"P-pelangi…" Ara bersuara dengan gemetar. Tubuhnya luruh ke lantai, nyaris kehilangan kesadaran seperti embun. Untungnya ia masih mampu menahan diri.
"Pelangi gak mungkin mati. Dia pasti masih hidup." Ara menggeleng sembari bergumam pada dirinya sendiri. Meyakinkan bahwa sahabat nya tidak akan kalah semudah itu. Walaupun terkesan tidak masuk akal tapi, keajaiban itu ada kan? Dan Ara berharap, keajaiban akan menyelamatkan pelangi dari kematian.
Ara tidak menangis, matanya seolah mengering. Namun ada rasa sakit di hatinya yang tidak bisa ia bendung. Akalnya menolak keras untuk mengakui bahwa pelangi sungguhan mati bersama Scarlett namun rasa sakit di hatinya seolah memberi isyarat bahwa, yang ia lihat adalah kenyataan. Entah. Ara tidak tahu mana yang harus ia yakini.
Tak satupun dari mereka yang bersuara, hanya tatapan mata yang tidak percaya dengan apa yang mereka lihat. Barulah setelah Ara bersuara, keadaan linglung para sahabatnya perlahan hilang dan airmata pun tidak bisa mereka bendung.
"A-ara… pelangi jatuh ke dalam sana… kita harus nolongin dia, Ra!" Aluna bersikeras dengan ucapannya. Ia beranjak dari posisinya seperti seseorang yang kehilangan akal.
"Luna tenang! Jangan gegabah!" Ara menahan Aluna. Ia segera menarik Aluna untuk kembali duduk bersamanya yang tengah memangku kepala embun.
"Kita harus bawa embun pergi dari sini."
"Pergi kemana, Ra?"
"Ketempat yang aman." Jawab Ara.
Aluna terkekeh sinis, Air mata nya tak berhenti jatuh. "Gak ada tempat yang aman, Ra! Gak ada. Lagipun ada, Lo mau ninggalin pelangi? Setelah dia mati-matian ngelawan Scarlett demi kita? Gue gak mau Ra." Aluna, entah kenapa gadis itu tiba-tiba saja bertindak tidak masuk akal.
Ara sampai menghela nafas panjang. Ia tahu, mungkin Aluna terpukul tapi ini bukan waktu yang tepat untuk menyerah dan pasrah.
"Ada lun. Pasti ada jalan keluar dan gue yakin ada tempat aman yang bisa kita tuju. Lo gak boleh pesimis gitu, lun." Ara mengguncang bahu Aluna—menyadarkan gadis yang setengah linglung itu.
Aluna menarik napas dalam-dalam seraya menatap embun yang masih tak sadarkan diri. "Terus gimana cara kita nenangin embun kalau dia bangun? Embun… dia pasti sedih banget, Ra…" Aluna menatap kasihan pada Embun.
Helene yang berdiri bak patung tiba-tiba ikut bersuara. "Sebaiknya kita pergi sekarang. Tempat ini makin gak aman." Ucapnya yang membuat Aluna menatap dengan tatapan tak senang.
Raut wajah Helene terlihat datar. Gadis itu berubah, seolah ia sudah tidak punya emosi lagi.
Bahkan sebelum mereka menimpali, Helene lebih dulu melangkah sembari tangannya menggenggam erat tangan mungil milik ana—gadis kecil yang hanya bisa menatap tak mengerti.
Mereka bingung dengan ekspresi Helene yang dahulu mereka kenal sebagai gadis penakut justru kini dengan berani ia melangkah lebih dulu tanpa tahu bahaya apa didepan sana, karena sejatinya yang terlihat hanyalah kegelapan.
Ara dan Aluna saling menatap.
"Helene kenapa?" Gumam mereka dengan wajah kebingungan.
"Jangan terlalu dipikirin, Helene pasti punya alasan kenapa dia… kayak gitu." Bella berkata dengan suara serak, ia bangun perlahan, memaksa tubuhnya untuk kuat berjalan di atas kakinya sendiri.
Aluna berdecak lirih, "tetap aja, rasanya gak pantes dia bicara dengan enteng kayak gitu, seolah-olah yang terjadi pada pelangi itu bukan hal yang serius. Ini bukan main-main. Nyawa pelangi…" ucapan nya terpotong.
Jauh dari sana, Helene melangkah dengan tatapan kosong. Di pelupuk matanya menggantung buliran bening yang hampir saja jatuh, dengan tergesa ia seka air matanya sembari menatap kesamping—menghindari ana.
KAMU SEDANG MEMBACA
sibling's
CasualeJANGAN LUPA VOTE YA GUYS!!!❤️ Ini kisah pelangi yang indah disandingkan dengan Embun yang penuh dengan kesederhanaan. •Dua gadis, dengan dua karakter yang berbeda. •Kisah yang di bumbui dengan tragedi, serta teror misteri pembunuhan berantai. •sebua...
