Setelah perjuangan keras memecahkan teka-teki terakhir, akhirnya pelangi dan Jemima berhasil keluar dari laboratorium Scarlett. Namun, dua gadis itu tiba-tiba terhenti di koridor bercabang. Entah mana jalan yang benar.
"Sekarang kita kemana?" Tanya pelangi kepada Jemima. Ia melirik ke sekelilingnya dengan waspada. Takut jika seseorang tiba-tiba muncul.
Jemima terlihat sibuk mencari sesuatu dari tas kecilnya. "Saya punya sesuatu. Tunggu sebentar."
Setelah beberapa saat, Jemima lalu memberikan selembar kertas yang berisi coretan tangannya. Sebuah denah lokasi. Mirip seperti peta.
"Kamu bilang, masih harus menemukan teman-teman mu kan? Kalau begitu, bawa ini bersamamu." Katanya sembari menyerahkan kertas lusuh itu ke tangan pelangi yang masih tak mengerti.
Sampai kemudian, Jemima kembali bersuara.
"Itu semacam peta tempat ini. Saya membuat nya sesuai dengan yang ada di ingatan saya saat Scarlett membawa saya masuk ke tempat ini. Jangan khawatir. Saya jamin peta itu akurat, dan jalan keluar itu benar-benar ada di sana. Seperti yang sudah saya gambar! Saya tidak berbohong!" Jemima berbicara panjang lebar, menjelaskan, agar nantinya pelangi tak sampai mencurigai dirinya.
"Oke, terimakasih." Ucap pelangi sembari melipat kembali kertas tersebut lalu memasukkan nya ke dalam saku.
"Ambil ini juga!" Ujar Jemima lagi sambil mengulurkan sebuah pistol mini ke genggaman pelangi untuk jaga-jaga.
Pelangi mengangguk samar sembari meraih benda itu.
"Ya sudah, saya akan tunggu kalian di pintu keluar. Oke?" Jemima menepuk bahu pelangi. "Jangan sampai tertangkap." Lanjut nya dengan senyum hangat.
Pelangi menggeleng. "Enggak, mbak gak usah nungguin gue. Mending mbak kabur dan kalau bisa, cepat lapor polisi. Scarlett dan orang orang nya harus dapat hukuman setimpal!"
"Ya, kamu benar juga. Tapi sebelum polisi datang, Kamu harus bertahan."
Pelangi Hanya mengangguk dengan sorot mata tajam. Jemima lalu berjalan pergi menuju lorong berlawanan dengan yang akan Pelangi tuju.
Setelah Jemima menghilang di balik lorong, pelangi pun bergegas memacu langkah dengan setengah berlari. Namun, tetap saja. ia tidak bisa berpindah secepat yang ia mau.
Tenaganya seolah habis, tulang tulang serasa remuk—ngilu dan gemetar.
Namun, pelangi punya tujuan. Adiknya. Sahabat sahabat nya. Mereka masih berada di dalam arena permainan maut Scarlett.
"Embun pasti sedih pas dia lihat gue Jatuh," pelangi bergumam disela langkah. Sesekali ia meringis ngilu. Satu matanya telah tertutup rapat, tidak bisa ia buka. Namun, cairan hangat masih terus menetes dari sana. Rasa sakitnya pun kian terasa. Perih dan menusuk. Bahkan beberapa kali fungsi salah satu netranya ikut terganggu, pandangannya berbayang yang mengharuskan ia beristirahat untuk sejenak.
"Gue gak boleh nyerah…" di tengah upaya menahan sakit, ia kembali melirih—memotivasi dirinya untuk bertahan.
Dengan sisa tenaga ia kembali berdiri kemudian melanjutkan perjalanan nya.
****
-
-
-
"Kak pelangi mana, kak?"
"Kak Pelangi gak apa-apa kan kak?"
"Kok dia belum nyusul kita kak?"
Embun baru saja sadar namun gadis itu terlihat masih setengah linglung. Tak henti ia memutar tubuhnya mencari keberadaan sang kakak.
"Kak pelangi udah ngalahin Scarlett, kan? Sekarang kakak aku mana?"
Ara dan Aluna saling pandang. Mereka bingung harus mengatakan apa, namun belum sempat mereka menjelaskan. Embun tiba-tiba histeris. Memukuli kepalanya sendiri. Detik selanjutnya ia menangis—sesegukan.
KAMU SEDANG MEMBACA
sibling's
De TodoJANGAN LUPA VOTE YA GUYS!!!❤️ Ini kisah pelangi yang indah disandingkan dengan Embun yang penuh dengan kesederhanaan. •Dua gadis, dengan dua karakter yang berbeda. •Kisah yang di bumbui dengan tragedi, serta teror misteri pembunuhan berantai. •sebua...
