Bab 54 : labirin pintu

50 7 0
                                        

****

Sayup sayup terdengar suara nyanyian di dalam ruangan—lambat laun semakin keras hingga remaja didalam sana harus menutup kedua telinganya.

Tap

Tap

Perlahan tapi pasti, saat nyanyian memudar, terdengar pula suara langkah kaki yang sepertinya berasal dari luar ruangan.
Semakin dekat dan dapat mereka rasakan lantai yang dipijak mulai bergetar seperti akan terbelah.
Benar saja, tak lama lantai itu sungguh terbelah hingga gadis gadis itu jatuh ke tempat berbeda. Jika tadi adalah ruangan tak berpintu, maka kini mereka agaknya tersesat di labirin tua dimana terdapat begitu banyak pintu yang aneh.

Mereka tak ada yang berani bersuara. Satu satunya hal yang bisa mereka lakukan saat ini hanyalah saling berpegangan tangan dengan erat, berharap tidak ada yang sampai terpisah satu sama lain.
Karena jika terpisah maka sudah pasti akan semakin sulit bagi mereka untuk bebas dari tempat ini.

Raut kebingungan bercampur dengan rasa takut kini telah mendominasi wajah mereka. Dari yang tadinya ada setitik keberanian kini semuanya tiba-tiba sirna hanya dengan melihat labirin di hadapannya. Terutama pelangi. Gadis itu tiba-tiba teringat dengan mimpinya yang tersesat di labirin cermin. Menghela nafas sejenak, para gadis malang itu berusaha menetralkan rasa takut yang bersarang di kepala mereka.

Namun, baru beberapa langkah mereka maju, tiba-tiba tubuh mereka terdorong mundur dan menabrak dinding saat sosok bertopeng muncul dari salah satu pintu. Seringai bengis itu seolah menebarkan aura mengerikan. Hanya separuh wajahnya yang tertutup oleh topeng perak berkilau, sementara senyum dingin di bibir pucatnya terlihat jelas.

"Hai. Selamat datang!" Sapanya dengan satu tangan melambai. Nada datar tanpa emosi.

Semua mundur dengan waspada.
Raut wajah yang membuat si gadis bertopeng itu tertawa mengejek.

"Jangan terlalu tegang. Ini permainan yang sangat mudah! Dan karena aku baik ... aku akan memberikan petunjuk kepada kalian. Jadi Dengarkan baik-baik!"

Gadis itu berjalan mendekati pelangi yang berdiri paling depan. Pelangi merentangkan tangan nya dengan waspada untuk melindungi sahabat sahabat nya.

"Namanya adalah hide and seek! Aturannya sangat sederhana. Kalian hanya perlu bersembunyi dari ku ... Lalu aku akan memburu kalian. Bagaimana? Menyenangkan sekali bukan?" Gadis itu menjelaskan panjang lebar tentang aturan permainan.

Hide and seek. Begitulah permainan itu ia beri nama. Seperti petak umpet pada umumnya, mereka—para pemain hanya perlu bersembunyi dari satu orang yang disebut sebagai pemburu.
Terdengar mudah karena petak umpet adalah permainan lawas masa kecil setiap orang. Namun rupanya tidak sesederhana itu karena hide and seek yang dipersiapkan oleh gadis bertopeng itu bukan permainan biasa melainkan permainan maut. Nyawa adalah taruhannya. Jika berhasil meloloskan diri dari si pemburu dan menemukan pintu keluar maka dikatakan bahwa mereka akan terbebas dan berkesempatan untuk meninggalkan tempat ini juga tidak akan pernah diteror lagi oleh gadis itu.

Yang menjadi masalah adalah—apa ada jaminan mereka akan berhasil? Atau justru mati di arena permainan. Karena sejatinya, permainan ini adalah tentang bagaimana mereka mampu bertahan hidup dari bahaya yang dipersiapkan oleh sang pemimpin permainan.

"Waktu permainan akan segera dimulai! Pergilah ... Aku akan menghitung sampai—"

"HITUNG SAMPAI SERATUS!" Lantang pelangi memberanikan diri. Walaupun terlihat jelas wajahnya yang pucat. Ia mundur beberapa langkah—menjauh sebisa mungkin.

Gadis itu berdehem, "Hem, sepakat! Aku akan menghitung sampai seratus. Dan kalian harus bersembunyi!" Ia mulai menutup mata dengan kedua tangannya, lalu menghitung.
Sementara pelangi dan sahabatnya segera berlari.
Menerobos pintu secara acak, entah pintu mana yang akan membawa mereka keluar.

sibling's Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang