Bab 30 : Tiga Pilihan

88 17 5
                                        

┏━━━━°❀•°✮°•❀°━━━┓
     —(♡♡𝓗𝓪𝓹𝓹𝔂 𝓡𝓮𝓪𝓭𝓲𝓷𝓰♡♡—    
┗━━━━°❀•°✮°•❀°━━━┛
-
-
-
______________

Mata pelangi memicing dengan tangan bersedekap dada. Gadis itu menarik Embun agar berdiri di belakangnya, ia tak sudi jika sang adik berdekatan dengan musuh masa kecil nya itu.

Bella, memasang wajah kecut. Padahal tadi dia sedang asik berbincang dengan Embun, eh! Pelangi malah tiba-tiba datang dan membuyarkan perbincangan hangat mereka.

'dasar pengganggu!' gerutu Bella di sertai delikan sinis.

Embun gugup sekali melihat wajah masam pelangi, gadis itu pun tertunduk memilin ujung seragam nya saat tatapan sinis sang kakak melirik padanya.

"Ikut kakak!" Pelangi menarik Embun agar pergi dengan nya.

"Enak aja lu! Gue lagi ngobrol sama adik gue woii!! Main bawa aja, kagak bisa!" Pekik Bella tak terima teman ngobrol nya hendak di bawa. Ia menahan satu lengan Embun agar tak beranjak.
Pelangi menggeram dalam hati.
Apa katanya tadi? Adik? Sejak kapan pelangi dan Bella jadi saudara?

"Apa lo bilang?! Adik?! Embun adik gue! siapa lo main ngaku ngaku?!" Tajam pelangi galak. Ia melirik tangan Embun yang di genggam Bella.

"Lepasin adik gue!"

"Gak mau!" Kekeuh bella, sengaja ingin membuat pelangi kesal, katanya sih hobi, makanya dia suka sekali membuat marah gadis itu.

Embun yang berada di tengah-tengah pun hanya bisa mengerjap polos, matanya bergantian menatap pelangi dan Bella. Ia menggeleng tak habis pikir, sembari menghela nafas berat. Diperebutkan ternyata tidak enak, tangannya bahkan sudah mulai sakit sekarang.

"Kak pelangi, kak Bella ... Udah. Jangan berantem!" Ujar Embun menengahi.

Pelangi mendelik tajam ke arah Embun, gadis itu sungguh bingung dengan reaksi sang kakak. Dalam hati ia berpikir apa lagi kesalahannya.

"Gak usah manggil dia kakak! Dia itu bukan kakak kamu!" Pelangi melotot dan itu sukses membuat Embun meneguk ludah nya dengan susah payah.

'salah lagi, emang lebih baik Embun diam aja deh'

Bella mengulum bibir nya, perlahan genggamannya pada lengan Embun ia lepaskan, ngeri juga dia melihat tatapan pelangi yang sepertinya siap menelan nya detik ini juga. Jadi, ada baiknya ia menghindari kematian kan?

"Ishh, gak usah ngamuk kali!! Nih, gue lepas, belum apa-apa aja udah kek macan, gue culik beneran tau rasa!" Gerutu Bella dengan tatapan Sinis.

"Apa lo bilang? Coba ulang?" Tanya pelangi dengan nada mencekam, tentu saja dia marah. Bella katanya mau menculik adiknya, siapa yang tidak emosi?
Tapi Embun yang sudah biasa dengan bercandaan Bella, tidak menganggap itu serius jadi dia hanya tersenyum tipis sembari melirik wajah sang kakak yang naik pitam.

"Mau gue culik adik lo! kenapa? Kagak terima? Lagian kayaknya Embun tuh tertekan banget jadi adek lo! Jadi kasih gue aja! Gue jamin dia bahagia lahir batin." Tengil Bella di akhiri kedipan mata ke arah Embun, hingga gadis itu tersenyum manis tapi kembali pudar saat mata Pelangi menatap nya garang. Embun kembali tertunduk.

"Gak usah halu!! Dasar stress! Suruh bonyok lu tuh buatin lo adik! Biar gak ganggu adik gue Mulu!" Kesal pelangi, nampaknya emosi nya sudah sampai di ubun-ubun tinggal tunggu waktu akan meledak.

"Gue maunya Embun! Gimana dong?"

"Mimpi aja terus, kagak usah bangun!!" Final kekesalan pelangi Sebelum akhirnya melangkah pergi dengan kaki menghentak kesal, saking emosi nya ia sampai lupa tidak membawa Embun.

sibling's Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang