Part 39

938 154 19
                                        

"Kamu cantik Kala." Puja mengerjapkan matanya berkali-kali, "Kamu benar-benar cantik."

"Semua perempuan pasti kelihatan cantik waktu menikah." Jawabku gugup.

"Nggak." Puja menggeleng-gelengkan kepala sambil mendekatkan dirinya lebih dekat denganku, "Kamu benar-benar cantik. Pengantin paling cantik yang pernah kulihat."

Aku menggigit bibir, menahan diri untuk tidak menangis dengan mengatakan terimakasih setulus mungkin. Puja hanya menganggukkan kepala mendengar ku. Pikirannya jelas tidak fokus karena kali ini perhatiannya jatuh pada deretan bunga wisteria yang di tata megah di antara pohon-pohon tinggi di sekitar kami.

Ya, aku menikah di pinggir hutan. Hutan favoritku. Di antara Padang rumput. Di hiasi bunga-bunga wisteria yang menjuntai dan Hydragea di sepanjang jalan. Dengan hanya sedikit tamu yang di undang. Di bawah kabut sore yang perlahan turun dan hembusan angin gunung.  Pernikahanku seindah mimpi. Seindah desaku. Tapi ini sungguh-sungguh nyata karena mimpiku tidak pernah seindah ini sebelumnya.

"Aku nggak nyangka." Bisik Puja, mulutnya terus ternganga menatap  sekitar, "Aku nggak nyangka....."

"Nenek Djiwo dimana? Beliau datang?" Tanyaku lebih untuk mengubah perhatian Puja.

"Nenekku mana sudi datang ke pernikahanmu Kala." Seru Puja sambil mengendikkan kepalanya ke arah ibuku yang sedang tertawa terbahak-bahak bersama beberapa tamu tidak jauh dariku, "Apalagi ketemu muka dengan ibumu."

"Nenekku juga bisa mati berdiri kalau melihat gaun mu sekarang." Tambah Puja, dengan gerakan terang-terangan Puja menatapku dari atas kebawah, tepatnya menatap gaun pernikahanku yang putih mewah menjuntai. Gaun yang seumur hidup sudah pasti belum pernah di lihat Puja, karena aku sendiripun belum pernah melihat gaun seindah ini sampai aku memakainya sendiri, "Aku nggak nyangka. Aku nggak  nyangka. Kenapa bisa? Kenapa kamu ternyata menikah lebih dulu dari aku? Kenapa kamu tiba-tiba menikah? Kenapa pernikahanmu di atur secepat ini? Bahkan tanpa satupun warga desa tau sampai di detik terakhir? Kenapa? Kenapa kamu bahkan juga nggak ngasih tau aku Kala?"

Aku tersenyum lemah, aku sudah berkali-kali mendengar Puja menanyakan hal yang sama. Sejak undangan pernikahanku mau tidak mau harus mulai di sebar di detik detik terakhir, "Karena aku sayang Hugo, Puja."

Puja mengerutkan kening, ekspresinya tidak puasnya sangat jelas dan matanya kini tertuju pada Hugo yang juga berdiri tidak jauh dariku, "Sejak kapan? Bukannya kamu nggak pernah kelihatan suka dengan pak Hugo?"

Aku mengikuti mata Puja. Menatap keajaibanku. Hugo. Dengan jas hitam pernikahannya berdiri di samping pak Gunther menyambut beberapa tamu. Tinggi tubuh Hugo, wajah, wibawa, gerak gerik dan cara bicaranya sukses berkerjasama untuk membuat perhatian semua orang terus teralih padanya, tanpa usaha. Termasuk aku. Sekalipun semua orang tau, kini Hugo milikku.

"Kenapa harus pak Hugo?" Bisik Puja. Tatapannya lekat pada Hugo sebelum kembali kepada.

"Karena kamu tau kalau perasaan bisa berubah kan, Puja?"

...............

"Kala."

Suara itu berat, pelan, dalam. Seperti bunyi musik lembut yang sama nyamannya dengan bunyi hujan di pagi hari. Membuatku ingin terus memejamkan mata. Bersembunyi dalam selimut yang nyaman sambil merasakan hembusan nafas Hugo yang teratur.

"Kala." Bisik Hugo lagi, suaranya kini menggelitikku, karena suara itu berbisik  dekat di telinga.

Mau tidak mau mataku mulai terbuka sedikit. Aku mengedipkannya beberapa kali. Mengusap wajahku perlahan hingga kesadaranku sudah cukup untuk menyadari bahwa aku tidur di pangkuan Hugo.

"Hugo?" Aku tersentak kaget. Kesadaranku kembali, "Hugo nggak tidur dalam posisi duduk semalaman kan?!"

"Menurutmu?" Jawab Hugo. Ia tersenyum sangat dekat di depan wajahku hingga hidungku dan hidung Hugo saling bersentuhan.

Aku mematung malu. Posisiku sekarang tidak jauh beda dengan posisi tidurku berbulan-bulan lalu saat Hugo menemukanku Hipotermia di gunung. Tapi bedanya kali ini aku berada di kamar Hugo. Di atas kasurnya dan kini bukan cuma Hugo yang tidak berpakaian tapi aku juga.

Melihat reaksiku, sambil tertawa kecil Hugo dengan santai membetulkan posisi selimut di punggungku, kemudian menepuk-nepuk puncak kepalaku hingga aku bisa dengan nyaman menyembunyikan wajahku yang merah padam di antara lengkukan leher Hugo yang hangat. Hugo tau. Ia selalu tau bahwa aku butuh waktu untuk mematung bersembunyi dulu setiap kali aku di serang rasa malu.

"Kenapa harus malu? Kamu istriku Kala." Bisik Hugo setelah beberapa lama aku terdiam.

"Tapi aku belum pernah tidur di samping Hugo tanpa baju." Ucapku, saking malunya aku sampai tidak bisa mengeluarkan suara lebih dari bisikan.

"Aku sudah lihat semuanya." Ujar Hugo santai, "Kamu nggak harus selalu langsung pakai pakaian setelah berhubungan."

Astaga. Aku menjerit dalam hati saking malunya, "Tapi aku juga tidur di pangkuan Hugo kan semalaman? Apa iya? Aku kok nggak ingat?"

"Sebelum kamu tidur pun kamu duduk di pangkuanku." Jawab Hugo, membuat rasa Maluku kini bukan cuma membakar tapi juga meledak seperti rentetan ledakan kembang api.

Aku buru-buru menutupi wajahku dengan telapak tanganku sendiri. Hendak bangkit berdiri. Aku tidak tahan. Aku nggak tau apa suami istri lain juga seperti ini. Tapi keberadaan Hugo terlalu berlebihan untukku. Sampai sekarang pun aku masih selalu bertanya-tanya bagaimana bisa aku jadi istri Hugo? Orang seperti Hugo? Melakukan semuanya dengan Hugo.  Semua hal pertama yang pernah kurasakan seumur hidup.

Sayangnya Hugo justru menarik kedua pergelangan tanganku dengan mudah. Menjatuhkan ku ke kasur dan mulai menciumiku wajahku, tubuhku semuanya. Di bawah hujan pagi hari yang menetes keras di jendela kamarnya yang besar. Di balik pohon-pohon Cemara dan kabut gunung yang paling kusuka.

Aku sudah pernah melakukan ini dengan Hugo berkali-kali. Berbulan-bulan hampir mendekati setahun. Tapi aku tidak pernah terbiasa. Menatap wajah Hugo yang tidur di sampingku saja aku tidak pernah biasa. Karena Hugo bukan lagi kutukan, ia keajaiban untukku. Hadiah dari Tuhan. Yang terlalu mewah. Yang seperti tidak nyata.

Aku baru menyadari waktu sudah terlalu lama berlalu ketika hujan berhenti turun dan kabut menghilang. Sinar matahari mulai masuk dan seharusnya aku beraktivitas. Sama seperti Hugo. Kami tidak boleh seharian di kamar karena aku nggak akan tahan esoknya melihat wajah para karyawan Hugo, terutama pak Nawa yang pasti menyadari Hugo dan aku sama sekali tidak keluar kamar seharian, walaupun mereka pasti tidak akan komentar apa-apa.

"Hugo." Aku mengusap rambut Hugo sambil menunjuk sinar matahari dari jendela, "Hugo harus ke Arutala kan?"

"Kamu mau aku pergi?" Tanya Hugo dengan raut wajah bandelnya, mulai menciummi bibirku lagi.

"Aku harus masak juga. Untuk sarapan Hugo." Jawabku berusaha tampak serius.

Hugo nyengir, "Wajahmu kalau sedang begitu kelihatan lucu, Kala."

"Eee." Aku meringis, "Aku harus pasang wajah gimana supaya Hugo mau siap-siap, mandi, keluar kamar, berangkat kerja?"

"Nggak ada." Jawab Hugo, akhirnya ia berhenti menciumi bibirku tapi pindah mencium puncak rambutku, "Ini hari ulang tahunku Kala. Seharusnya khusus hari ini aku bisa hanya melakukan hal yang memang aku suka."

"Apa yang Hugo paling suka?"

"Kamu."

Tanpa sadar aku tertawa kecil, bahagia, "Apa nggak ada yang lain?"

"Berburu." Jawab Hugo semangat, "Apa kamu mau ikut aku berburu hari ini, Kala?"

Reminiscent (Completed)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang