Chapter 22

8 6 0
                                        

"Sayang~~" Mama Sia segera memeluk anaknya yang tampak muram sedang duduk menunduk sambil menatap ponselnya.

"Hai ma, bagaimana perjalanannya?" Tanya Sia masih dengan wajah kusut.

"Kamu ini― tidak bahagia mama datang? Kenapa kamu terlihat seperti mayat hidup? Kamu belum makan? Apa ada yang mengganggumu di kampus?" Pertanyaan demi pertanyaan mama Sia lontarkan sambil kedua wanita itu berjalan kearah mobil anak gadisnya.

Namun gadis itu hanya menjawab dengan gelengan kepala atau anggukkan kepala, tidak berniat menceritakan keluh kesahnya.

"Kita langsung pulang ya ma?" Tanya Sia setelah mamanya selesei memasukkan koper dan beberapa perlengkapan acara ke dalam bagasi mobilnya.

"Tunggu dulu sayang. Ada barang yang belum mama beli. Kita mampir ke mall sebentar ya." Kata mama Sia sambil menutup bagasinya.

Gadis itu ingin segera pulang dan menghubungi Hyunjin lagi. Namun sepertinya sang mama tidak mengerti kepenatannya.

Sedari tadi mamanya sibuk menceritakan perihal konsep acara yang sudah beliau siapkan, bagaimana dekorasinya, tatanan meja dan kursinya, letak bunga dan panggung acaranya bahkan jika ada kemungkinan-kemungkinan yang tidak sesuai harapan, mama Sia sudah mengantisipasinya.

Sia menghela nafas berat di tengah-tengah penjelasan sang mama.

"Kenapa sayang~? Daritadi kamu terlihat muram." Mama Sia mengelus lembut kepala anak semata wayangnya.

"Biasanya jam segini aku sudah dikamar dan mendengarkan suara pacar pertama Sia. Mama mengganggu waktu pacaranku saja." Kesal Sia.

Sebenarnya Sia sejak tadi sudah ingin menggerutu pada mamanya karena membuatnya tidak bisa memiliki banyak waktu dengan pacarnya selama sebulan ini.

Namun jawaban mamanya malah membuat Sia terdiam seketika.

"Kamu ini! Jangan terlalu sering bersama pacarmu."

"Ingat kamu akan segera bertunangan. Putuskan pacarmu dan seriuslah pada calon tunanganmu, Yoon Sia." Tegur sang mama.

Gadis itu hanya terdiam sambil mengemudikan mobilnya, jika sudah membahas ini mamanya akan mengomel panjang lebar. Pembicaraan tentang perjodohan dan pertunangan yang selalu membuat telinga Sia panas.

"―sudah mama bilang berkali-kali, jangan terlalu terikat dengan pacarmu. Bahagia sewajarnya, sedih sewajarnya. Jangan sampai hubunganmu dengannya membuat pertunanganmu batal." Entah sedari tadi mamanya berkata apa, yang jelas Sia baru kembali fokus pada ucapan mamanya saat dia memarkir kendaraannya di basement mall.

"Kamu mendengarkan mama, tidak?" Tanya mamanya saat melihat anaknya itu semakin cemberut melihat ponselnya dalam keadaan mati.

"Dengar ma." Jawab Sia singkat.

"Lalu kenapa masih sangat ingin menghubungi pacarmu?"

Sia menatap mamanya bingung.

"Mama melihatmu, Sia. Wajah sedihmu, tindakan terburu-burumu, mulutmu yang cemberut, semua karena kamu ingin segera menelepon pacarmu, kan?" Tanya mamanya.

"Aku―" Ucapan si gadis terpotong.

"Kenapa? Kamu ingin menolak perjodohan ini lagi?" Desak mama Sia.

"Aku mencintai pacarku, ma. Lagipula bukan jamannya lagi untuk perjodohan." Tolak Sia lembut.

Mama Sia tersenyum mendengar penolakan anaknya.

"Sudah setahun lebih dia tidak ke korea sejak penolakanmu setahun yang lalu, akan lebih baik kamu dan dia kembali saling mengenal, nak. Dia menunjukkan bahwa dia benar-benar mencintaimu dengan tulus. Dia bahkan memberimu waktu untuk memikirkannya ulang. Temui dia lagi dan putuskan kamu mau menerima perjodohan ini― atau kamu benar-benar akan menolaknya." Ucap mama Sia sambil mengelus lembut puncak kepala anaknya.

Love UntoldTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang