"Dia pembohong kak! Jangan percaya!" Gadis itu memekik dengan mata merah, terlihat jelas rasa sakit pekat di dalam sana. Tak ada kepura-puraan sama sekali. Ia mendekat, namun usaha nya tiba tiba terhenti saat melihat raut kebingungan di wajah mereka semua.
Matanya lalu menatap pelangi yang tertegun, dengan bibir pucat mengatup sempurna. Pelangi tidak tau harus percaya atau tidak? Hatinya sudah terlampau kecewa.
Namun, sorot penuh sendu yang diperlihatkan oleh gadis itu, membuat jantung nya berpacu kencang. Ada yang aneh, rasanya seperti ada sesuatu yang terbakar di dadanya. Setelahnya, hanya air mata yang kembali ia perlihatkan.
"Jangan nangis kak…" ucap gadis itu lagi. Meminta dengan pilu. Jemarinya yang pucat berusaha menggapai Pelangi. Namun getaran di sana terlalu sulit ia kendalikan. Gadis itu lagi lagi terisak.
"Ini… embun, kak. Dia bukan embun! Embun nya kakak, aku. Bukan dia!" Lebih dari terisak, suara tangisnya membuat sahabat pelangi ikut terbawa dalam kesedihannya.
"Kak Pelangi jangan percaya sama dia… dia penipu. Embun… embun gak pernah benci sama kakak… embun juga gak pernah menyalahkan kakak atas takdir embun, gak pernah kak… gak sekali pun! Embun sayang kakak… tolong percaya sama aku kak… aku embun, semesta embun pertiwi." Embun masih berusaha meyakinkan bahwa dirinyalah. Satu-satunya embun.
Pelangi masih membisu dengan tatapan sayu, seolah tidak mendengar apapun yang terlontar dari mulut si gadis. Namun, di detik berikutnya, Pelangi menegakkan tubuhnya dan dengan gerakan cepat ia menarik gadis itu ke dekapannya, sembari kembali terisak lebih kuat, tangannya yang bergetar memeluk erat tubuh sang adik. Meluapkan rasa sakit dan juga kerinduannya.
Ternyata, kepercayaannya tidak pernah dikhianati. Adiknya bukan seorang pembohong, dan juga pembunuh, seperti yang dituduhkan oleh para sahabatnya yang berhasil di kecoh oleh gadis jahat itu.
"Ternyata kita salah… kita udah nge-fitnah embun dengan tuduhan keji." Aluna melirih dengan wajah penuh sesal.
"Yah… dan ternyata… kepercayaan pelangi yang menang."
Mereka memandang dengan raut wajah beragam, tanpa suara, memilih diam diam menyaksikan interaksi keduanya yang emosional.
Embun terisak di dekapan pelangi, sementara gadis yang wajahnya persis dengan embun, hanya menampilkan wajah dingin namun ia masih tidak beranjak dari tempatnya berdiri, juga tidak bereaksi apapun.
"Kakak jangan nangis… embun… embun minta maaf, kak. Maafin embun…" embun melerai pelukan nya, menghapus air mata sang kakak, meskipun netra nya sendiri tak mau berhenti menangis. Seulas senyum muncul di bibir pucat Pelangi, ia menatap embun yang terlihat kurus. Tidak ada pipi bulat yang biasa ia lihat. Namun, tetap saja ia merasa sedikit lega karena akhirnya ia bisa melihat adik semata wayangnya lagi, walaupun di situasi yang jauh dari kata layak. Entah mereka akan hidup atau tidak, setelah hari ini.
"Jangan minta maaf, dek… kamu gak salah apa-apa. Kakak yang salah… hampir aja kakak ketipu sama dia… tapi sekarang, kakak udah tau. Jadi embun juga gak boleh nangis!" Embun mengangguk cepat.
Pelangi kembali memeluk embun hingga sebuah pemandangan nanar membuat hatinya seolah diremas.
Perlahan, tangannya yang bergetar terulur—menyentuh punggung embun yang tak tertutup sempurna. Pakaian nya robek dan penuh dengan darah yang berasal dari kulit putih embun yang terkelupas.
Mata pelangi memanas, membayangkan bagaimana penderitaan sang adik yang di siksa oleh gadis bejat itu.
"Embun… Kamu pasti kesakitan kan, dek? Maaf…"
Embun dengan tatapan teduhnya, menyorot tepat di netra kelam sang kakak.
"Bukan salah Kakak…" ujarnya menghibur, "jadi jangan minta maaf lagi kak! Embun gak suka dengarnya…"
KAMU SEDANG MEMBACA
sibling's
RandomJANGAN LUPA VOTE YA GUYS!!!❤️ Ini kisah pelangi yang indah disandingkan dengan Embun yang penuh dengan kesederhanaan. •Dua gadis, dengan dua karakter yang berbeda. •Kisah yang di bumbui dengan tragedi, serta teror misteri pembunuhan berantai. •sebua...
