Bab 64: pertarungan

50 7 7
                                        


Bugh!

Argh!

"Kak pelangi!" Embun histeris saat pelangi tersungkur setelah mendapat hantaman balok pada perutnya.

Pelangi yang sedang menahan sakit berusaha keras berdiri. Apapun yang terjadi ia harus bertahan. Demi embun, adiknya yang saat ini menatapnya dengan penuh cemas, dia bahkan sudah menangis sembari berusaha mendekat tapi kondisinya tidak memungkinkan ia berpindah dengan cepat.

Pelangi menggeleng, memberikan sebuah isyarat sembari ia berkata singkat. "Tetap di sana, embun!" Titahnya tanpa menerima bantahan. Raut wajahnya dingin. Tak ada senyum sedikitpun yang biasanya embun liat. Dengan Terpaksa embun menuruti, terlebih lagi tubuh nya kini di rengkuh oleh Bella yang juga duduk di sudut lorong. tenaganya tak begitu kuat untuk ikut bertarung, jadi untuk saat ini ia memilih diam saja mengumpulkan tenaga, juga membiasakan diri dari rasa sakit di kepalanya yang setiap kali ia bergerak, terasa seperti ada sesuatu yang menusuk.

Embun menoleh, menatap Bella yang pucat. "Kak pelangi gak akan kenapa-napa, kan, kak?" Tanyanya dengan suara gemetar.
"Gak akan… dia pasti bisa ngelawan mereka, lagipula ada Ara sama Larissa juga yang bantuin pelangi." Ujar Bella. "Embun tenang aja, ya? Percaya sama kakak kamu. Dia itu jago beladiri."

Bella terus berusaha menghibur embun yang terlihat semakin cemas. Meskipun sebenarnya Bella juga khawatir akan keselamatan teman temannya mengingat yang mereka lawan ini bukan orang orang biasa, tapi mereka semua adalah anak buah seorang pembunuh berantai seperti Scarlett.

Di depan sana, pelangi berdiri paling depan berdampingan dengan Ara, meskipun terluka Ara masih tangguh untuk melawan para bedebah itu. Di tangannya kini ada sebatang besi berkarat sisa-sisa teralis tua yang sudah rusak. Dalam hening ia melirik pelangi di sampingnya, walaupun tak berkomunikasi dengan suara, pelangi tau isyarat mata Ara. Dia pun mengangguk singkat lalu…

Pelangi setengah berlari, sembari mengangkat tinggi balok yang tadinya sempat membuat dirinya kesakitan. Satu kali memukul masih bisa di hindari oleh lelaki di hadapannya, namun, untuk kedua kalinya pukulan pelangi telak mengenai kepala pelontos lawannya hingga lelaki itu tumbang dengan kepala bercucuran darah.

Setelah salah satunya berhasil pelangi lumpuhkan ia beralih membantu Ara yang berhadapan dengan dua pria berbadan besar.

Bugh!

Dengan kekuatan penuh satu tinju mengenai bagian wajah si pria hingga topengnya terlepas dan jatuh. Terlihat wajahnya memerah emosi.
Dengan beringas ia menyerang pelangi, mencoba menjatuhkan gadis muda tersebut. Namun sayangnya tongkat besi Ara lebih dulu menembus perutnya.

Aarggh!

Lelaki itu mengerang keras lalu jatuh kelantai memegangi perutnya yang masih tertancap besi milik Ara.
Sekarang semua sudah berhasil mereka kalahkan, saat nya Kembali melanjutkan perjalanan mereka.

Pelangi berjalan menghampiri adiknya. Ia berjongkok di hadapan embun.
"Ayo cepat naik!" Perintahnya dengan tegas. Embun hanya bisa mengangguk dan patuh dengan perintah pelangi.

Saat berada di punggung kakak nya, embun menyadari bahwa sang kakak terluka di bagian bahu. Luka memar kebiruan yang ia dapatkan saat bertarung barusan.

"Kakak luka…" lirih embun dengan nada lemah. Tangannya menyentuh pelan bahu sang kakak yang membuat pelangi sontak mendesis kesakitan.
Buru-buru embun menyingkirkan tangan nya dengan rasa bersalah.

Pelangi menghela napas dalam-dalam, berusaha mengabaikan rasa sakit yang menjalar di bahunya. "Jangan disentuh, Embun," ujarnya singkat. Meskipun suaranya datar, Embun bisa merasakan kalau kakaknya sedang menahan perih.

sibling's Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang