Embun mengerjap sayu, dagunya terangkat lemah—mendongak, menatap pelangi yang tersenyum lembut. Satu tepukan lagi ia berikan di pipi sang adik sebelum ia berdiri dan bersiap kembali melawan Scarlett.
Ia melirik Aluna dan Ara sekilas. "Jagain adik gue." Lirihnya dengan senyum tipis. Sesaat kemudian sorot matanya kembali tajam.
"Cepat pergi!" Perintahnya dengan tegas sembari berdiri menatap intens pada lawan yang berdiam di depan sana.
Tak ingin membuang-buang waktu, Aluna memapah embun agar segera berdiri. Mereka lalu kembali berjalan walaupun sedikit terseok—menerobos lorong yang gelap. Sesekali embun menoleh, melihat punggung pelangi yang berdiri dengan sedikit terbungkuk.
"Kak… tinggalin embun disini. Embun mau nungguin kak pelangi." Bisik nya pada Aluna yang menggendongnya dipunggung.
"Jangan. Pelangi bilang kit—"
Ckitt
Ucapan Aluna terhenti, semua terlonjak kaget saat suara gesekan terdengar cukup kencang.
Mereka berbalik, menatap tempat dimana pelangi berdiri.
Mata mereka membulat, Ara melepaskan Larissa—membaringkannya sejenak di lantai. Ia lalu bergegas untuk melihat apa yang terjadi.
Lantai itu, lantai yang menjadi medan perkelahian mereka dengan Scarlett tiba-tiba berubah. Ada celah besar yang jika tidak hati-hati mereka pasti akan terjatuh, entah apa yang ada didalam sana.
"Kak Luna, lepasin! Aku mau tolongin kak pelangi!" Embun berontak—berusaha lepas dari Aluna. Gadis itu kemudian menyeret tubuhnya menghampiri Ara yang tertegun syok.
"Kak pelangi…"
Ara terhenyak mendengar suara embun.
Ia menunduk. Dengan cepat ia menahan gadis itu yang hampir saja terjatuh. "Hati-hati mbun! Ada lubang. Nanti embun jatuh." Ara mengingatkan.
Embun terisak, bibirnya bergetar. "Kak Ara… kakak aku gak bakalan bisa nyusul kita, kak. Kak pelangi terjebak," Racaunya dengan nada pilu. Ara jadi tidak tega. Ia merangkul embun, menepuk nepuk punggung embun.
"Jangan pesimis gitu. Pelangi pasti bisa nemuin cara lain. Kamu harus percaya sama kakak kamu itu. Oke?" Embun diam, matanya menerawang ke seberang sana.
Di saat yang sama pelangi menoleh, melempar senyum tipis pada embun. Ia tahu, sekarang dia berada dalam perangkap Scarlett.
Lantai kembali bergetar, dengan cepat Ara meraih embun yang mulai goyah—hampir terjatuh ke dalam lubang gelap di bawah sana.
"Enggak kak! Embun gak mau pergi! Kak Pelangi… kak Pelangi masih ada di sana, kak! Jangan bawa embun. Embun gak mau!" Embun menjerit saat tubuhnya di bawa paksa oleh Ara. Ia tidak ingin mendengarkan rengekan embun karena bagaimanapun, pelangi sudah mempercayakan keselamatan embun kepada mereka semua termasuk Ara.
"Kamu harus nurut! Kalau kamu kenapa-napa, kakak yang bakal ngerasa bersalah. Pelangi sendiri yang minta Kakak jagain kamu." Ara berusaha keras memberikan pengertian kepada embun tapi gadis itu menolak nya mentah mentah, ia menggeleng dengan lelehan air mata yang semakin banyak.
"Enggak kak… embun gak mau ninggalin kak Pelangi." Suaranya mulai melemah, embun merasakan sesak di dadanya saat matanya justru melihat kepulan asap membumbung—menghalangi arah pandang mereka.
Pelangi menghilang.
Hal itu membuat hati embun remuk. Ia sesegukan kecil tanpa sepatah katapun lagi yang keluar dari mulut nya.
Semua membisu. Hening menyelimuti mereka, bersama rasa putus asa yang semakin besar.
"Pelangi pasti selamat! Jadi kita juga harus berusaha selamat dari sini. Ayo, kita harus cepat temukan pintu keluar." Tangan Ara terkepal erat saat mengucapkan kalimat yang ia sendiri tidak yakin sepenuhnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
sibling's
RandomJANGAN LUPA VOTE YA GUYS!!!❤️ Ini kisah pelangi yang indah disandingkan dengan Embun yang penuh dengan kesederhanaan. •Dua gadis, dengan dua karakter yang berbeda. •Kisah yang di bumbui dengan tragedi, serta teror misteri pembunuhan berantai. •sebua...
