saat ia menemukan sebuah pertanyaan yang menarik, suara beratnya pun kembali terdengar.
“Dari mana kau mendapatkan inspirasi untuk lagu yang sangat indah itu?”
Yoongi menggaruk bagian tengah keningnya yang tidak gatal seraya berpikir. Berusaha menata kata yang tepat agar mudah dipahami.
“Em ... bagaimana harus menjelaskannya? Aku tidak terlalu pandai dalam menjelaskan bagaimana aku bisa mendapatkan inspirasi dalam penggarapan lagu tersebut. Tapi yang jelas, ada sumbangsih seseorang yang begitu mengerti akan makna dari lirik yang kubuat.”
“Apa Nona Ai Yue salah satunya?”
Yoongi pun membenarkan setelah menangkap satu komentar yang memiliki korelasi yang sama.
“Tentu Nona Ai Yue salah satunya. Dalam penggarapan video, tadinya kami ingin membuatnya bersama. Tapi, karena alasan tertentu, akhirnya ia memutuskan untuk tidak turut andil. Bukan tidak mau, hanya saja memang beliau memiliki jadwal tur yang harus diselesaikan dan itu bukan di negara ini. Di samping waktu pembuatannya yang bersamaan, akhirnya kami sepakat untuk mengambil jalan tengah. Tetap menyelesaikan lagu ini tanpa dirinya di dalam MV.”
“Apa aku memiliki kekasih?” Yoongi terkekeh tidak langsung menanggapi. Menjeda sejenak sebelum menjawab hal tersebut. Entah sudah ke berapa kalinya, ia menemukan pertanyaan yang mengundang rasa penasaran bagi berbagai pihak. Tapi untuk ke sekian kali pula, ia harus mengklarifikasi.
“Tentu. Aku ingin sekali memperkenalkannya pada kalian. Tapi ... sayang sekali. Aku belum memilikinya.”
Saat itu, suasana hati Yoongi mendadak berubah. Ada salah seorang dari penggemarnya yang menyinggung sesuatu yang berhasil menampar hatinya. Hening, mendadak Yoongi dibuat bergeming untuk beberapa detik.
Betapa dalam sekejap, aliran darahnya mengalir deras. Menyentil hatinya berdesir. Satu nama yang telah lama tidak Yoongi sebut namanya, untuk kali ini nama itu terlintas kembali. Yoongi pun berusaha mengatur jalur napasnya yang sesak. Dengan berpura-pura melihat pada arloji guna mengalihkan perhatian, untuk menutupi perubahan suasana hatinya, Yoongi pun berkilah. Segera mengakhiri Live pada malam hari itu.
“Baiklah. Aku harus segera mengakhiri ini. Terima kasih telah menemaniku dan mendengarkan laguku yang baru rilis siang ini. Aku harap kalian menyukainya dan tetap melakukan streaming. Sekali lagi terima kasih dan sampai jumpa.”
Yoongi melambaikan satu tangannya, lalh mengakhiri segalanya.
“Sial!” rutuknya setelah kegiatannya berakhir. Masih terngiang akan apa yang baru saja ia baca dari salah satu komentar.
Bukankah Rindumu Palsu? Kau Bisa Menipu Mereka. Tapi Tidak Dengan Yang Mengetahui Kebenaran. Kenyataannya, Dia Mati Karenamu!
“Siapa kau?! Berani sekali menghakimiku! Berengsek!”
Yoongi pun menyibakkan surainya ke belakang, frustrasi. Begitu penasaran akan sosok yang mengejarnya dan lesap untuk beberapa hari ini. Meski sudah satu minggu lebih, tetap saja kewaspadaan Yoongi sedikit pun tidak berkurang. Justru semakin serius memikirkan sosok yang sewaktu-waktu hilang tenggelam. Lalu kembali ke permukaan dan meninggalkan kenangan usang yang berhasil mengapung begitu dipantik dalam hitungan detik.
Pria itu pun mengusap wajahnya kasar. Begitu gusar memikirkan teror yang tidak berkesudahan. Dengan napas naik turun, pria itu bergumam.
“Vi ... apa kau benar-benar mengirimkan malaikat maut untukku?”
Di lain tempat, Heiran masih memandangi langit gelap di luar sana. Waktu telah menunjukkan pukul 23.00. Dan akhirnya, kafe pun tutup. Setelah Aeri selesai dengan pekerjaannya, Heiran, Aeri dan salah seorang Barista lain pun mulai bersiap segera pulang. Merapikan barang bawaan mereka dan memastikan kondisi kafe aman dan tidak ada barnag yang tertinggal.
Begitu tersisa Heiran dan Aeri, di mana keduanya memutuskan untuk saling berpisah jalan, Aeri pun menegaskan.
“Aku tidak tahu apa yang Eonnie rasakan dan aku juga tidak akan memaksa bila Eonnie tidak mau bercerita. Tapi ... aku yakin, Ennie menyembunyikan sesuatu. Ada baiknya bila terasa menjanggal, Eonnie harus menyelesaikannya. Karena semakin lama ditunda, mungkin akan ada masalah lain yang menghampiri. Jadi tolong pertimbangkan. Jangan lupa makan dan jaga kesehatan, Ne. Mari bertemu besok lagi.”
Heiran pun tersenyum. Mengangguk paham dan mengerti. “Hm. Pulang dan berhsti-hatilah. Terima kasih atas saranmu. Tapi kau sama sekali tidak perlu merasa khawatir karena semuanya berjalan baik.”
Aeri kali ini mencoba memahami dan mengalah. Sama sekali tidak ingin menekan atau pun memaksa. Dia tahu Heiran akan tetap bersikap bijak. Jadi satu hal yang kali ini bisa ia lakukan adalah percaya kepada Heiran sepenuhnya.
Begitu memberikan pelukan hangat, mereka pun berpisah. Saat itu Heiran dengan menggenggam tasnya di depan masih mengamati. Membiarkan bayangan Aeri pada akhirnya pergi menjauh. Setelahnya, barulah dalam kesunyian tersebut hati Heiran berbisik lirih.
“Haruskah aku menemuinya? Mungkin Aeri benar. Aku harus berhenti bersembunyi dan membicarakannya.”
Setelah menimbang cukup lama dalam kebimbangan dan kemelut rasa ragu di mana Heiran merasa panas dingin tertahan, akhirnya di sinilah dia. Perjalanan menuju apartemen sang kekasih guna menyisakan waktu untuk bicara.
Didiamkan selama seminggu tanpa adanya kabar benar-benar membuatnya frustrasi dan bingung. Bahkan Hoseok sendiri juga tidak mencoba untuk menghubunginya. Mungkin karena kemarahan yang Heiran yakin belum mereda. Sampai-sampai kabut gelap itu tak kunjung berkesudahan.
Setelah menempuh perjalanan selama lima belas menit menggunakan bus umum dan sisanya berjalan kaki, Heiran pun tiba di gedung unit apartemen milik Hoseok. Selama kaki melangkah, selama itu pula Heiran masih menimbang. Benarkah ia harus bertemu Hoseok? Lalu, kira-kira, ekspresi semcam apa yang akan dia perlihatkan di depan kekasihnya itu? Apakah saat menemuinya, Hoseok akan mendiamkannya dan bersikap angkuh? Mengingat beberapa kali di tiap kesempatan, Heiran selalu menghindari Hoseok meski dirinya begitu memperhatikan Viona.
Viona, Heiran bergumam. Teringat akan janji di mana dirinya akan hadir dalam festival di sekolahnya. Terlebih bagaimana ekspresi gadis kecil yang polos itu, bagaimana rambutnya dikucir dua dengan jepit berbentuk kupu-kupu yang memantul, membuatnya tampak semakin menggemaskan.
Tiba-tiba saja, tanpa disadari, Heiran tersenyum dikala membayangkan wajah polos itu tersenyum dan melintas dalam pikirannya. Masih tidak menyangka, malaikat dengan hati sebersih Viona harus memiliki masalah yang sungguh tidak terduga. Tapi, apa mau dikata. Terkadang pemikiran yang telah menggelapkan mata dan hati mampu mendorong seseorang untuk berbuat nekat. Sehingga menjadikan mengakhiri hidup lebih cepat menjadi sebuah pilihan yang dirasa tepat. Tanpa tahu, luka yang ditinggalkan sangat berdampak bagi seseorang.
Terlebih Viona yang usianya masih 5 tahun, tentu akan sulit membesarkan hati gadis kecil tersebut dan memberinya pengertian.
Walaupun pernah, sekali Heiran mendapati Viona mengigau memanggil nama ibunya. Bahkan sampai sebesar ini pun, bila Heiran mengingat hal itu, Heiran juga merasa, meski di dalam keramaian, Heiran tetap merasa sepi.
Hingga tanpa sadar, elevator yang Heiran naiki pun berdenting. Tiba di sebuah lantai yang dituju oleh wanita tersebut. Dengan segera, di mana langkah Heiran masih terjaga diam di tempat, wanita tersebut pun menarik napas panjang. Meyakinkan dirinya sendiri bahwa segalanya akan berjalan lancar.
Sudah saatnya mereka bicara bukan? Mengingat usia keduanya yang terpaut jauh walaupun hanya lima tahun. Tapi usia tidak menentukan tingkat kedewasaan seseorang. Meski terkadang Heiran bersikap kekanakan. Namun, tetap, bila ada masalah harus ada salah satunya yang mengalah agar komunikasi berjalan baik. Walaupun sejak tadi, Heiran masih merasa gugup dan panas dingin.
Benar-benar membayangkan ekspresi Hoseok yang entah, mau menemuinya atau tidak. Begitu tiba di depan pintu unit apartemen sang kekasih, Heiran tidak langsung menekan digit tombol dan memasukkan nomor sandi yang merupakan kode masuk ke dalam. Justru dirinya masih berdiam diri tepat di depan pintu di mana Heiran harus beberapa kali mengembuskan napas guna menenangkan degup jantungnya yang semakin berdebar. Bahkan rasa-rasanya, saat itu perut Heiran yang terpilin terasa mulas.
Sial! Kenapa aku jadi begini sih?! Tanyanya pada diri sendiri dan merasa kesal. Menjadikan bibir bawahnya sebagai korban gigitan dari giginya yang tajam. Meski Hieran tidak sungguh-sungguh menggigitnya. Hanya menjadikannya alasan agar ia dapat segera menenangkan diri.
Begitu ia merasa siap, selang tiga menit, Heiran baru menekan kode unit apartemen Hoseok dengan cepat. Lalu, mendorong kenop pintu masuk ke dalam. Suasana di bagian depan tampak lengang, sebelum gelapnya ruang tamu dan siluet bayangan yang terlihat berikut suara desahan yang begitu sering membuat Heiran membeku di tempat di mana kala itu ia melihat sang pria berada di atas seorang wanita, mengungkungnya.
Dan tanpa sadar, refleks Heiran menyebutkan satu nama yang seketika itu membuat sang penghuni rumah menatap Heiran di tempatnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
UNTOUCHABLE
Mystery / ThrillerSecarik kertas bernoda darah yang ditemukan di antara beberapa benda lain yang berserakan di lantai di sebuah unit apartemen seorang wanita oleh Seong Hoseok, menuntun instingnya untuk mencari kebenaran di balik kematian seorang model sekaligus seor...
