Happy reading
***
"Gila!" Umpat kesal Larissa sembari mendudukkan dirinya dengan kasar. Tindakan nya sontak membuat alis sahabat nya mengerut.
"Dateng dateng Lo bukannya say hai, malah ngumpat! Napa sih Lo?!" Sewot Ara yang duduk sebangku dengan Larissa.
"Siapa yang gila?" Alis Aluna terangkat sambil menatap Larissa dari dekat dengan raut penasaran.
Larissa mendengus, "siapa lagi kalau bukan si kepsek!" Kesalnya membayangkan pria tua berkumis tebal yang menjabat sebagai kepala sekolah di BIHS ini.
"Heh! Mulut Lo ya Rissa! Sampai ketauan Lo ngatain dia gila. Mampus lo!" Timpal Aluna mengingatkan. Memang, Larissa ini harus sering sering di kasih peringatan biar tidak asal ceplos. Bisa repot jika sampai kepala sekolah itu tahu ada murid yang mengatainya gila.
"Biarin aja. Emang ga beres kan tuh orang! Gini ya gini ... Bihs kan lagi ada masalah sebesar ini tapi bisa-bisanya kepsek itu masih aja mikirin acara ulang tahun sekolah! Pikir deh, etis gak sih? Terus anak anak yang hilang kan juga belum ada yang ketemu. Malah mau pesta!"
Setelah mendengar ungkapan alasan kekesalan Larissa, semua sahabat nya langsung paham. Benar juga yang dipikirkan oleh gadis itu. Secara etika sepertinya keputusan kepala sekolah itu tidak benar mengingat banyaknya kasus duka yang menimpa bihs beberapa pekan terakhir.
"Pemikiran lo emang ada benarnya sa. Tapi, mungkin alasan sekolah tetap mau ngadain pesta itu buat ngilangin rasa takut anak anak yang beberapa waktu ini sering banget ngeliat kejadian-kejadian mengerikan di sekolah kita. Menurut gue sih gitu." Sofia ikut bersuara setelah ia sempat menunduk sejenak memikirkan semua masalah yang terjadi.
"Mungkin niat mereka baik ...."
"Ok, tapi perasaan gue gak enak banget mikirin acara itu. Gak tau kenapa, gue ngerasa sesuatu yang gak baik bakal terjadi di perayaan itu. Tapi, amit amit deh yaa. Semoga semua nya lancar dan aman." Dari raut wajah Larissa jelas terlihat ia memang sedang tidak bercanda dengan perasaan cemas yang menggelayut.
"Aamiin ...." Kompak yang lain dengan harapan yang sama dengan Larissa. Jujur, jika pelangi ditanya perihal apa yang ada di pikirannya. Gadis itu juga akan menyuarakan rasa janggal yang akhir akhir ini ia rasakan. Pelangi semakin was was terlebih setelah kejadian menggemparkan kembali menimpa bihs. Lagi lagi pelataran sekolah mereka menjadi tempat dimana garis polisi terpasang.
Tadi pagi ...
Satu jasad ditemukan tergeletak di sana beserta dengan kepala yang sudah tak menyatu lagi dengan tubuhnya bahkan lengan kanan si gadis juga sudah terlepas dari tempatnya. Entah kapan jasad itu di masukkan ke area sekolah mengingat pintu gerbang masih dalam keadaan tertutup rapat.
Namun itu rupanya hanya syok permulaan karena beberapa jam kemudian lagi lagi bihs harus kembali mendapat kiriman teror berupa dua jasad yang dibawa oleh seorang laki laki yang mengaku sebagai pengantar paket. Setelah dikeluarkan rupanya itu juga jasad perempuan dengan kondisi tewas yang serupa. Semua nya di mutilasi.
Sayangnya sebelum berhasil menanyai pengemudi mobil paket tersebut, dia sudah lebih dulu melarikan diri dari area sekolah.
Bersamaan dengan itu lagi lagi para pemburu berita berdatangan saling berebut untuk meliput kejadian mengerikan yang sudah menjadi langganan bihs akhir akhir ini.
"Pelangi!" Suara itu membuyarkan ia dari lamunan. Gadis itu menengadah. "Iya?"
"Lo ingat mereka kan? Tiga korban yang mati pagi tadi?" Ara mengambil posisi di sisi pelangi dengan raut serius.
Pelangi mengangguk. "Gue ingat. Itu mereka. Tiga siswa yang fotonya ada di buku tahunan itu!" Jelas pelangi.
KAMU SEDANG MEMBACA
sibling's
RandomJANGAN LUPA VOTE YA GUYS!!!❤️ Ini kisah pelangi yang indah disandingkan dengan Embun yang penuh dengan kesederhanaan. •Dua gadis, dengan dua karakter yang berbeda. •Kisah yang di bumbui dengan tragedi, serta teror misteri pembunuhan berantai. •sebua...
