"merundung seseorang memang tidak serta merta membuat mereka tiada tapi membuat jiwa mereka terkikis lalu perlahan habis tak bersisa. Raga tak berjiwa seperti patung yang berdiri kokoh tapi tak bernyawa."
"Jika jiwanya tiada. Nurani pun akan ikut mati."
***
"Maksud Lo apa sih Ra?! Kenapa Lo malah bikin semua nya jadi runyam?! Liat gak tadi? Pelangi sampai drop gara gara omong kosong lo!!" Geram Larissa setelah cengkramannya ia lepas.
Ara menatap sinis. "Omongan gue bukan omong kosong!! ITU FAKTA!! kenapa sih kalian gak percaya, hah?! please percaya! Gue gak mungkin main main sama masalah beginian!!" Dengan berteriak ia membantah tuduhan bahwa ia tengah berbohong. Kali ini Ara memang tidak berbohong dia juga tidak dalam fase dimana penyakitnya kambuh. Semua murni kebenaran walaupun rasanya sangat tidak masuk akal.
Tapi kenyataannya ...
Yang Ara lihat gadis itu tak lain adalah embun.
Semua mendengus dingin dengan pernyataan Ara yang lagi lagi tidak ingin mereka percaya.
"Kita sahabatan dari kecil! Masa iya gak ada satupun dari kalian yang percaya sama gue? Ayolah guys! Gue gak bohong dan maksud gue ngungkapin ini semua juga demi kebaikan kalian. Gue cuma gak mau nyawa kalian dalam bahaya kalau misalnya dia muncul dan kalian masih aja percaya sama dia. Sekali aja percaya sama ucapan gue..." Bahkan setelah berbicara panjang lebar keempat gadis itu malah pergi begitu saja. Tidak ada yang mau percaya dengan perkataannya. Ara mendesah berat sembari menunduk dengan bibir sedikit gemetar.
"Gue harap gak ada hal mengerikan lagi yang terjadi setelah ini ... Apalagi sama sahabat sahabat gue!" Gumamnya sembari berjalan lemah menuju kamar asrama.
Tak lama setelah Ara menutup pintu terlihat seseorang yang berjalan dan menghentikan langkahnya tepat di depan pintu kamar Ara. Gadis itu menyeringai sembari ia letakkan sebuah kotak di depan pintu. Setelah nya ia berlalu dengan sedikit siulan mengiringi tiap langkah kakinya yang sesekali terpatah.
"Aku berhasil merusak kepercayaan mereka. Sekarang kehancuran ikatan persahabatan itu sudah didepan mata. Yang terasing akan lebih dulu tiada," katanya setengah berbisik. Ia tersenyum tipis lalu sesaat kemudian tubuhnya menghilang di kegelapan lorong yang ia tuju.
***
Sore harinya menjelang malam, pelangi terbangun karena mimpi buruk yang tiba-tiba hadir mengganggu tidur nyenyak nya yang padahal baru beberapa saat ia nikmati.
Bersamaan ia terjaga terdengar pula suara pesan masuk ke ponselnya. Pelangi segera membukanya lantaran ia pikir itu pesan dari sang bunda namun nyatanya itu pesan dari si gadis bertopeng.
Pelangi menarik nafas panjang sebelum memantapkan hati untuk melihat isi pesan yang menurut tebakannya pastilah sebuah teror.
Saat dibuka, seketika itu juga pelangi menautkan alisnya.
Mari menghitung mundur untuk memulai permainan! Kau diundang untuk menjadi pemain utama dalam permainan.
Hide and seek!
27 jam dari sekarang, aku akan membawa 27 temanmu ke hadapan semua penghuni BIHS.
27 menit kemudian, kuberi kau kesempatan untuk menyelamatkan siapapun yang bisa kau temukan dan ... Jika gagal permainan ini akan menjadi permainan berdarah yang akan disaksikan langsung sebagai pertunjukan spektakuler khusus untuk sekolah ku tercinta.
Seketika itu juga rasa ngantuk pelangi tiba-tiba lenyap. Ia segera memeriksa jam untuk menghitung.
"27 jam dari sekarang itu berarti ... Malam perayaan ulang tahun sekolah!!" Serunya dengan wajah pucat. Gadis itu segera bangun lalu menuju kamar mandi untuk mencuci wajahnya sebelum ia mencari keberadaan Bella.
Oh iya, tadi saat pulang sekolah. Bella kembali ke kamarnya sendiri yang letaknya di lantai berbeda dari yang pelangi tempati dan kebetulan lantainya sama dengan Sofia dan Larissa. Bahkan kamar mereka berdekatan.
KAMU SEDANG MEMBACA
sibling's
De TodoJANGAN LUPA VOTE YA GUYS!!!❤️ Ini kisah pelangi yang indah disandingkan dengan Embun yang penuh dengan kesederhanaan. •Dua gadis, dengan dua karakter yang berbeda. •Kisah yang di bumbui dengan tragedi, serta teror misteri pembunuhan berantai. •sebua...
