"Dek, bangun… kakak disini. Bangun ya. Kita pulang sama-sama…"
Pelangi menyentuh tubuh adiknya yang terasa dingin. Wajahnya penuh dengan kekhawatiran terlebih ketika ia tak mendapati suara dan pergerakan apapun ketika ia memeluk gadis itu.
Detak jantungnya menghilang. Pelangi gusar, hanya dia seorang yang menyadari hal itu namun, pelangi tidak ingin mengatakannya.
Tak henti ia berbicara memanggil embun. Melirih, dengan airmata berlinang. Para sahabatnya melihat, namun mereka tidak bereaksi berlebihan karena tak ada yang tahu, kondisi embun yang sebenarnya.
Pelangi memeluk embun erat, menepuk-nepuk pipi embun yang terasa dingin. "Embun… ayo bangun, dek. Bunda nungguin embun pulang. Bangun ya sayang…"
Berkali-kali pelangi memanggil namanya, dan entah kali keberapa, usahanya akhirnya membuahkan hasil. Rasa dingin di tubuh embun perlahan hilang, degup jantung yang lemah turut pelangi dengar, demikian juga dengan deru napas lembut yang kembali pelangi rasakan.
Perlahan mata embun yang tadinya tertutup rapat, Kembali terbuka sedikit demi sedikit.
Rasa nyeri menjalar untuk sesaat, namun ketika kesadarannya Kembali sepenuhnya, raut wajah embun seketika berubah. Yang tadinya sendu, penuh rasa sakit. kini berganti dengan senyuman haru. Bibir nya sedikit gemetar saat ia mencoba bersuara, memanggil nama sang kakak yang saat ini sedang memeluknya erat. Terasa hangat dan… aman.
"Kak pelangi…"
Pelangi mengangguk-anggukkan kepalanya dengan senyum hangatnya. Ia lalu merunduk mencium kening adiknya.
"Maafin kakak…" permintaan maaf, lantaran hampir saja ia terlambat menyelamatkan adiknya. Entah bagaimana jadinya jika Pelangi datang terlambat. Mungkin embun benar benar akan pergi darinya.
Pelangi menghela nafas lega. Ia menggeleng—menepis prasangka buruk yang tadinya sempat singgah.
Ia menunduk menatap embun, "bertahan, ya?" Ucapnya sembari mengusap kepala embun dengan sayang.
Embun mengangguk. "Kalau ada kakak… embun kuat."
Ucapan embun benar adanya, pelangi yang membuat embun kuat. ketika melihat pelangi terjatuh saja tubuhnya seolah ikut menyerah. Dan, tubuh yang tadinya seolah tak ada harapan, justru terbangun ketika mendengar suara pelangi.
Begitupun sebaliknya.
Seperti pelangi yang membangunkan embun dari ambang kematian, bagi pelangi juga sama. Embun adalah alasan ia masih berusaha berdiri tangguh walaupun sudah hampir tumbang di tangan Scarlett.
Satu-satunya alasan pelangi ingin hidup hanya satu… membawa adiknya pulang dengan selamat.
Lalu, mewujudkan sebuah permintaan kecil embun yang dibisikkan tepat di telinganya.
Satu permintaan yang membuat hati pelangi mencelos.
"Kak… embun pengen foto berempat, bareng sama kakak, ayah dan juga bunda. Foto Keluarga yang utuh."
Pelangi tersenyum manis membelai wajah embun. "Ayo… kita pulang. Ketemu ayah sama bunda." Embun yang mendengar ucapan kakaknya seketika berbinar senang, penuh harap.
"Beneran kak?"
Pelangi mengangguk, hendak menjawab pertanyaan embun namun—
Bruk!
Sesuatu terjatuh tak jauh dari hadapan mereka membuat mereka semua terlonjak kaget. Mereka terdiam membisu untuk sesaat memperhatikan benda yang tergeletak di tanah, benda itu…
Bukan benda. Tapi, kepala seseorang!
"KALIAN MEMANG AKAN PULANG. TAPI BUKAN KERUMAH, MELAINKAN KE NERAKA!" Scarlett berteriak dari kejauhan—berjalan dengan langkah cepat penuh emosi. Rupanya dialah biang keladi yang melemparkan potongan kepala manusia itu. Dalam remang sosoknya terlihat jauh menyeramkan.
KAMU SEDANG MEMBACA
sibling's
RandomJANGAN LUPA VOTE YA GUYS!!!❤️ Ini kisah pelangi yang indah disandingkan dengan Embun yang penuh dengan kesederhanaan. •Dua gadis, dengan dua karakter yang berbeda. •Kisah yang di bumbui dengan tragedi, serta teror misteri pembunuhan berantai. •sebua...
