****
Saat pelangi membuka mata ia mendapati dirinya berada di sebuah ruangan besar dengan ornamen putih polos tanpa embel-embel warna lain.
Ia bangkit perlahan dari posisinya yang terbaring di lantai putih. Pelangi mulai berjalan menyisir ruangan tersebut tapi ia tak mendapati siapapun di sana, juga tak ada apapun selain dirinya sendiri yang tengah kebingungan.
Dinding dinding yang ia sentuh bertekstur. Terasa kasar tapi tidak tajam. Menyadari ada yang tidak beres, ia pun mundur perlahan dari dinding lalu beralih menengadah ke atap atap ruangan yang juga berwarna putih.
Semua yang ia lihat benar benar hanya satu warna, oh jangan lupakan pakaian yang melekat di tubuhnya ternyata juga berwarna putih.
"Gue dimana? Apa gue udah mati?!" Matanya membelalak. Jika itu benar bahwa ia sudah mati, apa sekarang dia berada di akhirat?
Tapi tidak! Pelangi tidak yakin dengan pemikiran nya. Untuk memastikan lagi, ia kembali berjalan mencari keberadaan pintu yang sama sekali tidak nampak.
"Dimana sih pintunya? Seharusnya kan ada pintu keluar?" Gumamnya lalu berjalan tanpa menyadari keanehan di tubuhnya sendiri.
Beberapa saat kemudian
Gadis itu melenguh. Pelangi mulai kelelahan karena terus mencari sesuatu yang sama sekali tak ada tanda-tanda keberadaan nya. Benar! Seberapapun usaha pelangi, ia tidak bisa menemukan pintu keluar dari tempat aneh ini.
Akhirnya ia pun duduk bersandar untuk menghilangkan rasa lelahnya.
Baru sesaat ia akan terpejam tiba-tiba telinga nya mendengar suara langkah ringan mendekati nya.
Sontak mata elangnya kembali terbuka dan semakin lebar saat melihat yang mendatangi nya adalah gadis bertopeng itu.
"Butuh bantuan, Nona?" Ia mengulurkan tangannya. Hanya sebagian wajahnya yang tertutup topeng dan itu membuat seringainya terlihat jelas. Pelangi menepis tangan itu lalu berdiri dengan cepat—berupaya menjauh.
Tapi, saat fokus pelangi terpecah. Gadis itu sudah berada di belakang nya. Tepat di telinga pelangi ia berbisik.
"Kamu mencari pintu keluar kan?" Pelangi menegang saat merasakan hembusan nafas gadis itu di lehernya. Ia hanya diam tak bereaksi sama sekali.
"Biar kubantu!"
Brughh
Dengan kedua tangannya ia mendorong pelangi hingga gadis itu tersungkur. Ringisan kecil terdengar sembari ia berusaha berdiri, namun saat matanya mengedar ia justru semakin kebingungan.
Benar, ia memang sudah keluar dari ruangan itu tapi ... Kali ini ia justru berada di ruangan yang didalamnya penuh dengan cermin besar yang dijadikan dinding dan sekat sekat yang bisa terputar 180 derajat.
Saat pelangi berjalan ke cela yang tidak memantulkan bayangan nya ia justru mendapati kaca tebal sebagai penghalang. Iapun kembali mundur dan mencari jalan lain namun sayangnya... Dia hanya mendapatinya dirinya terantuk berkali kali setiap ia berusaha menerobos bahkan, ia sampai terjatuh karena bersandar pada cermin yang ia pikir adalah sekat biasa yang pada kenyataannya adalah sekat yang bisa terputar.
Pelangi mulai frustasi karena tak kunjung berhasil menemukan jalan keluar. Dia hanya terus berputar-putar di dalam sana.
Tak
Tak
Suara itu membuat pelangi menoleh. Seperti suara seseorang yang sedang memukul sesuatu. Pelangi tersenyum lega. Semoga saja ia bisa mendapatkan apa yang ia harapkan. Kebebasan dari labirin cermin yang memuakkan ini.
Sekat sekat kaca itu ia terobos bahkan tak jarang ia kembali membuka sekat yang sudah ia lalui sebelumnya. Sulit rasanya menentukan arah ketika yang ia lihat hanya pantulan dirinya sendiri, tapi pelangi tidak ingin menyerah dan iapun memilih terus berjalan hingga suara suara itu semakin terdengar jelas.
KAMU SEDANG MEMBACA
sibling's
RandomJANGAN LUPA VOTE YA GUYS!!!❤️ Ini kisah pelangi yang indah disandingkan dengan Embun yang penuh dengan kesederhanaan. •Dua gadis, dengan dua karakter yang berbeda. •Kisah yang di bumbui dengan tragedi, serta teror misteri pembunuhan berantai. •sebua...
