oOo
Bella terjatuh lemah, rasa sakit dari luka di bagian kepala belakang nya semakin menjadi, membuat segala hal yang ia lihat menjadi buram.
"Bella, Lo kenapa? Please, jangan pingsan, bel. Ayo, bangun!" Panggil Ara cemas, menepuk pipi gadis itu.
Mata Bella akhirnya kembali terbuka, namun kerutan di dahinya menandakan rasa sakit itu sukar ia tahan.
Bibir pucat nya pun tak luput dari perhatian sahabat nya yang saat ini menatapnya dengan rasa cemas.
"Kepala gue… sakit banget!" Keluh Bella. Ia sudah tidak bisa berpura-pura lagi, luka itu membuat ia hampir saja kehilangan kesadaran.
Aluna, yang walaupun masih terlihat lemas segera mendekat. Sebagai salah satu anggota PMR, Aluna paham sedikit tentang merawat luka.
Ia memeriksa luka di kepala Bella yang tak hentinya mengalirkan darah segar, itulah alasan tenaga Bella semakin lemah.
"Pendarahan nya harus diberentiin sekarang, kalau enggak… Bella bisa dalam bahaya. Karena enggak ada perban dan obat obatan, biarin pakai ini dulu, ya. Yang penting darah nya gak keluar terus." Kata Aluna sembari melilitkan kain yang ia sobek dari pakaiannya, ke kepala Bella sebagai upaya menghentikan pendarahan.
"Bella… apapun yang terjadi, lo harus bertahan, oke?" Lirih Aluna dengan mata berkaca-kaca, menggenggam tangan Bella yang basah oleh keringat dingin. Bella mengangguk sebagai jawaban, dia masih mengumpulkan tenaga agar bisa kembali berjalan karena jika berhenti terlalu lama, mereka mungkin akan tertangkap.
"Gue… udah kuat. Bantu gue bangun, terus kita lanjutin jalan." Pinta Bella, mengulurkan tangannya dan langsung di sambut oleh Ara dan Larissa, ia lalu di papah oleh keduanya, sementara Aluna di bantu oleh Sofia.
Sembari mereka berjalan, Ara sesekali melirik Bella dengan sendu.
'kalau aja dia gak maksain melawan orang itu… dia gak bakalan kayak gini.'
Ara menatap Bella dengan cemas, ia tahu, dari awal sejak mereka jatuh, Bella memang sudah terluka namun gadis itu tidak mengatakan apapun, sampai pada saat ia melawan sosok itu, ternyata lagi lagi, kepalanya mendapatkan luka yang lebih parah ketika ia terjatuh saat bertarung.
"Kita semua harus keluar, hidup-hidup…" gumam Ara penuh tekad. Bella yang mendengarnya, tersenyum kecut.
"Kalaupun gue gak bisa selamat… gue yakin kalian bisa."
Mata Bella menatap mereka satu per satu, penuh kepasrahan bercampur rasa bersalah. Bibirnya yang pucat bergetar saat mencoba memaksakan senyum tipis.
Ucapan itu membuat Ara mendelik tak suka, Larissa pun sama.
Mereka sama-sama tidak suka dengan kalimat yang keluar dari mulut Bella, bagaimanapun hubungan mereka dahulu, yang terpenting sekarang mereka adalah sahabat. Dan sebagai sahabat, mereka tidak akan membiarkan satu dari mereka menjadi korban dari labirin ini.
"Mending lo diem!" Ujar Ara dengan dingin. Bella pun terdiam karena memang tenaganya tak cukup untuk berdebat lagi.
Seluruh tubuhnya terasa lemah, lutut nya bergetar, di tambah lagi rasa sakit di kepala nya membuat semua semakin tidak nyaman.
Sudah cukup jauh mereka berjalan, namun labirin ini tidak memiliki ujung sama sekali.
Bella hampir terjatuh, tapi untungnya Ara dan Larissa sigap menahan tubuhnya.
Mereka akhirnya memutuskan untuk duduk saja dulu.
Bella terengah, matanya memejam kuat dengan, dan bersamaan dengan itu buliran peluh tak henti membasahi wajahnya.
Bella mendongak, memindai mereka satu persatu, "tinggalin gue… biarin gue disini." Gadis itu membaringkan tubuhnya yang lelah, merasa sudah tidak sanggup untuk berjalan lebih jauh.
Semua terbelalak mendengar ucapan lirih Bella. Mereka kompak menggeleng, menolak keras permintaan payah gadis itu.
"Lo gila?! Mana mungkin kita ninggalin lo!" Suara Ara pecah, matanya memerah, penuh kemarahan bercampur ketakutan.
KAMU SEDANG MEMBACA
sibling's
RandomJANGAN LUPA VOTE YA GUYS!!!❤️ Ini kisah pelangi yang indah disandingkan dengan Embun yang penuh dengan kesederhanaan. •Dua gadis, dengan dua karakter yang berbeda. •Kisah yang di bumbui dengan tragedi, serta teror misteri pembunuhan berantai. •sebua...
