┏━━━━°❀•°✮°•❀°━━━┓
—(♡♡𝓗𝓪𝓹𝓹𝔂 𝓡𝓮𝓪𝓭𝓲𝓷𝓰♡♡—
┗━━━━°❀•°✮°•❀°━━━┛
-
-
-
_____________
Kak pelangi ...
To ... Long ...
Pelangi merunduk meraih benda kecil itu. Tenyata suara yang mereka dengar dari tadi hanya sebuah rekaman suara embun.
"INI JEBAKAN!"
Suara pekikan Luna dan Larissa membuat resah di wajah pelangi kembali muncul.
Gadis itu menggeleng cepat memberi isyarat agar tak ada yang bersuara terlalu keras.
"Jangan berisik! Kita dalam bahaya!" Bisik pelangi menarik Luna ke belakang nya.
Sedangkan Larissa, ia berdiri di sisi Ara yang juga mulai panik.
Entah kenapa suasana justru semakin mendukung. Udara terasa teramat dingin di saat Sepoi angin dari jendela jendela yang terbuka mulai berlomba masuk memenuhi ruangan.
Pelangi meneguk ludah nya dengan susah payah, sembari matanya mengedar penuh waspada.
Perlahan, ia melangkah—mencoba memeriksa sekitar.
Secepat angin, tiba-tiba dari arah depan melesat sebuah benda kecil yang berkilau, menyasar tepat ke wajah gadis itu.
"Pelangi!!" Mata Aluna membola. Ia melihat dengan jelas benda itu tak lain adalah sebuah belati tajam. Hampir menancap di wajah pelangi, tapi, untungnya gadis itu sigap menghindar hingga benda tajam itu tak jadi melukai mangsanya.
"Lo gak apa-apa kan la?" Ara cemas, ia meneliti tubuh sahabatnya.
Pelangi menggeleng sebagai jawaban, Ara pun mengangguk lega. Keempat gadis itu kembali fokus ke arah yang mampu mereka awasi.
Wuussh
Suara benda yang melesat kembali terdengar, kali ini tidak hanya satu melainkan ada banyak dan ... Entah berapa jumlahnya tapi yang jelas benda benda itu sangat berbahaya dan apapun yang terjadi mereka harus selamat.
"LUNA!!!" Pelangi sigap memutar tubuhnya lalu dengan satu tendangan belati yang tadinya hampir melukai Luna terjatuh ke tanah.
Tubuh Luna sedikit gemetar, ini kali pertama dia merasa di ambang kematian, benar benar menyeramkan, bahkan keahlian nya dalam karate saja tiba tiba tidak bisa ia pergunakan.
Memang benar, rasa takut hanya akan membawa celaka.
"Fokus lun!" Aluna mengerjap beberapa kali sebelum mengangguk patuh.
Matanya kini kembali awas.
Beberapa kali belati terus datang dari arah yang tak terbaca, beruntungnya para gadis itu bisa menghindar dengan mengandalkan kemampuan bela diri mereka, juga berkat insting jeli dari mata pelangi.
Setelah beberapa saat berjibaku dengan belati kecil yang menyerang mereka, suasana kembali hening bahkan angin juga tidak berhembus lagi.
Sesaat kemudian ...
Tap tap tap
Suara langkah terdengar samar-samar—menggema liar di susul siulan yang mengalun merdu layaknya suara seruling.
Suara itu semakin mendekat bersama dengan irama yang entah kenapa berubah jadi lebih mengerikan.
Jika tadi siulan itu mendayu lembut lagi menenangkan, sekarang ... Suara itu lebih serupa instrumen horor yang kerap kali menjadi pelengkap dalam sebuah film.
Setiap irama yang terdengar memantul berulang kali, membuat bulu kuduk berdiri hanya dengan mendengarkan suaranya. Suara yang merdu dan mengerikan di saat yang bersamaan.
Sireen voice!
Serupa itu tapi ini terdengar jauh lebih mencekam. Bibir Ara memucat dengan lidah Kelu. sementara Aluna, terdiam kaku dengan tubuh gemetar, sesekali ia melirik wajah para sahabatnya tapi bukan nya merasa tenang, kepanikannya Kian bertambah mendapati mereka juga sama takutnya.
Larissa tak jauh berbeda dengan Luna, gadis itu kini bermandikan keringat dengan kedua lutut yang terasa lemas sejadi jadinya.
Aneh. Mereka tidak merasa setakut ini saat menghadapi belati, tapi kenapa hanya dengan mendengar siulan tubuh mereka seolah olah akan terpisah dari jiwanya?
KAMU SEDANG MEMBACA
sibling's
AcakJANGAN LUPA VOTE YA GUYS!!!❤️ Ini kisah pelangi yang indah disandingkan dengan Embun yang penuh dengan kesederhanaan. •Dua gadis, dengan dua karakter yang berbeda. •Kisah yang di bumbui dengan tragedi, serta teror misteri pembunuhan berantai. •sebua...
