Ana terlihat semakin gemetar, bibir nya yang pecah mulai bergerak. "Dia… disana."
Tunjuk nya dengan jari bergetar.
Pelangi yang tergamang sesaat, perlahan mengangkat wajahnya—menatap lurus tepat ke arah yang ana tunjuk.
Seketika itu, tulang-tulang pelangi rasanya bergetar hebat, keringat dingin mulai menjalar di pelipisnya.
Netra hitam itu berkedip lambat, dengan wajah pucat pasi.
Pelangi linglung, tertunduk ragu untuk kembali menatap sosok di depannya.
Ucapan teman temannya nampaknya mulai mempengaruhi akal sehatnya, itu sebabnya ia enggan bersitatap dengan Gadis di depan sana. Topeng nya memang masih melekat erat, namun perasaan yang menjalar di hati pelangi membuat ia tidak nyaman.
Ara mendekat, mendorong pelangi dan yang lainnya menjauh dari si gadis bertopeng.
"JANGAN MENDEKAT, EMBUN!" Ara berteriak dengan penuh peringatan. Tatapan nya tajam, namun masih kalah mengintimidasi dari sosok bertopeng itu.
"Kenapa? Ini ruangan ku. Aku bebas ngelakuin apapun, disini!" Embun melangkah, mendekat, memaksa Ara mundur.
'gue harus ngelakuin sesuatu!'
Ara bermonolog batin dengan tatapan yang tak teralihkan dari sosok di hadapan nya.
Menyadari jarak mereka berdua semakin dekat, Ara tiba-tiba tersenyum miring. Sebuah ide hebat melintas di kepalanya.
Srett!
Suara sobekan terdengar, di susul Dengan jatuh nya sobekan topeng ke lantai.
Semua tertegun, menatap Ara dengan tatapan cemas, pasalnya di tangan si gadis bertopeng ada sebilah pisau yang bisa melayang kapan pun, menyerang Ara.
"Pelangi! Ayo, lihat dia! Lo pasti kenal, kan." Panggil Ara tanpa menoleh.
Dengan ragu, dan sedikit takut, pelangi memberanikan diri mengangkat kepalanya.
Ketika matanya bersitatap dengan netra kelam di hadapannya, air mata pelangi tak bisa ia bendung.
Ada dua emosi yang ia rasakan saat ini. ia merasa terharu, karena setelah sekian lama akhirnya embun kembali muncul di hadapannya, itu sebabnya kaki pelangi perlahan melangkah mendekat.
Senyuman gadis berponi tipis di hadapannya mampu menggetarkan hati pelangi, terutama saat tangan nya terangkat—meminta sebuah pelukan.
Namun, di jarak tak lebih dari satu meter, pelangi tiba-tiba berhenti.
Sorot yang tadinya dipenuhi perasaan haru, tiba-tiba berubah dengan tatapan terkejut bukan main.
"Ka… kamu. Enggak, I ini gak mungkin…" pelangi membekap mulutnya tak percaya saat menyadari bahwa, lembaran topeng yang terjatuh ke lantai itu adalah milik gadis dihadapannya.
Dan, ia tahu apa artinya itu. Langkahnya tiba-tiba mundur dengan air mata berderai.
Ia mengedarkan pandangannya memindai wajah wajah frustasi sahabat nya. Frustasi lantaran dirinya yang terlalu bebal, dan tidak mau percaya dengan ucapan mereka.
Dan hasilnya adalah rasa kekecewaan yang kini ia rasakan.
"Kenapa, mbun? Kenapa kamu lakuin ini?" Dengan suara yang tersendat, pelangi mencoba bertanya. Entah apa alasan embun menjadi seorang pembunuh.
Suasana terasa mencekam, tak ada suara setelah pelangi menyuarakan pertanyaan nya dengan raut kecewa.
Di belakang sana, para sahabatnya, memilih diam dengan waspada.
Embun tersenyum sinis, "kak… kenapa gak peluk embun dulu? Embun kangen tau sama kakak…" tangannya ia rentangkan sekali lagi. Namun pelangi segera menggeleng. "Embun jawab… kenapa kamu lakuin ini, dek? Jawab pertanyaan kakak… kakak…" pelangi mulai terisak. Perkataannya terpotong oleh sesak yang mencekat tenggorokannya. Perlahan ia maju untuk menyentuh embun.
"…Ayo ngomong, dek. Kakak janji… kakak bakalan percaya sama ucapan kamu. Kakak… kakak tau… embun pasti terpaksa kan ngelakuin ini. Ada yang nyuruh kamu kan? Iya kan dek?" Pelangi mengguncang bahu adiknya yang saat ini hanya menampilkan wajah penuh kebencian.
KAMU SEDANG MEMBACA
sibling's
De TodoJANGAN LUPA VOTE YA GUYS!!!❤️ Ini kisah pelangi yang indah disandingkan dengan Embun yang penuh dengan kesederhanaan. •Dua gadis, dengan dua karakter yang berbeda. •Kisah yang di bumbui dengan tragedi, serta teror misteri pembunuhan berantai. •sebua...
