“Hm. Maafkan aku. Akhir-akhir ini kafe begitu ramai pengunjung. Jadi aku yang kelelahan tidak bisa membalas pesanmu,” dalihnya pada seseorang di seberang sana yang begitu mengkhawatirkan kondisi Heiran. Meski setelahnya, Heiran bisa mendengar helaan napas lega dari sosok tersebut, Vincente, yang berada di seberang sana.
[Syukurlah bila begitu. Karena tidak biasanya kau mengabaikan pesanku. Meski ya ... pertemuan kita kala itu masih terbilang tiba-tiba. Lalu, besok bila aku tidak salah mengingat, bukankah besok adalah peringatan hari ulang tahun ayahmu? Meski kau begitu enggan membahasnya. Namun, aku hanya ingin menyampaikan ini. Mengingat dulu kau begitu menyambut akan datangnya hari ulang tahun ayahmu.]
Untuk sesaat, di dalam apartemennya yang nyaman, Heiran yang kala itu menumpukan tubuhnya pada punggung bagian belakang sofa yang masih tampak setengah berdiri dengan menghadap jendela hanya bisa menyibakkan surainya ke belakang. Di mana dalam balutan dress rumahnya yang bermotif bunga kamomil hanya bisa merenung. Begitu bingung bagaimana harus menanggapi di kala dirinya sendiri jujur, juga mengakui akan hal itu. Hal yang selalu ia nantikan mendekati perayaan hari ulang tahun sang ayah. Sosk hangat yang begitu ia cintai. Namun, bagaimana sikap yang diambil sang ayah secara sepihak, sungguh membuatnya pada akhirnya memberontak dan memilih melarikan diri.
Karena tak kunjung mendengar tanggapan dari lawan bicaranya, Vincente pun kembali memanggil.
[Heiran ....]
Kala itu, hanya helaan napas berat yang menyambut rungu Vincente. Sebelum pada akhirnya suara familier Heiran kini mulai terdengar.
“Hm. Tadinya aku ingin mengucapkan selamat. Tapi untuk saat ini ... setelah apa yang terjadi, aku tidak yakin bila aku bisa mengucapkannya begitu saja. Lebih tepatnya, hal ini tidak akan semudah biasanya. Lagi pula, di samping itu, aku juga tidak siap untuk kembali. Jadi ....”
[Baiklah. Tidak perlu diperpanjang. Aku paham. Dan aku mengerti. Lagi pula aku hanya sekadar berucap. Tidak ada maksud dan penekanan sama sekali agar dirimu melakukan sesuatu. Kalau begitu aku pergi dulu. Sudah waktunya pemotretan. Jaga dirimu. Karena aku tidak ada di sampingmu hanya untuk mengusir rasa sepimu.]
“Vin ....” Ada nada peringatan di sana. Di mana netra kecokelatan Heiran masih memandang lurus pada pemandangan kota yang tersuguh indah secara bersamaan. Hari kala itu tiada terasa sudah berubah gelap, walaupun malam itu baru pukul 19.00, tapi bagi Heiran, masih belum terlalu larut untuk menerima panggilan singkat tersebut.
Yang di seberang sana hanya terkekeh tanpa beban. Seolah ucapan tulusnya memang tidak memiliki efek apa pun.
[Aku tahu. Aku masih sahabatmu. Jadi, sampai jumpa.]
Setelah memberikan salam penutup, panggilan pun terputus. Heiran segera menarik napas panjang.
Fokusnya kala itu masih belum berubah. Terdiam menatapi lampu-lampu yang terlihat bak bintang seraya merenung. Tanpa sadar, ada sebersit celah yang begitu hangat usai menerima panggilan yang hanya berdurasi lima menit tersebut.
Seulas senyum tipis tiba-tiba menggantung di wajah Heiran yang kala itu seraya mengusap kedua lengannya, pelan. Merasa lega akan ruang yang selalu diberikan oleh Vincente yang dari dulu hingga sekarang tidak pernah berubah. Sama sekali tidak ingin memaksa atau apa pun. Sangat cukup bagi Heiran yang selalu bisa merasa nyaman dengan sikap Vincente yang seperti itu.
