—oOo—
Bella datang, berlari dari arah lorong gelap sementara suara gergaji mesin masih terdengar menggerung, meskipun tidak sekencang sebelumnya.
"Kenapa masih di sini?! Buruan lari!" Teriak Bella dengan napas tersengal, rasa frustrasi menguasai suaranya. Ia benar-benar mengira teman-temannya sudah jauh di depan, namun ternyata mereka masih berada di tempat yang sama, seolah-olah tidak menyadari betapa dekatnya bahaya.
Ara dan Aluna segera berdiri, tapi Aluna terlihat sangat lemas, wajahnya pucat dan tubuhnya gemetar. Bella menatapnya dengan penuh kekhawatiran. "Lo masih kuat, Lun?" tanyanya, meskipun sudah tahu jawaban dari ekspresi sahabatnya itu.
Aluna mengangguk lemah, namun itu tidak cukup untuk membuat Bella yakin. Dengan cepat, ia berjongkok di hadapan Aluna. "Naik punggung gue! Cepat!" titahnya tanpa memberi ruang untuk bantahan.
Aluna ragu-ragu, tapi ketika Bella membentaknya, "Aluna!", ia akhirnya menurut, memanjat ke punggung Bella dengan hati-hati.
Sambil membawa Aluna, Bella kembali berlari menyusuri labirin yang terasa seperti perangkap hidup. Lorong demi lorong yang berkelok menambah suasana mencekam, dengan hawa dingin yang seolah mengintai setiap langkah mereka.
Dari punggung Bella, Aluna dapat mencium aroma anyir darah yang kian menyengat. Ketika ia menoleh, matanya membelalak melihat darah mengalir dari luka di kepala Bella.
"Luka lo parah banget, Bel! Sebaiknya turunin gue. Gue masih kuat jalan, kok," ucap Aluna lemah, suaranya dipenuhi kekhawatiran.
Bella menggigit bibirnya, menahan rasa sakit yang kini menjalar lebih kuat. Tapi ia tidak mengindahkan permintaan Aluna. "Nggak ada waktu, Lun. Kita harus pergi sekarang juga."
Ara yang berlari di samping mereka akhirnya bersuara. "Turunin Aluna, Bel. Biar gue yang gendong dia. Lo harus nyimpen tenaga kalau mau keluar dari labirin ini."
Bella terdiam sejenak, lalu mengangguk setuju. Aluna berpindah ke punggung Ara, dan mereka mulai berlari lebih cepat, menyelaraskan langkah mereka.
Suara gergaji mesin yang mengerikan perlahan memudar, namun mereka tahu bahaya belum benar-benar hilang. Kini hanya ada derap langkah tergesa-gesa dan napas mereka yang terengah-engah, sementara di depan, labirin masih terbentang panjang tanpa ujung.
______________________________
Di tempat lain, jauh di dalam labirin, Helene berlari sekuat tenaga. Tubuhnya terasa kebas, nafasnya memburu, dan setiap inci tubuhnya memohon untuk berhenti. Tapi ia tahu, berhenti berarti menyerah pada bahaya yang tidak bisa ia lihat, namun dapat ia rasakan mengintai dari bayang-bayang.
Labirin seperti bermain-main dengannya. Dinding-dindingnya berubah-ubah, membuat Helene kehilangan arah. Hingga akhirnya, ia tiba di depan sebuah pintu logam tua yang mulai berkarat.
Dengan ragu, Helene mendorong pintu itu, membuka jalan menuju ruangan lain. Namun ruangan itu tidak menawarkan harapan-hanya ketakutan baru. Di dalamnya, labirin berubah menjadi lorong penuh cermin.
Helene berdiri terpaku, bayangan dirinya terpantul dari setiap sisi. Ia mencoba melangkah keluar, tetapi pintu yang tadi ada kini hilang, seolah ditelan cermin.
"Enggak... enggak mungkin!" bisiknya. Napasnya mulai tak beraturan, kepanikan merayap dalam pikirannya.
Ketika ia berlari, berusaha mencari jalan keluar, ia hanya bertemu dengan pantulan dirinya lagi dan lagi. Namun, di salah satu lorong, ia melihat sesosok gadis berjalan terburu-buru.
"S... Sofia?"
Helene merasa lututnya hampir goyah. Ia berlari ke arah gadis itu, namun ketika tiba di sana, ia hanya melihat bayangannya sendiri.
KAMU SEDANG MEMBACA
sibling's
DiversosJANGAN LUPA VOTE YA GUYS!!!❤️ Ini kisah pelangi yang indah disandingkan dengan Embun yang penuh dengan kesederhanaan. •Dua gadis, dengan dua karakter yang berbeda. •Kisah yang di bumbui dengan tragedi, serta teror misteri pembunuhan berantai. •sebua...
