oOo
Lantai kaca di bawah kaki mereka semakin retak, membuat Ana menjerit ketakutan. Pelangi, meskipun hatinya bergemuruh dengan emosi campur aduk, tahu bahwa ia harus segera bertindak.
"Helene, berhenti bicara dan mundur! Kita harus keluar dari sini sebelum semuanya runtuh!" teriak Pelangi dengan nada tegas, matanya penuh kegelisahan.
Helene berdiri di tempat, tatapannya kosong namun penuh tekad. "Kalau kita keluar tanpa tau kebenarannya, ini semua nggak akan pernah selesai, Pelangi. Embun bukan orang yang lo kira. Gue yakin dia nyembunyiin sesuatu yang lebih besar."
"Gue nggak peduli apa yang lo bilang!" Pelangi memotong, suaranya bergetar. "Embun nggak mungkin ngelakuin ini. Gue percaya sama dia. Kalau lo mau tetap nuduh dia, silakan, tapi jangan libatkan gue!" Geram pelangi mendengar Helene menuduh adiknya, lagi dan lagi.
Ana menangis lebih keras, membuat Pelangi semakin tidak sabar. "Hel, kalau lo nggak mau ikut, itu urusan lo! Gue nggak akan ninggalin Ana di sini!"
Helene membuka mulutnya untuk membalas, tapi suara lantai yang retak menggelegar menghentikannya. Sebuah pecahan besar kaca di bawah kakinya runtuh, memaksa Helene melompat ke sisi yang lebih aman. Saat itu, Pelangi sudah menarik Ana dan berlari menuju satu-satunya pintu di ujung ruangan.
"Pelangi, tunggu!" Helene berteriak, mengejar mereka.
Namun, sebelum ia bisa sampai, bagian lantai kaca terakhir di bawah Helene runtuh, menjatuhkannya ke dalam kegelapan.
oOo
Pelangi menoleh ke belakang dan menatap kosong ke tempat Helene tadi berdiri. "Helene!" Ia ingin berlari kembali, tapi Ana menarik tangannya dengan isak ketakutan.
"Jangan! Nanti kakak juga jatuh!" Ana memohon, wajahnya basah oleh air mata.
Pelangi menggigit bibirnya, hatinya mencelos. Ia ingin menolong Helene, tapi keselamatan Ana adalah prioritas utamanya. Dengan berat hati, ia menyeret Ana menuju pintu, meninggalkan tempat itu yang kini telah menjadi reruntuhan. Dalam hatinya ia berharap Helene tidak apa-apa, dimanapun ia berada.
oOo
Helene terjatuh ke lantai yang keras, napasnya tercekik karena debu tebal. Matanya perlahan menyesuaikan diri dengan kegelapan di sekitarnya. Saat ia bangkit, ia menyadari bahwa ia berada di ruangan berbeda, dengan dinding-dinding logam yang berkilauan di bawah cahaya redup.
Suara langkah berat mendekat, menggema di lorong panjang. Helene menoleh, dan di ujung ruangan, ia melihat seseorang melangkah maju—Embun.
"Jadi, karena kakak udah tau, sekarang kak Helene mau apa?" kata Embun dengan senyum dingin. "Aku penasaran, apa yang bisa kakak lakukan sekarang?" Ia tersenyum manis, tidak, lebih tepatnya ia tengah mencibir.
Helene mengangkat dagunya, mencoba menyembunyikan ketakutannya. "Gue… gue akan menghentikan permainan ini. Apa pun caranya."
Embun tertawa kecil, suaranya seperti gema yang menggema di ruangan. "Kakak bisa mencoba. Tapi permainan ini bukan sekadar petak umpet biasa. Ini tentang sesuatu yang lebih besar—dan kakak baru saja memulainya. Ini tentang nurani dan logika. Jadi… jangan sampai kakak kehilangan akal dalam permainan ini."
Helene memandangnya dengan tajam. "Apa maksud lo?"
Embun tidak menjawab. Sebagai gantinya, ia mengangkat tangannya, dan dinding-dinding di sekitar Helene mulai bergerak, membentuk labirin baru.
"Kita lihat seberapa jauh kakak bisa bertahan," ucap Embun sebelum menghilang ke dalam bayangan.
Helena tersentak, buru-buru bangun walaupun tubuh nya terasa sakit.
Matanya mengedar takut, meneliti labirin tempat nya berada, seorang diri.
KAMU SEDANG MEMBACA
sibling's
SonstigesJANGAN LUPA VOTE YA GUYS!!!❤️ Ini kisah pelangi yang indah disandingkan dengan Embun yang penuh dengan kesederhanaan. •Dua gadis, dengan dua karakter yang berbeda. •Kisah yang di bumbui dengan tragedi, serta teror misteri pembunuhan berantai. •sebua...