Betapa Vincente selalu mampu memosisikan dirinya agar menjadi sandaran ternyaman di mana tidak ada sedikit pun pria tersebut menghakimi. Benar-benar menghargai Heiran atas apa pun yang Heiran lakukan. Ya, paling tidak untuk sejenak, Heiran bisa merasa tenang untuk sekarang. Sama sekali tidak ada pengejaran yang mengharuskannya untuk pulang.
Di saat Heiran masih terlarut ke dalam indahnya replika bintang yang tergantikan dalam wujud cahaya lampu kota yang merata, suara bel dari layar interkom apartemen miliknya pun membuyarkan lamunan Heiran akan sosok sahabatnya yang sempat memenuhi kepalanya beberapa waktu lalu. Sehingga mau tak mau, Heiran pun menoleh ke arah sumber suara dan mendatanginya. Ingin memastikan, siapa tamu yang tiba-tiba datang malam ini.
Sejenak, Heiran sempat mengerutkan dahi. Heiran ingat benar, selain Vincente, hanya Aeri dan juga kakaknya yang mengetahui di mana tepatnya hunian Heiran. Saat itu, dari layar interkom, Heiran yang telah berdiri di tempatnya tampak menelisik. Memandangi bayangan seseorang yang tampak berdiri di depan pintu apartemennya.
“Siapa di sana?” tanya Heiran sopan. Sebelum memutuskan tamu tersebut boleh masuk atau tidak dalam huniannya.
Dari bagaimana sosok tersebut berpakaian, sungguh begitu rapi dan juga formal. Sampai-sampai Heiran mencoba mengingat, apakah ia melewatkan sesuatu? Relasi yang selalu memosisikan dirinya dalam penampilan seperti itu, mengingat dirinya hanya seorang barista di sebuah kafe biasa.
Hingga beberapa detik kemudian, sosok itu menoleh. Membungkuk ke arah interkom dengan senyumnya yang terlihat hangat. Barulah beberapa detik kemudian Heiran memahami, siapa yang baru saja mendatanginya.
Dengan segera, Heiran pun membuka pintu apartemennya untuk sang tamu. Tertegun bingung melihat paras cantik wanita tersebut. Terdiam mengawasi tamunya yang kini bersikap begitu ramah.
“Maafkan saya yang telah mengganggu waktu istirahatmu,” ucap wanita yang menurut Heiran usianya mungkin hampir menyamai kakak Aeri. Atau bahkan satu tahun lebih muda di bawahnya.
Sungguh, dalam diamnya Heiran berusaha mengingat wajah yang baginya tampak tidak asing dan begitu familier ini. Hingga beberapa detik kemudian, sontak ia menyadari sesuatu.
“Saya Park Hyeri, asisten selaku manajer Tuan Seong Hoseok. Maaf bila kedatanganku malam ini terkesan tiba-tiba tanpa pemberitahuan. Tapi, sepertinya ... mau bagaimanapun juga, Anda tetap harus mengetahui ini.”
“Apa Anda utusan langsung dari Hoseok Oppa?”
Wanita itu tersenyum hangat. Hingga dirinya pun mengiyakan pertanyaan Heiran. “Hm. Mungkin Anda baru melihatku. Meski sebenarnya, tidak demikian. Selama Anda sakit di rumah sakit, Saya juga sudah beberapa kali melakukan kunjungan. Namun, tentu secara pribadi hanya menemui Tuan Seong.” Seketika ia mengerlingkan pandang sebelum pada akhirnya meminta izin. “Boleh Saya masuk?”
Heiran yang sempat termangu akhirnya mempersilakan tamunya. Begitu gugup akan kehadiran sosok tamu yang baginya begitu terhormat. “E-eoh, silakan masuk.”
Heiran pun mengantar Hyeri untuk duduk di ruang tamunya yang cukup luas. Mempersilakan tamunya untuk duduk.
KAMU SEDANG MEMBACA
UNTOUCHABLE
Misteri / ThrillerSecarik kertas bernoda darah yang ditemukan di antara beberapa benda lain yang berserakan di lantai di sebuah unit apartemen seorang wanita oleh Seong Hoseok, menuntun instingnya untuk mencari kebenaran di balik kematian seorang model sekaligus seor...
