Part 45

841 140 7
                                        

Hugo melangkahkan kaki dengan semangat. Nyaris berlari. Bahagia karena akhirnya ia bisa menyentuh senapan berburu yang selalu ia rindukan selama ia hampir setahun tinggal di Jerman.

Satu-satunya hal yang akhirnya membuat langkahnya terhenti hanya ibunya. Ibu Hugo tersenyum anggun, di tangannya ada roti dalam sekantung besar kertas. Beliau berdiri di pintu depan seakan sudah lama beliau menunggu disana.

"Ibu buat roti kesukaanmu. Roti walnut." Ujar ibu Hugo. Satu tangan beliau hendak menggapai ransel pendaki Hugo.

Hugo menggeleng, "Ada banyak makanan di hutan."

Ibu Hugo tersenyum, "Ibu tau. Tapi ibu lebih tenang kalau ibu yakin anak ibu bawa bekal."

Hugo menghela nafas, ibunya adalah satu-satunya orang yang Hugo bersedia mengalah. Ia buru-buru membuka tas nya lalu dengan cepat untuk memasukan sebungkus besar roti.

"Hugo?" Panggil ibunya sekali lagi, kini tangan beliau dengan kikuk merogoh kantung baju terusan nya untuk mengeluarkan sebilah pisau lipat dengan ukiran rumit, "Ibu tau, pak Bhagya pasti bawa pisau gunung yang lebih besar dan lebih bagus dari ini. Tapi ibu juga lebih tenang kalau kamu bawa pisau ini untuk berjaga-jaga."

"Ya." Jawab Hugo, memasukan pisau lipat dalam kantung jaketnya, lebih untuk membuatnya bisa lebih cepat melangkah pergi.

Anehnya, ibunya kembali menarik ujung lengan baju Hugo seperti berusaha mengulur waktu. Hanya terdiam cemas menatap anaknya tanpa sepatah kata seakan Hugo tidak akan pernah kembali lagi setelah ini.

Hugo menghela nafas. Ia tidak tahan menghadapi situasi remeh temeh ini. Suka tidak suka Hugo akhirnya melepaskan paksa pegangan tangan ibunya.

"Aku pasti kembali Bu." Hugo menepuk pundak ibunya sebelum melangkah pergi.

.........

Pak Bhagya terus menatap langit diantara pepohonan. langit mendung gelap. Segelap malam dan angin bertiup kencang.

"Hugo lebih baik kita tidak melanjutkan naik." Kata pak Bhagya, wajah beliau yang biasanya tenang kini sedikit keruh.

"Kenapa?" Hugo tersenyum, ekspresi wajahnya meledek, andrenalin nya terpacu. Ia suka alam yang tak tertebak, karena apa asiknya belajar tentang alam dengan sesuatu yang monoton tanpa kejutan.

"Kamu seharusnya merasa, bulu kudukmu berdiri."

"Saya tidak takut."

"Bukan masalah takut." Pak Bhagya menyentuh rambutnya sendiri, "Ini masalah kamu bakal mati tersambar petir atau tidak."

"Rambut dan bulu kuduk mu berdiri itu tanda ada Medan listrik, Hugo. Artinya ini bukan sekedar hujan badai. Tapi hujan badai petir. Ngalap."

Mata kelabu Hugo membelalak. Ngalap. Entah apa itu tepatnya. Tapi jelas membuat jiwa berpetualang nya meletup liar.

"Saya mau merasakan ngalap."

Kalimat Hugo sukses membuat pak Bhagya bengong sesaat, "Gimana?" Bahkan beliau tidak percaya dengan telinga nya sendiri.

"Saya tetap ingin mendaki sampai puncak hari ini."

"Nggak akan ada binatang yang berani keluar dari sarangnya sekarang, Hugo. Kamu juga nggak akan bisa dapat apa-apa kecuali hipotermia."

Senyum Hugo melebar. Apa yang lebih menarik daripada menantang maut?

"Jangan remehkan alam, Hugo." Pak Bhagya menggelengkan kepala, segera berbalik badan menuruni lereng gunung mengabaikan anak didik nya yang otaknya sudah mulai tidak waras.

"Oke. Saya bisa sendiri." Hugo tertawa sinting, ini hari yang sudah lama ia tunggu-tunggu, mendaki gunung, setelah berbulan-bulan ia terjebak dalam raksasa besi di Jerman, tidak ada yang bisa menghentikan Hugo termasuk badai petir, "Bapak bisa pulang."

Langkah kaki pak Bhagya sontak berhenti. Beliau kelihatan jelas menghela nafas berat sekalipun Hugo tidak bisa melihat wajahnya.

"Jangan remehkan hipotermia." Pak Bhagya akhirnya mulai bersuara setelah sekian lama, "Hidupmu masih panjang Hugo. Banyak yang menunggu kamu di rumah."

"Jangan bicara seakan saya akan mati nanti."

"Kamu memang bisa mati." Pak Bhagya menoleh, wajahnya lelah, "Semua yang hidup bakal mati."

Hugo tersentak. Ia tidak menyangka  pak Bhagya mengungkit soal kematian. Karena itu topik yang Hugo tidak pernah dengar satukalipun dengan siapapun. Salah satu topik tabu di Sembagi.

"Ilmu dari saya belum cukup untukmu Hugo. Kamu belum bisa naik gunung dalam keadaan ngalap."

"Saya sudah belajar dari bapak selama bertahun-tahun. Apa itu masih kurang?"

"Kalau ilmu mu sudah cukup. Tanpa saya beritau pun kamu pasti akan memilih turun gunung."

Hugo sudah hendak membuka mulutnya, membantah namun mendadak kabut gelap turun. Kabut itu lebih pekat dari darah. Diikuti suhu yang seperti mendadak turun beberapa derajat menembus tulang bersamaan dengan rintik hujan pelan.

Hugo tercengang. Ia belum pernah menghadapi kabut yang jatuh secepat ini. Seaneh ini. Untungnya kesadaran Hugo segera kembali karena tangannya di tarik oleh seseorang.

Pak Bhagya dengan cepat melepaskan secarik kain yang biasa beliau gunakan di kepalanya untuk mengikat pergelangan tangan Hugo dengan pergelangan tangannya.

"Jangan panik." Ucap pak Bhagya, "Jangan bergerak sampai kabut ini hilang."

"Kabut apa ini?"

Bukannya menjawab pertanyaan Hugo pak Bhagya justru berbisik, "Hati-hati dalam berbicara. Hati-hati dalam berdoa. Kita tidak tau kalimat apa yang di dengarkan oleh tuhan."

Hugo mengerutkan kening. Mulai merasakan bulu kuduknya benar-benar berdiri entah karena Medan magnet atau rasa asing aneh yang mengalirinya. Disaat bersamaan, kini Hugo bahkan tidak bisa lagi menatap wajah pak Bhagya. Wajah pak Bhagya yang hanya berjarak beberapa jengkal tidak terlihat lagi oleh kabut. Hanya pergelangan tangan mereka yang saling bertaut yang membuat Hugo yakin pak Bhagya masih ada di sampingnya.

Detik demi detik berlalu. Hujan turun semakin deras. Hugo mencengkram jaketnya. Hujan ini serupa bongkahan es saking dinginnya. Beberapa ada yang es betulan. Mematuk-matuk kepalanya. Menyakitkan.

Hugo ingin sedikit bergerak. Ia tau wilayah punggung naga ada beberapa Pohon cukup besar yang bisa sedikit menutupi dari pukulan es dari langit ini. Dalam rencananya Hugo akan berjalan pelan. Merayap dari satu pohon ke pohon lain sambil meninggalkan tanda dengan pisau lipat ibunya. Tapi setiap Hugo berusaha bergerak sedikit cengkeraman tangan pak Bhagya justru semakin keras. Membuatnya tetap membatu.

Anehnya, dalam detik entah keberapa kabut mendadak sirna. Menghilang dengan ajaib. Menyisakan daratan yang memang Hugo kenal dengan dua patung kayu yang anehnya Hugo yakin tidak ada apapun di tempat itu sebelumnya.

"Itu apa?" Hugo mengerutkan kening. Kakinya mulai melangkah menuju dua pahatan kayu.

"JANGAN KESANA." Teriak pak Bhagya.

Hugo tersentak. Kakinya mendadak oleng bersamaan dengan angin sangat kencang. Angin itu menghisap. Dingin menyengat. Menarik Hugo menuju ke dua pahatan kayu.

"JANGAN!!!!" Teriak pak Bhagya. Hugo bisa merasakan tangan pak Bhagya menariknya sangat keras. Hampir melemparnya ke arah lain, sebelum akhirnya Hugo berhasil menancapkan pisau lipat miliknya ke tanah. Tersungkur kehabisan nafas terombang-ambing.

Nyawanya seperti sudah hilang setengah sebelum pusaran angin itu terhenti. Menjatuhkan nya kembali ke bumi. Hugo terengah-engah. Tercengang. Tersedak hingga terbatuk.

Pak Bhagya segera memeluk Hugo. Menariknya menjauh entah kemana sambil menepuk-nepuk punggungnya.

"Anagata. Itu Anagata Hugo. Jangan pernah kesana. JANGAN PERNAH."

Reminiscent (Completed)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang