Bab 63 : melarikan diri

65 8 3
                                        

SCARLETT!" teriak pelangi dengan amarahnya. Gigi nya bergemertak menahan emosi yang hampir meledak.

Scarlett tersenyum dengan wajah mengejek, lalu tangannya kembali menekan satu tombol yang sontak membuat embun semakin meringis kesakitan.

"Kaki adik kesayangan lo tinggal sisa satu, kan? Lo tega dia kehilangan kakinya lagi?" Scarlett tertawa mengejek.

Pelangi meneguk ludah nya dengan susah payah. Tiba-tiba ia teringat kejadian masa kecil mereka. Masa tersuram di kehidupan keduanya. Pelangi menggeleng cepat.
"Enggak… gue gak mau itu kejadian lagi. Enggak boleh…" gumamnya sambil terus berpikir.

"La, remote nya ada di tangan Scarlett. Kita harus rebut," Ara berbisik di telinga pelangi.
Gadis itu langsung mengangguk samar sembari matanya melirik ke arah remote kecil di genggaman Scarlett.
Detik selanjutnya pelangi dan Ara mulai berdiri dari tempatnya, berjalan mendekati Scarlett.

"Apa mau Lo?" Tanya pelangi, berusaha setenang mungkin agar tak memancing kemarahan Scarlett lebih jauh.
Scarlett berdehem kecil, jemarinya masih mengapit benda kecil itu di sana, tidak membiarkan siapapun untuk meraih nya.

Pelangi bermonolog sembari ia berpikir keras. Apapun caranya ia harus mengambil benda itu lalu membebaskan adiknya.
Berbekal sedikit keterampilan yang dirasa mumpuni, pelangi melepas sepatunya tanpa di sadari oleh siapapun. Hanya dia yang tau apa yang sedang direncanakan oleh akalnya.

Dengan gerakan cepat, dan lihai, pelangi melempar sepatunya hingga mengenai lengan Scarlett yang kontan membuat benda di genggaman nya terlepas lalu jatuh ke lantai. Kesempatan itu tak disia-siakan oleh pelangi, dengan isyarat matanya, Ara langsung paham dan segera melompat, meraih benda yang tergeletak di lantai berdebu.

Ara tersenyum, walau sedikit terbatuk-batuk serta merasa ngilu di bagian lutut nya karena tergores retakan lantai, gadis itu dengan riang mengangkat tangannya tinggi-tinggi, memperlihatkan benda kecil tersebut.

"Pelangi!" Pekik Ara merasa senang.
Raut pelangi pun tak kalah antusias, menerima lemparan benda itu dari tangan Ara. Tanpa membuang waktu, pelangi segera menekan tombol yang membuat benda di paha embun, melonggar sepenuhnya.

Scarlett tergamang sesaat, namun setelahnya ia berdecak kecil, lumayan kagum dengan tindakan pelangi yang cukup heroik, demi menyelamatkan adik tercintanya. Hal yang membuat emosi Scarlett kembali meradang, ia benci dengan hubungan manis antara kakak beradik, sebab ia tidak pernah merasakan itu, juga ia benci segala hal menyangkut ikatan darah dan kasih sayang.
Itu sebabnya, tatapan nya semakin intens, semakin mendidih pula kemarahan dan kecemburuan di dadanya.

'gue paling benci dengan pemandangan ini… dan semua yang Scarlett benci, harus musnah.' batinnya dengan senyum tipis bersama sorot mata yang jauh lebih menyeramkan dari sebelumnya.
Memindai satu persatu wajah di hadapannya, ia tiba-tiba tertumbuk pada satu wajah yang sejak tadi diam tak bergeming. Sofia. Saudarinya, kakak kembar yang sayang nya sangat amat ia benci. Diam diam ia mengutuki saudarinya lagi dan lagi.

"Embun, maafin kakak." Pelangi memeluk erat-erat adiknya yang masih mempertahankan senyum di wajahnya yang pucat, bibir nya tak lagi merona melainkan hanya sewarna dengan kulit wajahnya yang bak mayat hidup.
Urat urat di pelipis embun masih kentara, sisa dari upaya nya menahan rasa sakit.

Pelangi rasanya enggan melepaskan pelukannya, namun situasi seperti ini bukan saat yang tepat untuk melepas rindu, kan?
Embun melenguh pelan, sembari ia mencoba menggerakkan tubuhnya, berupaya bangun dengan bantuan pelangi.

"Biar Kakak gendong ya, ayo naik ke punggung kakak." Pinta pelangi yang melihat bahwa adiknya bahkan tidak mampu menopang tubuhnya tanpa tongkat, lebih lebih lagi, ia baru saja terluka parah. Embun mengangguk patuh, lalu segera naik.
Baru saja pelangi menegakkan tubuhnya, Scarlett tiba tiba bersuara.

sibling's Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang