Bab 52 : BIHS (end)

69 8 6
                                        


****

"Jangan bunuh gue ...." Mohon nya beringsut mundur menjauhi gadis yang terus mengikis jarak kearahnya. Satu tangannya menggenggam Katana.

"Eh? Kenapa tidak boleh?" Ia berlagak lugu.

"G--gue janji ... Gue gak akan nindas orang lain lagi, tapi tolong ... Lepasin gue ... Lo u-udah nyiksa gue selama ini, seka-rang ... Tolong kasihani gue. Gue mau pulang!"

Gadis bertopeng itu tersenyum sinis.
Ia menggeleng gelengkan kepalanya. "Tidak ... Tidak ... Tidak. Aku tetap ingin membunuhmu, kamu tau kenapa?" Pancing nya dengan mengetuk ngetuk dagunya. Mendengar ucapan itu membuat gadis yang sudah tak berdaya itu menangis.

"Gue ... Gue tau. Tapi tolong  kali ini aja ... Maafin gue!"

"Aku tidak dengar! Katakan yang jelas, apa kesalahan mu? Ayo!"

Gadis itu gemetar. Cukup lama ia terdiam seperti enggan menyebutkan kesalahan macam apa yang pernah ia lakukan.
Tindakan itu justru membuat gadis bertopeng itu kesal. "CEPAT BICARA! ATAU KUROBEK MULUTMU!!" Ancamannya.

aarrrhh!!!

Gadis itu mengerang saat pisau kecil itu menembus permukaan pipi nya.

"Gu ... Gue  ... Gue nge--bunuh o--orang." Ucapnya ragu lalu tertunduk memegangi pipinya yang berlumuran darah.

"Benar! Kamu pembunuh dan hukumannya adalah—Kamu pasti tau kan?" Wajah gadis itu terangkat paksa saat dagunya di cengkeram kasar.
Ia menggeleng gusar.

"Jangan ...," isaknya.

Gadis bertopeng itu berdiri dengan tatapan mata tajam menyoroti gadis yang seperti sudah pasrah sehingga tak ada niatan untuk memohon lagi. Satu tangannya sudah mengeratkan katana di genggaman nya lalu mengayunkan nya tanpa pikir panjang, menebas apapun yang ada di hadapannya.

Aaaaaahhh!!

"TIDAAAKK!!!"

Wanita paruh baya yang entah datang dari mana itu seketika limbung ke kedepan saat matanya dipaksa menyaksikan kepala putrinya berpisah dari tubuhnya. Ia sudah berusaha berlari cepat dari ujung lorong untuk menyelamatkan putrinya tapi ...

"Naomi  sayang ... A-anak mama." Ia melirih dengan lemah, berusaha mendekat.

Tubuh itu sudah tak bernyawa. Terbaring di antara darah yang menggenang. Pemandangan itu sungguh tak manusiawi, tapi bagi gadis yang tengah berdiri tenang di hadapannya, itu merupakan sebuah pembalasan bagi orang orang yang pernah dirundung oleh gadis yang bersembunyi dengan image gadis polos tak bersalah.

"Kenapa ...?" Wanita paruh baya itu menatap kosong. Perlahan ia menengadah.

"Kenapa kamu bunuh anak saya? Kenapa? Apa salahnya?" Wanita itu bertanya kepada sembari menangis. Ia memeluk tubuh putri nya yang sudah tak utuh lagi. Mencium jemari dingin yang memutih pucat dengan darah darah yang menghiasi. Seperti disayat, hatinya terasa sangat perih melihat kematian putrinya yang begitu mengenaskan. Rasa sakit yang tadinya mendominasi tiba-tiba berganti dengan emosi ketika si gadis bertopeng tiba-tiba bersuara tanpa dosa.

"Maaf ... Tapi putrimu pantas mendapatkannya, nyonya, Hehe." Kekehnya.

Wanita itu menengadah—menatap penuh kemarahan pada sosok yang tak merasa bersalah sedikitpun setelah menghabisi nyawa putri tunggal nya, Naomi bower. Salah satu dari sekian banyak siswi yang ditakuti oleh anak anak lemah di bihs. Seorang putri konglomerat dan juga salah satu guru di sekolah ini.

"APA SALAH ANAK SAYA?!! KENAPA KAMU BUNUH DIA DENGAN KEJI?!!" wanita itu berteriak sembari menjambak rambutnya sendiri. Ia tidak bisa menerima kematian macam ini menimpa anak kesayangannya.

sibling's Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang