Terimakasih sudah mampir 🫰🏻
***
Langkah Ara tercekat. Ia mendengar suara suara aneh dari balik pintu. Tadinya ia akan membuka pintu itu tapi sekarang Ara ragu. Dia akhirnya memilih mundur lalu membuka pintu di seberang nya.
Sayangnya, perkiraan ara rupanya salah besar. Pintu yang ia pilih justru membawanya terjebak di dalam lorong pengap dengan aroma karat yang menyengat. Ara berusaha kembali tapi pintu telah terkunci rapat.
"Embun sialan…" geram nya dengan wajah memerah berpeluh.
Ara yakin, semua ini adalah taktik dari embun, sang pengendali permainan.
Tapi, lupakan saja. untuk sekarang Ara tidak ingin memikirkan itu karena ada hal yang lebih mendesak dan tampak nya sangat berbahaya.
Siung!
Ayunan bilah besi hampir menyambar kepalanya jika saja Ara tak sigap menghindar. Kilatan cahaya yang terpantul dari permukaan logam membawa sedikit penerangan yang memudahkan Ara melihat untuk jarak beberapa meter ke depan.
Dapat ia lihat besi tajam yang masih berayun-ayun di sisinya. Ara mendesah lega, untung nya ia tidak sampai tertebas oleh benda sialan itu.
"Gue harus cari yang lain! Gak ada gunanya mencar kayak gini." Ara melangkah menyusuri lorong pengap yang membawanya bertemu dengan teman-teman nya yang lain.
Ara mendekat. "Kalian kenapa?" Paniknya saat melihat wajah pias mereka. Kepalanya mengedar mencari dua temannya yang lain. "Helene sama pelangi, mana?"
Bella terlihat membuka mulutnya untuk menjawab tapi suara Larissa lebih dulu terdengar. "Kita belum liat mereka. Gak tau Helene sama Ela ada di pintu yang mana!" Larissa menyender lelah.
Salah satunya tiba tiba kembali berdiri.
"Ayo lanjut jalan. Tapi harus hati hati!" Sofia memindai mereka satu persatu. Wajahnya dingin, pucat dan penuh cemas.
Mereka mengangguk setuju. Terus berjalan adalah satu satunya cara agar mereka bisa menemukan jalan keluar yang sebenarnya.
Pintu demi pintu terus mereka buka lalu kembali menyusuri koridor pengap yang penuh dengan sarang laba-laba.
Aura mengerikan semakin kuat. Hening jelas bertahta di kegelapan lorong yang mereka lalui, namun karena tetap bersama, rasa takut nya tak begitu besar.
Hanya was-was yang tak kunjung pudar.
"Pintunya…" mereka terhenti mendapati daun pintu yang berserakan di lantai.
Para gadis itu memberanikan diri untuk masuk ke dalam.
Tak ada siapapun, tapi jejak langkah berlumpur tercetak tebal di lantainya. Mereka yakin itu adalah jejak sahabat mereka.
"Pelangi…"
"Helene…"
Mereka berusaha memanggil dengan suara pelan, barangkali keduanya masih disana, Bersembunyi di sudut ruangan.
Alih-alih mendapat balasan, yang terdengar justru suara gemericik air yang menetes dari langit langit. Mereka menengadah tapi tak mendapati apapun.
Bersamaan dengan itu suara merayap ikut terdengar.
"Suara apaan tuh?!" Aluna menatap cemas.
"Sttt! Ada orang di atas. Jangan berisik." Bella menarik bahu aluna ke belakang.
****
"Kak… ana takut!" Suara gadis kecil itu semakin parau—nyaris tak terdengar. Tubuhnya terdiam kaku, sulit untuk berpindah dari tempatnya.
Pelangi menatap gadis kecil itu seraya menghembuskan nafas panjang.
Ia bingung harus menggunakan kata apa agar gadis itu bisa lebih berani.
"Ana percaya kan sama kakak?" Ana mengangguk walaupun ia sedikit ragu. "Kalau percaya, pegang tangan kakak. Kita lewat terowongan yang ini." Pelangi menunjuk terowongan sebelah kiri yang ia rasa lebih aman. Tempat nya tak begitu gelap seperti terowongan diseberang nya.
KAMU SEDANG MEMBACA
sibling's
De TodoJANGAN LUPA VOTE YA GUYS!!!❤️ Ini kisah pelangi yang indah disandingkan dengan Embun yang penuh dengan kesederhanaan. •Dua gadis, dengan dua karakter yang berbeda. •Kisah yang di bumbui dengan tragedi, serta teror misteri pembunuhan berantai. •sebua...
