Bab 51 : berlomba

46 7 0
                                        

****

Dor

Dor

Tak puas dengan satu tembakan, gadis itu masih melesatkan beberapa peluru secara acak di tubuh tak bernyawa korban nya.
Dengan cekikikan senangnya ia kemudian memundurkan tubuhnya saat pelangi menerjang.

"GUYS!! TANGKAP DIA!!" pekik pelangi berlari mengejar gadis itu.

Aksi kejar-kejaran pun terlihat dari kejauhan. Semua melihat itu dari layar besar yang terpasang. Semua sudah di atur sedemikian rupa oleh si gadis agar aksinya kali ini menjadi sebuah tontonan bagi tamu-tamu bihs. Sama seperti yang sudah ia janjikan, sebuah persembahan istimewa.

Rekaman itu berasal dari kamera yang diterbangkan menggunakan drone, lalu dikendalikan dari jarak jauh oleh anak buah si gadis.

Di ujung koridor, tepat di belokan ke arah tangga menuju rooftop. Pelangi berhasil menggapai bahu gadis itu.

Srett

Bugh

"Aaghh!!" Pelangi mengerang karena saat gadis itu berbalik ia justru mendapat satu pukulan telak di perutnya yang membuat rasa ngilu menjalar.

"B-berhenti!!" Dengan gemetar pelangi mencoba menegakkan tubuhnya.

"Lo gak boleh pergi!!" Geram nya dengan tangan terkepal lalu dengan kecepatan tinggi menghantam ke arah si gadis.
Sayangnya, tinju itu hanya mengenai udara saja dan pelangi kembali terhuyung.

"Sial!"

Kedua tangan Pelangi bertumpu di tembok. Gadis itu lagi lagi menggeram kesal. kesal lantaran ketahanan tubuhnya sama sekali tak mampu menyamai gadis itu lebih lebih dengan kegesitannya saat bertarung.

Bughh

"Aaghh!!" Kali ini pelangi jatuh kelantai meremas perutnya yang melilit nyeri.

"Sudah aku bilang! Jangan mengganggu rencana ku! Kau dan teman teman mu sudah gagal dan sekarang giliranku bermain sepuasnya. Menyingkirlah!!"

Bughh

Sebelum berlalu satu tendangan kembali ia  layangkan ke perut pelangi yang masih terbaring menetralkan rasa sakit nya. Gadis itu benar benar kepayahan sekarang.

Selama beberapa saat ia hanya terbaring sampai kemudian sahabat nya sampai lalu membantunya berdiri.

"Lo nggak kenapa napa kan? Apa yang sakit?" Luna bertanya dengan cemas.

Pelangi merintih kecil. "E-- enggak apa-apa! Gue masih kuat. Ayo, kita kejar dia! masih ada anak lain yang harus kita selamatin!"

"Ayo!"

Mereka kembali berlari mencari keberadaan gadis itu.
Tak lama kemudian, ke tiga gadis itu menghentikan langkahnya di depan sebuah ruangan yang tertutup rapat.

Mereka saling pandang sampai kemudian suara desing membuat mereka terkejut.

Brakk

Selang beberapa detik setelah pintu terbuka dari dalam, gadis bertopeng itu melangkah keluar dengan sebuah katana di genggaman nya. Katana itu penuh dengan darah dan lendir yang terlihat sangat menjijikkan, terlebih lagi aromanya luar biasa anyir membuat penciuman pelangi dan sahabatnya tidak nyaman. Para gadis itu serempak memundurkan tubuhnya dengan ragu.

Sosok bertopeng itu berdiri di ambang pintu. Ia memiringkan kepalanya—seraya tersenyum dari balik topeng.

"Kalian mencari ... Ini?!!" Satu tangan yang sejak tadi berada di belakang ia angkat kedepan menyodorkan kepala gadis kedua yang ia bunuh dalam waktu singkat.

sibling's Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang