Bab 59 : kembali bertemu

47 5 6
                                        

Bella mengerjap lemah, perlahan ia mengangkat wajahnya, menatap embun yang berdiri menjulang di hadapannya.
"Tinggalin gue… disini." Ujarnya lemah, suaranya pudar dan parau. Namun, masih terdengar oleh para sahabatnya.

"Enggak! Lo jangan ngaco Bella! Kita enggak akan biarin lo disini!" Aluna mengguncang bahu Bella agar gadis itu kembali berpikir jernih.

"Keputusan terakhir ada di tangan aku. Lagipula, kak Bella sendiri yang mutusin mau tinggal di sini, kan? Jadi… ya, biarin aja." Embun bersuara dengan tatapan dinginnya menyoroti Aluna yang tiba-tiba terdiam kaku dengan peluh bercucuran.

"menyingkir, kak! Atau…" Nada suara embun penuh intimidasi, sebilah pisau tiba tiba muncul di tangannya, membuat Aluna terdiam.

"Atau apa…?" Giliran Ara yang maju di hadapan embun. Dari matanya terlihat kemarahan membara.

Embun tersenyum sinis, melangkah mendekati Ara yang berdiri dengan sorot mata tajam dan waspada.
"Hm… kak Ara ingat gak, terakhir kali kita ketemu? Masih ingat kan? Kalau enggak, mari embun bantu!" Embun menoleh dengan cepat, tatapan dan gerak tangannya sama, dan tak butuh waktu lama, suara menghantam terdengar renyah, seperti suara sesuatu yang remuk.

Brak!

"ARA!" Aluna menjerit keras melihat darah segar, bercucuran dari pelipis Ara.
Gadis itu melenguh, menahan rasa sakit di tengkoraknya yang di hantam keras.
Ara tidak ingin tumbang, Ara ingin tetap berdiri dengan kedua kakinya, terlebih di hadapan embun, gadis yang saat ini paling ia benci. Namun, rasa sakit itu rupanya mampu menggetarkan seluruh persendiannya, Ara hampir limbung kebelakang.

Dalam keadaan kepalanya yang sakit luar biasa, Ara beberapa kali berkedip lambat. Semua yang ia lihat terpecah, berbayang dengan di dominasi warna hitam berpendar marak.

"Ara…" suara samar itu masih terdengar oleh nya, namun setelah itu ia sudah tak lagi mampu mengendalikan dirinya. Ara jatuh tak sadarkan diri di lantai labirin cermin.

Perlahan wajah dingin embun terangkat, tatapan nya terhunus tajam dengan senyum miring yang tercetak di bibir nya. Senyuman yang membawa rasa takut merayapi para gadis malang itu. Semua ingin mundur namun kaki mereka mengkhianati.

"Selesai!" Kata embun sembari berjalan mundur dari tempat Ara dan gadis lainnya yang terpaku, membeku dengan tatapan takut.

"Kesepakatan di batalkan! Kalian sudah membuat aku kesal, jadi, semua dari kalian harus pergi bersama ku!"

Tak lama setelah embun mengatakan itu, semua gadis yang tadinya masih berdiri dengan kesadaran penuh, tiba-tiba ambruk secara bersamaan, tepat ketika sebuah benda kecil di genggaman embun, ia tekan.

"Hanya tersisa satu… kakakku tersayang!"

oOo

Di lain tempat, pelangi dan ana memutuskan beristirahat sejenak namun, suara derap langkah seseorang membuat mereka segera bangun.

"Kak… itu siapa lagi?" Ana bersembunyi di pelukan pelangi dengan wajah mungil nya menyembul, memperhatikan sekitarnya dengan raut ketakutan.

Pelangi menggeleng sembari tangannya membekap mulut ana agar gadis itu tidak membuat suara yang akan membuat mereka ketahuan.

"Ana… diam dulu, ya." Pinta pelangi dengan berbisik. "Kayaknya ada yang datang… kita harus pergi dari sini, sekarang." Lanjut nya dengan mata melebar.

Suara seretan terdengar dari lorong lorong gelap di hadapannya, lambat Laun semakin mendekat.

Tanpa pikir panjang pelangi segera menarik tangan ana, membawanya berlari sekuat tenaga. Sementara itu, suara di belakang mereka berubah menjadi suara langkah kaki cepat bahkan sepertinya sudah hampir menjangkau ana yang berada di belakangnya.
Pelangi menoleh, sekilas ia melihat sosok yang mengejar adalah sosok yang sama menyeramkan nya dengan yang ia bunuh di salah satu lorong. Wajah lelaki itu melepuh dengan sisa sisa nanah merembes dari luka bakarnya.

sibling's Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang